Amplop yang Tak Bersuara
Amplop yang Tak Bersuara
Malam selepas Isya, spanduk bertuliskan POSKO BERSAMA itu perlahan diturunkan. Tak ada upacara meriah, tak ada sorak-sorai seperti Agustusan. Hanya kesunyian yang menyertai. Bali masih berduka, sepekan sudah banjir berlalu, meninggalkan jejak luka yang tak mudah hilang.
Di dalam Rumah Makan Bundo Kanduang, yang selama ini menjadi saksi denyut kepedulian, masih tersisa satu spanduk kecil. Tak banyak, tapi cukup menjadi pengingat: di sini pernah lahir solidaritas, di sini pernah tumbuh harapan.
Perencanaan penutupan posko sudah disusun: ada penghargaan untuk donatur, konseling gratis, permainan anak-anak, hingga door prize bagi para korban. Semua dirancang untuk menutup masa darurat dengan senyum dan doa. Sebab, mungkin tak ada lagi bantuan yang akan datang. Seperti air banjir yang surut, begitu pula aliran donasi yang mulai kering.
Tak akan ada lagi amplop-amplop berisi lembaran merah, biru, hijau, yang terselip di antara sembako dan pakaian layak pakai. Semua seperti lumpur banjir—perlahan mengering, lalu beterbangan bagai pasir yang tersapu angin.
Namun, pada Jumat, 19 September 2025, sebuah peristiwa kecil menggetarkan hati. Relawan sudah berkumpul, ibu-ibu menata ruangan, undangan pembicara sudah siap terkirim, sertifikat mulai dicetak. Semua tampak sibuk, sementara sebuah amplop tergeletak sepi di meja. Diam, membeku, tanpa suara, tanpa warna. Hampir saja terabaikan.
Penulis yang hendak pulang demi tugas keluarga, sempat meliriknya sekilas. Tak ada yang istimewa. Hingga suara H. Imam memecah suasana, berteriak sambil berlari, menyerahkan amplop itu dengan senyum penuh arti.
“Mas, ini ada sumbangan… lima juta dari donatur.”
Sekejap, keheningan berubah jadi haru. Masya Allah. Masih ada orang yang peduli.
Bagi sang donatur, mungkin senyum korban belum cukup, tawa anak-anak belum memuaskan. Ia menargetkan sesuatu yang lebih tinggi: kebahagiaan hakiki. Ia pandai berniaga di hari Jumat—hari yang dijanjikan penuh keberkahan.
Hanya orang beriman yang berani berniaga dengan Allah, menukar harta dengan pahala, mengharap ridha dari arah yang tak terduga.
Andaikan banyak yang seperti dia—yang tetap berjalan ketika orang lain berhenti, berlari ketika banyak memilih berjalan santai, mendaki ketika yang lain mulai berkemah. Maka puncak kemanusiaan akan lebih cepat tercapai: saat memberi bukan lagi soal jumlah, melainkan ketulusan.
Amplop itu memang tak bersuara. Tapi isinya telah berbicara lantang tentang iman, tentang harapan, tentang kemanusiaan yang tak pernah surut, bahkan ketika air sudah mengering. (RAYD)
Rek. PT. MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967*



