Detail Artikel

Anjing Bule, Bahasa kita berbeda

Anjing Bule, Bahasa Kita Berbeda

Baru saja motorku parkir, tiba-tiba seekor anjing hitam besar mendekat. Bulunya lebat, badannya tinggi, sekilas mirip anak sapi. Refleks aku coba usir dengan bahasa lokal, "Sek sek!"—tapi tak ada reaksi. Ah, mungkin dia anjing pendatang, nggak paham bahasa daerah.

Fenomena anjing ras memang sedang viral di Bali. Di setiap gang, di perumahan, di tempat yang dulu hanya dihuni oleh anjing lokal berbulu kasar dan bertelinga tegak, kini sering terlihat sosok anjing-anjing "bule". Ada yang bergaya Rin Tin Tin, ada yang berwarna khas Dalmatian, bahkan ada yang mungkin masih punya hubungan darah dengan Scooby-Doo.

Tapi tidak semua anjing bule ini bernasib baik. Beberapa yang dulunya dielus di rumah mewah, kini harus puas mencari sarapan hingga makan malam di tempat sampah. Mereka adalah yang "tidak lagi diinginkan"—korban tren yang bergeser.

Di sisi lain, masih ada yang setia dengan anjing lokalnya. Tapi jumlahnya semakin sedikit, kalah tenar dengan yang berbulu panjang dan punya nama sulit dieja. Aku hanya berharap, kalau nanti anjing-anjing bule terus berdatangan, jangan sampai tuan-tuan mereka ikut datang dan mengisi ruang-ruang dalam kehidupan kita. Bisa-bisa, justru kita yang jadi spesies lama yang tergantikan.

Heheh... Semoga tetap bercanda, ya. 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'