Detail Artikel

Angklung ALBA: Irama Bahagia dari Para Maestro Lansia

Angklung ALBA: Irama Bahagia dari Para Maestro Lansia

Denpasar, 15 Juni 2025 — Dalam harmoni nada yang bergetar lembut dari tabung-tabung bambu, hadirin di acara Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-27 di Denpasar dibuat terpukau, haru, sekaligus tersenyum geli. Di tengah panggung, berdiri tegak para pemain angklung berjubah semangat: mereka adalah ALBAAnsambel Lansia Bahagia.

Ya, mereka tak muda usia, tapi muda dalam jiwa.
Ya, tangan mereka mungkin tak secepat dulu, tapi gerak mereka lebih penuh makna.


ALBA: Simfoni dari Para Pemanen Cahaya

ALBA bukan sekadar nama, tapi simbol. Mereka adalah para lansia yang menolak diam di pojok usia. Alih-alih mengisi hari dengan keluh, mereka memilih mengguncang panggung—dengan angklung di tangan dan senyum tak lekang di wajah.

Dalam penampilan spesial HLUN ke-27, ALBA membawakan sejumlah lagu bernuansa ceria dan nasionalisme. Dari “Rayuan Pulau Kelapa” hingga “Bengawan Solo”, irama berganti tapi rasa tetap sama: damai, optimis, dan penuh cinta pada negeri.

Salah satu penonton, seorang ibu muda sambil menimang balita, berujar lirih,“Ini bukan konser musik. Ini kuliah kehidupan.”


Irama, Terapi, dan Tawa

Tak semua nada angklung mereka berdenting sempurna. Beberapa kadang meleset satu ketukan—tapi justru di situlah keindahannya. Saat satu pemain angklung tersenyum malu karena telat masuk, yang lain menepuk bahunya sambil berseru,“Namanya juga orkestra penuh pengalaman!”

Mereka membuktikan bahwa tertawa bersama itu juga terapi, dan bunyi yang sedikit miring bukanlah kegagalan—itu hanyalah bumbu agar nada kehidupan lebih berwarna.


Lebih dari Musik: Pesan yang Menggetarkan

ALBA mengajarkan bahwa menjadi lansia bukan akhir dari produktivitas, tapi babak baru dari kebijaksanaan. Dengan angklung di tangan, mereka menyampaikan pesan diam-diam yang menyentuh:
Bahwa tangan keriput masih bisa mencipta nada,
Bahwa usia senja masih mampu menabuh semangat,
Bahwa hidup, selama masih berdetak, harus tetap berdenting.


Lansia Tidak Turun Panggung, Mereka Pindah Panggung

Kalau masa muda adalah panggung ambisi, maka masa tua adalah panggung inspirasi. ALBA menjadi contoh hidup bahwa semangat tak punya masa kadaluarsa. Mereka tidak hanya bermain musik; mereka memainkan semangat bangsa.

Dalam dunia yang sering kali meminggirkan lansia dari ruang publik, ALBA bersuara melalui bambu:“Kami masih di sini. Kami masih ingin terdengar. Dan kami inginahagia.”


PenutupyangMenggetarkanJiwa

Kala nada terakhir angklung bergema, semua hadirin berdiri. Ada tepuk tangan, ada air mata, dan yang terpenting—ada kesadaran baru: bahwa para lansia bukan hanya untuk dirawat, tapi juga untuk dirayakan.

Karena seperti angklung yang baru berbunyi bila digoyang bersama-sama, bangsa ini juga baru harmonis bila semua usia—muda hingga lanjut—dilibatkan bersama.

Penampilan ALBA jadi salah satu momen paling berkesan HLUN 2025.
Pesan mereka sederhana: lansia bukan tinggal cerita lama, tapi nada yang tetap bisa menggetarkan dunia.

Dilaporkan oleh: [Chef RAYD) 
Untuk Lantipda Provinsi Bali

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'