Anis Matta: Konflik Palestina Telah Menjelma Menjadi Pergulatan Geopolitik Dunia
Ketika Bali Membaca Palestina: Menakar Peran
Indonesia di Tengah Gejolak Timur Tengah
Anis Matta: Konflik Palestina Telah Menjelma
Menjadi Pergulatan Geopolitik Dunia
DENPASAR,
Suara Umat.id —
Palestina tidak lagi berdiri sebagai satu titik konflik yang terisolasi. Perang
yang bermula dari tanah Palestina, dalam pembacaan Wakil Menteri Luar Negeri
Republik Indonesia, H. Muhammad Anis Matta, Lc., telah berkembang menjadi
pusaran konflik regional yang berkelindan dengan perebutan pengaruh, jalur
energi, perdagangan, dan perubahan keseimbangan kekuatan dunia.
Pandangan
itu disampaikan Anis Matta dalam Dialog Keumatan dan Kebangsaan yang
digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali di HARRIS Hotel &
Conventions Denpasar, Ahad, 13 September 2026.
Forum
tersebut mengangkat tema “Peran Indonesia dalam Mewujudkan Kemerdekaan
Bangsa Palestina di Tengah Konflik AS & Israel vs. Iran.” MUI Bali
secara resmi menyelenggarakan dialog itu untuk membahas perkembangan geopolitik
Timur Tengah sekaligus mempertajam pembacaan mengenai perjuangan kemerdekaan
Palestina.
Namun, Anis
Matta membawa pembahasan jauh melampaui Palestina.
Ia mengajak
peserta melihat peta dunia Islam, posisi geografis Timur Tengah, jalur
perdagangan dan energi, hingga perubahan keseimbangan kekuatan antara Amerika
Serikat, China, Eropa, Israel, dan negara-negara di kawasan.
“Yang kita
bicarakan pada hari ini bukan hanya tentang Palestina,” demikian substansi awal
paparannya.
Menurut
Anis, persoalan Palestina kini telah berkembang menjadi perang yang dimensinya
semakin luas. Konflik tersebut, dalam paparannya, tidak lagi sekadar
memperhadapkan Palestina dan Israel, tetapi telah menyeret negara-negara lain
dan berpotensi menciptakan dampak ekonomi serta politik yang melampaui kawasan
Timur Tengah.
Timur Tengah dan Persimpangan Tiga Benua
Untuk
menjelaskan mengapa Timur Tengah memiliki posisi strategis, Anis memulai
paparannya dengan sebuah peta.
Ia
menunjukkan bahwa kawasan tersebut berada di persimpangan tiga benua—Asia,
Afrika, dan Eropa. Posisi geografis itu, menurut dia, menjadikan Timur Tengah
sejak berabad-abad lalu sebagai salah satu kawasan paling strategis dalam
sejarah perebutan kekuasaan dunia.
Di kawasan
itu pula terdapat sejumlah jalur laut yang menjadi urat nadi perdagangan
global, termasuk Laut Merah, Laut Mediterania, Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Anis
kemudian menghubungkan posisi geografis tersebut dengan persoalan energi dunia.
Dalam
paparannya, kawasan Teluk disebut menyimpan bagian sangat besar dari cadangan
minyak dunia. Karena itu, gangguan terhadap jalur pelayaran dan distribusi
energi dari kawasan tersebut bukan hanya menjadi persoalan negara-negara Timur
Tengah, melainkan dapat merambat ke Asia dan perekonomian global.
Indonesia,
yang berada di ujung timur dunia Islam, menurut Anis, tidak dapat sepenuhnya
memisahkan diri dari gejolak tersebut.
Dari Palestina ke Perang yang Lebih Luas
Anis
melihat perkembangan konflik Palestina dalam beberapa tahun terakhir sebagai
sesuatu yang terus mengalami eskalasi.
Ia
menggambarkan bagaimana konflik yang berpusat di Palestina kemudian
bersinggungan dengan Lebanon, Yaman, Suriah, hingga Iran. Keterlibatan Amerika
Serikat dalam konflik dengan Iran, menurut dia, semakin memperluas dimensi
perang tersebut.
Karena itu,
persoalan Palestina dalam pandangan Anis tidak cukup dibaca melalui hubungan
Palestina-Israel semata.
Peta
konfliknya telah berubah.
Ada
persoalan militer, energi, perdagangan, aliansi politik, teknologi, hingga
perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan global.
Di titik
inilah Anis membawa pembahasannya kepada perubahan struktur kekuatan dunia.
Amerika, China dan Perang Supremasi
Menurut
Anis, dunia juga sedang menyaksikan pertarungan yang lebih besar antara Amerika
Serikat dan China.
Ia menyebut
perubahan keseimbangan kekuatan global tersebut sebagai bagian dari apa yang ia
sebut sebagai “perang supremasi.”
Dalam
paparannya, persaingan Amerika-China tidak berlangsung semata-mata melalui
perang terbuka. Ia berlangsung melalui berbagai instrumen—ekonomi, politik,
teknologi, media, dan budaya.
Anis
menggunakan istilah perang hibrida untuk menggambarkan pertarungan
tersebut.
