Detail Artikel

Air Bah Merenggut Napas Tanah Borneo: Banjir Bandang Melanda Kalimantan Selatan

 Air Bah Merenggut Napas Tanah Borneo: Banjir Bandang Melanda Kalimantan Selatan

Banjarbaru, 28 Desember 2025- Di penghujung tahun yang seharusnya membawa harapan baru, langit Kalimantan Selatan justru menangis deras. Sejak Jumat malam, 26 Desember 2025, hujan deras bagai tirai air yang tak kunjung usai mengguyur Pegunungan Meratus, memicu banjir bandang yang ganas dan tak kenal ampun. Air bah yang mengamuk itu menyapu permukiman, merendam rumah hingga atapnya, dan memaksa ribuan jiwa meninggalkan segala yang mereka cintai dalam sekejap.

Di **Kabupaten Balangan**, pusat amukan alam ini, banjir bandang menerjang Kecamatan Tebing Tinggi, Halong, dan Awayan dengan kekuatan yang mengerikan. Tinggi muka air mencapai lebih dari dua meter, menyentuh atap rumah-rumah sederhana warga. Sebanyak 1.615 kepala keluarga terdampak, dengan ratusan rumah rusak sedang hingga berat. Beberapa warga, dalam kepanikan yang menusuk kalbu, terpaksa bertahan di lemari atau naik ke loteng, menanti pertolongan yang datang di tengah gelap malam. Kapolres Balangan, AKBP Yulianor Abdi, yang turun langsung ke lokasi, menggambarkan kondisi sebagai "banjir terparah dalam beberapa waktu terakhir". Kini, saat air mulai surut, lumpur tebal menyisakan luka mendalam di hati para korban.

Tak kalah pilu, di **Kabupaten Hulu Sungai Selatan**, Desa Pariangan menjadi saksi bisu evakuasi massal yang mengharukan. Tim SAR gabungan, termasuk personel Brimob Polda Kalsel, berjuang hingga dini hari menyelamatkan hampir 3.000 jiwa—tepatnya 2.895 warga, termasuk balita dan lansia yang rapuh. Mereka dievakuasi ke alun-alun Kota Kandangan, tempat pengungsian sementara yang kini menjadi rumah bagi kisah-kisah duka dan ketabahan.

Banjir ini tak hanya menyentuh dua kabupaten; luapannya merembet ke wilayah lain seperti Hulu Sungai Tengah, Banjar, Tanah Laut, hingga Tabalong. Sungai-sungai yang biasanya menjadi nadi kehidupan kini berubah menjadi monster yang menelan akses jalan, memutus listrik, dan mengganggu segala aktivitas. Curah hujan ekstrem menjadi biang keladi utama, diperparah oleh kerusakan lingkungan jangka panjang—deforestasi akibat tambang batubara dan perkebunan sawit yang telah merampas hutan penyangga.

Di balik derita ini, ada sinar harapan dari respons cepat pemerintah. Gubernur Kalimantan Selatan telah menetapkan status siaga bencana sejak November lalu, memungkinkan evakuasi dan distribusi bantuan berjalan lebih lancar. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan tak henti bekerja, membersihkan lumpur dan menyediakan logistik. Bupati Balangan, Abdul Hadi, menegaskan prioritas pemulihan rumah rusak dan trauma warga.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mengeluarkan peringatan: hujan lebat berpotensi berlanjut hingga akhir Desember, terutama di wilayah pesisir yang rawan rob. Masyarakat diimbau tetap waspada, memantau informasi resmi, dan saling bahu-membahu.

Banjir ini bukan sekadar bencana alam; ia adalah cermin dari luka bumi yang kita torehkan sendiri. Di tengah tangis air bah, semangat gotong royong bangsa Borneo tetap menyala, mengingatkan kita bahwa dari duka terdalam, sering lahir kekuatan baru. Semoga air segera surut, dan harapan kembali mengalir deras bagi tanah yang tercinta ini.

(Sumber: Laporan BNPB, BPBD Kalsel, ANTARA, serta update terkini dari media nasional dan lokal pada 28 Desember 2025)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'