Amal Jariyah dan Dosa Jariyah: Ketika Pengaruh Manusia Tetap Hidup Setelah Kematian Ustaz Irfan El Jawas: Kebaikan yang Diajarkan dan Diamalkan Orang Lain Dapat Menjadi Investasi Pahala yang Terus Mengalir
Amal Jariyah dan Dosa Jariyah: Ketika Pengaruh
Manusia Tetap Hidup Setelah Kematian
Ustaz Irfan El Jawas: Kebaikan yang Diajarkan dan Diamalkan Orang Lain Dapat Menjadi Investasi Pahala yang Terus Mengalir
DENPASAR,
Suara Umat.id – Kematian
mengakhiri perjalanan fisik manusia di dunia, tetapi tidak selalu mengakhiri
jejak perbuatannya. Ada manusia yang telah lama meninggalkan dunia, namun
namanya tetap hidup melalui ilmu yang diwariskan, anak-anak yang dididik, dan
kebaikan yang terus diamalkan orang lain. Sebaliknya, ada pula keburukan yang
terus menjalar karena pernah diajarkan, dicontohkan, dan diwariskan kepada
generasi berikutnya.
Pesan
tersebut mengemuka dalam sesi tanya jawab Kajian Senin Sore bertajuk Tafsir
At-Tanwir yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Kota Denpasar, Senin (2/11/2026), di SD Muhammadiyah 2 Denpasar. Pemateri,
Ustaz Irfan El Jawas, Lc., Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah Denpasar,
menjelaskan bahwa pengaruh manusia tidak selalu berhenti ketika hayat terpisah
dari raga.
Pembahasan
berawal dari pertanyaan jamaah mengenai dosa pembunuhan yang dapat terus
mengalir akibat seseorang menjadi pelopor keburukan. Jamaah kemudian
mempertanyakan apakah prinsip serupa juga berlaku bagi perbuatan baik. Apakah
seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain akan terus memperoleh
pahala ketika kebaikan itu diamalkan oleh generasi berikutnya?
Menjawab
pertanyaan tersebut, Irfan menjelaskan bahwa Islam mengenal keberlanjutan
pahala melalui amal jariyah, termasuk ilmu yang bermanfaat dan keteladanan yang
diikuti orang lain.
"Kalau
seseorang menggagas pendidikan, memotivasi orang lain untuk berbuat baik,
kemudian kebaikan itu terus berlangsung, maka pahalanya akan sampai
kepadanya," demikian
inti penjelasannya.
Kebaikan yang diwariskan, pahala yang berkelanjutan
Dalam
Islam, amal saleh tidak hanya bernilai bagi orang yang mengerjakannya secara
langsung. Seseorang juga dapat memperoleh pahala karena menjadi sebab lahirnya
kebaikan yang dilakukan orang lain, selama memenuhi ketentuan yang diajarkan
Rasulullah SAW.
Irfan
memberikan contoh sederhana tentang seorang guru yang mengajarkan salat sunah
qabliyah kepada murid-muridnya. Ketika murid tersebut memahami, kemudian
mengamalkan dan mengajarkannya kembali kepada orang lain, kebaikan itu dapat
menjadi jalan mengalirnya pahala bagi orang yang pertama kali mengajarkannya.
Demikian
pula orang tua yang membiasakan anak-anaknya melaksanakan salat, mengajarkan
bacaan Al-Fatihah, serta mengenalkan ibadah sejak dini.
Ketika anak
tumbuh menjadi pribadi yang taat, kemudian terus menjalankan ibadah yang
diajarkan orang tuanya, pendidikan tersebut menjadi investasi kebaikan yang
nilainya tidak berhenti pada masa kanak-kanak.
"Ajarkan
kepada anak. Kalau orang tua mengajarkan anak salat qabliyah dan ba'diyah,
serta bacaan salat, selama anaknya mengamalkan apa yang diajarkan itu,
kebaikannya dapat menjadi pahala bagi orang tuanya," jelasnya.
Pesan ini
memperlihatkan betapa pentingnya pendidikan agama dalam keluarga. Rumah bukan
sekadar tempat anak tumbuh secara fisik, tetapi juga ruang pertama tempat
nilai, kebiasaan, dan karakter dibentuk.
Orang tua
tidak hanya mewariskan harta, nama, atau kedudukan. Mereka juga mewariskan cara
beribadah, akhlak, dan pandangan hidup. Apa yang ditanamkan hari ini dapat
menjadi cahaya yang menerangi perjalanan anak-anaknya pada masa mendatang.
Islam mengenal jejak kebaikan dan jejak keburukan
Irfan
kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan dua konsekuensi moral dalam
kehidupan manusia, yakni keberlanjutan amal kebaikan dan keberlanjutan dosa
akibat menjadi pelopor keburukan.
Dalam
khazanah kajian Islam, konsep ini berkaitan dengan hadis Rasulullah SAW tentang
orang yang mengajak kepada petunjuk dan orang yang mengajak kepada kesesatan.
Rasulullah
SAW bersabda:
Man da'a
ila hudan kana lahu minal-ajri mitslu ujur man tabi'ahu, la yanqushu dzalika
min ujurihim syai'a. Wa man da'a ila dhalalatin kana 'alaihi minal-itsmi mitslu
atsemi man tabi'ahu, la yanqushu dzalika min atsamihim syai'a.
