Detail Artikel

Asia Pacific HR Forum ke-10 di Bali: Menempatkan Manusia sebagai Fondasi Daya Saing Organisasi

Asia Pacific HR Forum ke-10 di Bali: Menempatkan Manusia sebagai Fondasi Daya Saing Organisasi


NUSA DUA, BALI — Di tengah perubahan teknologi yang bergerak semakin cepat, masa depan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling mutakhir. Daya saing justru akan ditentukan oleh kemampuan organisasi mengembangkan manusia, membangun kepemimpinan yang adaptif, menumbuhkan budaya kerja yang sehat, serta menciptakan ruang bagi setiap orang untuk belajar dan berkembang.

Pesan fundamental itulah yang mengemuka dalam pembukaan The 10th Asia Pacific HR Forum 2026 di Ayodya Resort Bali, Nusa Dua, 9–10 September 2026.

Mengusung tema “Great Place to Work: Culture, Performance Management, and People Development”, forum ini mempertemukan praktisi sumber daya manusia, pemimpin bisnis, serta profesional dari berbagai negara Asia Pasifik untuk membicarakan tantangan organisasi di tengah transformasi dunia kerja.

Forum yang diselenggarakan oleh PT Intipesan Pariwara melalui Intipesan Conference tersebut menempatkan isu manusia bukan sebagai agenda administratif, melainkan sebagai bagian dari strategi bisnis dan daya saing organisasi. (aspachrforum.com.trainingsrv.com)

Pembukaan forum berlangsung dalam suasana lintas budaya. Para peserta datang dari berbagai latar belakang industri dan negara, membawa pengalaman yang berbeda, tetapi bertemu pada satu pertanyaan strategis: bagaimana membangun organisasi yang tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga mampu memenangkan persaingan?

Kusheryuwono: Masa Depan Ditentukan Kemampuan Manusia untuk Beradaptasi

Sebagai Ketua Panitia, Drs. Kusheryuwono, M.Psi.T., membuka forum dengan menekankan pentingnya kemampuan manusia untuk tetap tenang, adaptif, dan terus bergerak maju ketika menghadapi ketidakpastian.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan besar yang ditimbulkan oleh teknologi, terutama artificial intelligence (AI), yang kini bukan lagi sekadar perangkat pendukung, melainkan telah mengubah cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, mengembangkan produk, dan mengelola manusia.

Dalam sambutannya, Kusheryuwono mengajak peserta tidak sekadar hadir sebagai pendengar.

Forum, menurut substansi pesannya, harus menjadi ruang untuk bertemu, bertukar pengalaman, memperluas perspektif, dan membawa pulang gagasan yang dapat diterapkan di organisasi masing-masing.

Ia menekankan bahwa perubahan tidak cukup dihadapi dengan teknologi. Organisasi membutuhkan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan, menjaga ketenangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan tetap bergerak ketika situasi tidak selalu berada dalam kondisi ideal.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi fondasi filosofis forum: teknologi dapat menjadi instrumen perubahan, tetapi manusialah yang menentukan arah perubahan itu.

Karena itu, organisasi masa depan tidak cukup hanya membangun sistem yang canggih. Organisasi harus membangun manusia yang mampu menggunakan kecanggihan tersebut secara produktif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Dari Forum HR Menjadi Ruang Pertukaran Gagasan

Kusheryuwono juga menggarisbawahi pentingnya forum sebagai ruang pembelajaran bersama.

Para peserta tidak hanya diharapkan memperoleh pengetahuan dari para pembicara internasional, tetapi juga saling berbagi pengalaman dan perspektif berdasarkan tantangan yang mereka hadapi di negara maupun industri masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, forum tidak ditempatkan sebagai konferensi satu arah.

Ia menjadi ruang dialog.

Peserta didorong untuk mempertanyakan kembali cara organisasi mereka bekerja, menguji asumsi yang selama ini digunakan, dan menemukan pendekatan baru yang lebih relevan dengan perubahan dunia kerja.

Pesan itu menjadi semakin penting ketika organisasi di Asia Pasifik menghadapi perubahan yang berlangsung hampir bersamaan: transformasi digital, tuntutan produktivitas, perubahan ekspektasi tenaga kerja, kebutuhan pengembangan kompetensi, serta meningkatnya perhatian terhadap budaya dan kesejahteraan karyawan.

Tema resmi forum sendiri menempatkan culture, performance management, dan people development sebagai tiga fondasi utama dalam membangun great place to work. (aspachrforum.com)

Intipesan dan Diplomasi Gagasan SDM Asia Pasifik

Penyelenggaraan forum ke-10 ini sekaligus memperlihatkan konsistensi Intipesan dalam membawa isu pengembangan sumber daya manusia ke ruang percakapan yang lebih luas.

Sebagai penyelenggara, PT Intipesan Pariwara menempatkan forum ini sebagai pertemuan para pemimpin HR, praktisi People & Culture, dan pemimpin bisnis dari berbagai negara untuk bertukar pengalaman mengenai organisasi, budaya, kinerja, AI, kesejahteraan karyawan, dan investasi pada manusia. (LinkedIn)

Di panggung forum, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi titik temu bagi pertukaran pengalaman profesional dari kawasan Asia Pasifik.