China,
menurut pembacaan Anis, menghadapi tekanan dari berbagai arah. Sementara
Amerika Serikat juga menghadapi persoalan ekonomi dan beban domestiknya
sendiri.
Dunia,
dengan demikian, tidak sedang berada dalam situasi yang sederhana.
Perang
Palestina, perang Rusia-Ukraina, serta ketegangan di kawasan Indo-Pasifik
menurut Anis harus dibaca sebagai bagian dari perubahan besar dalam sistem
internasional.
Energi, Harga dan Ancaman Krisis Baru
Salah satu
kekhawatiran yang disampaikan Anis adalah dampak perang terhadap rantai pasok
energi.
Jika jalur
strategis di Timur Tengah terganggu, efeknya menurut dia dapat menjalar ke
negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan
tersebut.
China,
India, negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara disebut sebagai bagian dari
kawasan yang sangat berkepentingan terhadap stabilitas jalur energi Timur
Tengah.
Dampaknya
tidak berhenti pada harga minyak.
Anis juga
mengingatkan kemungkinan munculnya persoalan pada pupuk dan ketahanan pangan,
mengingat sejumlah negara kawasan Teluk memiliki posisi penting dalam rantai
pasok energi dan bahan baku industri.
Dengan kata
lain, perang yang berlangsung ribuan kilometer dari Indonesia dapat menemukan
jalannya menuju kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia—melalui harga
energi, biaya produksi, pangan, perdagangan, dan inflasi.
Israel dan Jalan Normalisasi
Bagian lain
dari paparan Anis menyoroti posisi Israel.
Ia menilai
dukungan terhadap Israel di sejumlah negara Barat menghadapi perubahan,
terutama karena munculnya generasi baru yang memiliki pandangan berbeda
terhadap konflik Palestina.
Dalam
pembacaannya, Israel juga menghadapi kebutuhan untuk memperluas legitimasi dan
hubungan diplomatiknya di dunia Islam.
Anis
kemudian menyoroti upaya normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara
Muslim.
Menurutnya,
terdapat dua negara yang memiliki arti strategis apabila hubungan dengan Israel
mengalami perubahan lebih jauh: Arab Saudi dan Indonesia.
Keduanya,
menurut Anis, memiliki bobot politik yang berbeda dibandingkan sejumlah negara
lain yang telah membuka hubungan dengan Israel.
Di sinilah
posisi Indonesia menjadi penting dalam kalkulasi geopolitik yang ia paparkan.
Indonesia di Tengah Pusaran
Bagi
Indonesia, persoalan tersebut menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana.
Bagaimana
mempertahankan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, sembari tetap
menjalankan politik luar negeri yang mampu membaca perubahan keseimbangan
kekuatan dunia?
Bagaimana
Indonesia dapat memainkan peran ketika konflik Palestina telah terhubung dengan
pertarungan kekuatan global?
Dan sejauh
mana suara Indonesia dapat memengaruhi arah penyelesaian konflik?
Pertanyaan-pertanyaan
itu menjadi ruh dari dialog yang digelar MUI Bali.
Dalam surat
resminya, MUI Provinsi Bali menegaskan bahwa dialog tersebut merupakan bagian
dari upaya menjaga konsistensi dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina
sekaligus membahas perkembangan geopolitik Timur Tengah secara komprehensif.
Dari Mimbar Keumatan ke Diplomasi Negara
Sebelum
Anis Matta menyampaikan paparannya, moderator M. Zainal Abidin, S.H.,
memperkenalkan forum sebagai ruang dialog antara persoalan keumatan dan
kebangsaan.
Ia
menekankan bahwa peserta tidak hanya akan mendengar paparan, tetapi juga
memiliki kesempatan berdialog mengenai sejumlah pertanyaan yang berkembang di
tengah masyarakat: Palestina, Israel, Iran, hingga dampaknya terhadap situasi
geopolitik dunia.
Format
tersebut memang telah dirancang dalam agenda resmi MUI Bali. Setelah paparan
utama Wamenlu selama 70 menit, peserta dijadwalkan mengikuti sesi diskusi dan
tanya jawab selama 50 menit.
Sebelumnya,
Ketua Umum MUI Provinsi Bali Drs. H. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I.,
memberikan sambutan dan menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta
dalam forum tersebut.
Mahrusun
menjadi pengantar bagi sebuah percakapan yang mempertemukan suara keumatan
dengan perspektif diplomasi negara.
Sebab
Palestina, pada akhirnya, bukan hanya tentang sebuah wilayah di peta.
Ia adalah
tentang manusia, sejarah, hukum internasional, kepentingan nasional, dan
pertarungan kekuatan yang terus bergerak.
Dan dari
Denpasar, pertanyaan itu kembali diletakkan di atas meja:
Ketika
perang semakin melebar dan keseimbangan dunia berubah, di mana Indonesia
berdiri—dan seberapa jauh Jakarta mampu mengubah posisi itu menjadi kekuatan
diplomasi bagi kemerdekaan Palestina?
Paparan
Anis Matta menjadi bagian utama dialog MUI Bali yang selanjutnya dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab bersama peserta. (RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