Artinya,
barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia memperoleh pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia menanggung dosa seperti
dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Hadis
tersebut menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab bukan hanya terhadap
perbuatannya sendiri, tetapi juga terhadap pengaruh yang ditimbulkannya.
Seseorang
yang memperkenalkan kebaikan dapat menjadi pintu lahirnya banyak kebaikan.
Sebaliknya, orang yang menanamkan keburukan dapat menjadi sebab lahirnya
kerusakan yang meluas.
Setiap
manusia pada dasarnya sedang meninggalkan jejak. Persoalannya, apakah jejak itu
akan menjadi jalan kebaikan atau justru sumber keburukan bagi orang-orang yang
datang setelahnya?
Anak dan murid: ladang investasi akhirat
Dalam
penjelasannya, Irfan memberikan perhatian khusus kepada peran orang tua dan
guru. Keduanya memiliki posisi penting dalam membentuk generasi yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi keimanan dan
akhlak.
Mengajarkan
anak membaca Al-Qur'an, membimbingnya salat, membiasakan kejujuran, serta
menanamkan kepedulian kepada sesama merupakan bagian dari pendidikan yang
dampaknya dapat melampaui usia orang yang mendidiknya.
Begitu pula
seorang guru. Ilmu yang disampaikan dengan niat baik dan diamalkan murid dapat
menjadi warisan yang terus memberi manfaat. Seorang guru mungkin tidak lagi
berada di ruang kelas, tetapi pengetahuan dan nilai yang pernah ditanamkannya
tetap hidup dalam tindakan para murid.
Di sinilah
pendidikan menemukan makna yang lebih dalam. Keberhasilan seorang pendidik
tidak hanya diukur dari nilai akademik yang diperoleh peserta didik, tetapi
juga dari kebaikan yang terus tumbuh dalam kehidupan mereka.
Pendidikan
terbaik bukan hanya menghasilkan orang yang mengetahui kebaikan, melainkan
melahirkan manusia yang mengamalkan dan meneruskan kebaikan tersebut.
Alam barzakh dan bekal yang ditinggalkan manusia
Pembahasan
kemudian kembali bersinggungan dengan kehidupan setelah kematian. Irfan
mengaitkan keberlanjutan amal dengan pertanyaan tentang mengapa manusia berada
dalam alam barzakh sebelum datangnya hari kebangkitan dan pengadilan akhirat.
Dalam
pemaparannya, ia mengajak jamaah merenungkan bahwa kehidupan manusia tidak
dapat dilepaskan dari pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat selama
di dunia.
Namun,
ajaran Islam juga menghadirkan harapan. Kematian tidak serta-merta memutus
seluruh manfaat dari kebaikan yang pernah ditanamkan seseorang. Anak saleh yang
mendoakan orang tuanya, ilmu bermanfaat, dan sedekah jariyah merupakan bagian
dari amal yang disebut dalam hadis Rasulullah SAW.
Dalam hadis
riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal
dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Ketiga hal
tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bukan sekadar tentang apa
yang berhasil dikumpulkan seseorang, melainkan juga tentang apa yang
ditinggalkan untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Harta dapat
habis, jabatan dapat berakhir, dan usia memiliki batas. Namun, ilmu yang
bermanfaat dapat terus menerangi kehidupan, sedekah dapat terus memberikan
manfaat, dan doa anak saleh menjadi penghubung kebaikan bagi orang tuanya.
Meninggalkan dunia, tetapi tidak meninggalkan
kebaikan
Pesan yang
dapat dipetik dari dialog tersebut adalah pentingnya membangun kehidupan yang
memiliki dampak melampaui kepentingan pribadi. Setiap orang, apa pun profesi
dan kedudukannya, memiliki kesempatan untuk menanam kebaikan.
Orang tua
dapat memulainya dari rumah. Guru dapat memulainya dari ruang kelas. Pemimpin
dapat memulainya melalui kebijakan yang membawa kemaslahatan. Sementara
masyarakat dapat memulainya dengan membiasakan perilaku baik yang kemudian
ditiru oleh lingkungan sekitarnya.
Dalam
semangat pendidikan dan pencerahan yang menjadi perhatian Muhammadiyah, ilmu
seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi amal
yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pada
akhirnya, manusia tidak sepenuhnya dinilai dari panjangnya usia atau besarnya
pencapaian duniawi. Ada ukuran lain yang jauh lebih mendalam: seberapa banyak
kebaikan yang tumbuh karena kehadirannya.
Sebab,
kemuliaan seseorang bukan hanya terletak pada apa yang dikerjakannya semasa
hidup, melainkan juga pada kebaikan yang tetap berjalan setelah ia tiada.
Maka,
sebelum waktu menutup perjalanan, setiap manusia patut bertanya kepada dirinya
sendiri: apakah kehadiran kita sedang menanam benih kebaikan, atau justru
meninggalkan jejak keburukan?
Sebab,
kelak kita mungkin telah tiada, tetapi apa yang pernah kita ajarkan, contohkan,
dan wariskan dapat terus hidup dalam kehidupan orang lain.
(RAYD)