Sejumlah pembicara yang tercantum dalam agenda berasal antara lain dari Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, India, Vietnam, Inggris, dan Indonesia. (aspachrforum.com)

Di antaranya adalah Tracy Williams, Global Executive Leadership & High-Performance Strategist dari Australia; Mateen Thiruselvaam, mantan Senior Vice President of HR DHL Express Asia Pacific dari Singapura; serta para pemimpin HR dan praktisi lainnya yang membawa pengalaman lintas industri dan negara.

Forum ini membuka rangkaian pembahasan mengenai Great Organisation, strategi membangun budaya kerja, manajemen kinerja dalam era kompetitif, kesejahteraan karyawan, pemanfaatan AI, hingga investasi pada manusia. (aspachrforum.com)

Kepemimpinan sebagai Penghubung antara Teknologi dan Manusia

Salah satu pesan penting dari pembukaan forum adalah perlunya menggeser cara pandang terhadap transformasi.

Perubahan organisasi tidak boleh berhenti pada implementasi teknologi. Ia harus diterjemahkan menjadi perubahan kemampuan manusia.

Dalam konteks itu, pemimpin memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara teknologi, strategi bisnis, dan manusia.

Teknologi dapat mempercepat pekerjaan. Namun, kemampuan mengambil keputusan dalam situasi kompleks, membangun kepercayaan, memahami manusia, dan menjaga arah organisasi tetap membutuhkan kualitas kepemimpinan.

Karena itu, forum ini menempatkan pengembangan manusia sebagai bagian integral dari daya saing.

Bukan sebagai pelengkap.

Bukan pula semata-mata sebagai agenda HR.

Melainkan sebagai fondasi bagaimana sebuah organisasi menciptakan kinerja yang berkelanjutan.

Ketika “Great Place to Work” Menjadi Strategi Bisnis

Tema “Great Place to Work” dalam forum ini juga memperoleh makna yang lebih strategis.

Tempat kerja yang baik tidak cukup diukur dari kenyamanan fasilitas atau popularitas perusahaan sebagai pemberi kerja. Ia harus tercermin dalam budaya yang memungkinkan manusia bekerja secara produktif, sistem kinerja yang adil dan relevan, serta kesempatan pengembangan yang membuat talenta mampu tumbuh bersama organisasi.

Dengan demikian, great place to work bukan sekadar slogan korporasi.

Ia merupakan pertanyaan tentang bagaimana organisasi memperlakukan manusia sekaligus bagaimana manusia menghasilkan nilai bagi organisasi.

Di sinilah HR dituntut melampaui fungsi administratif.

HR masa depan harus mampu berbicara dalam bahasa bisnis, memahami perubahan teknologi, membaca dinamika tenaga kerja, membangun budaya, sekaligus memastikan investasi pada manusia menghasilkan dampak nyata terhadap kinerja organisasi.

Bali sebagai Titik Temu Kepemimpinan SDM Kawasan

Pemilihan Bali sebagai lokasi forum memberi dimensi tersendiri bagi pertemuan tersebut.

Di tengah lingkungan yang memungkinkan peserta mengambil jarak dari rutinitas operasional, para pemimpin HR dan bisnis diajak melihat perubahan dengan perspektif yang lebih luas—melampaui batas perusahaan, industri, bahkan negara.

Forum ini pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang bagaimana organisasi menghadapi masa depan.

Lebih jauh, ia mengajukan pertanyaan tentang manusia seperti apa yang ingin dibangun untuk menghadapi masa depan tersebut.

Sebab teknologi akan terus berubah.

Model bisnis akan terus berkembang.

Struktur organisasi pun akan terus mengalami penyesuaian.

Namun, kemampuan manusia untuk belajar, beradaptasi, bekerja bersama, mengambil keputusan, dan memberi makna pada pekerjaannya tetap menjadi salah satu fondasi terpenting dari keberlangsungan organisasi.

Pesan pembukaan Kusheryuwono karena itu menemukan relevansinya: masa depan tidak hanya dimenangkan oleh organisasi yang memiliki teknologi terbaik, tetapi oleh organisasi yang paling mampu mengembangkan manusia terbaiknya.

Dari Bali, percakapan tentang sumber daya manusia Asia Pasifik pun kembali diarahkan pada satu prinsip sederhana tetapi mendasar: teknologi dapat mengubah cara manusia bekerja, tetapi kualitas manusialah yang menentukan ke mana organisasi akan bergerak.

Catatan redaksional: saya sengaja tidak memasukkan klaim yang tidak terdengar jelas dalam transkrip, terutama bagian yang terdistorsi TurboScribe. Untuk nama Ketua Panitia, bentuk yang paling kuat dari sumber yang dapat diverifikasi adalah Drs. Kusheryuwono, M.Psi.T. (intipesan.com)

Untuk gaya Suara Umat, artikel ini saya buat lebih bernuansa feature-news: tetap faktual dan internasional, tetapi memiliki benang merah nilai—manusia, kepemimpinan, pembelajaran, dan tanggung jawab menghadapi perubahan—agar tidak terasa seperti siaran pers penyelenggara.

 (RAYD)   Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'