Bali Kembali Dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia, DPRD Soroti Tantangan Sampah dan Tata Kelola
Bali Kembali Dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia, DPRD Soroti Tantangan Sampah dan Tata Kelola
Denpasar — Pulau Dewata kembali menegaskan posisinya di panggung pariwisata global. Bali dinobatkan sebagai World’s Best Destination 2026 versi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor, mengungguli destinasi-destinasi ternama dunia seperti London, Dubai, Paris, Roma, Hanoi, hingga New York. Penghargaan prestisius ini menjadi pengakuan internasional atas daya tarik budaya, alam, dan spiritualitas Bali yang terus memikat wisatawan lintas benua.
Namun, di balik gemerlap pengakuan dunia tersebut, Bali masih dihadapkan pada serangkaian persoalan klasik yang menuntut perhatian serius. Isu sampah, banjir, kemacetan lalu lintas, serta alih fungsi lahan menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan di tengah euforia prestasi pariwisata.
Menanggapi capaian tersebut, Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya atau yang akrab disapa Dewa Jack, menyampaikan bahwa penghargaan dunia harus dijadikan momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama. Menurutnya, pengakuan internasional bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas lingkungan dan keberlanjutan pariwisata Bali.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi pekerjaan rumah paling mendesak yang harus diselesaikan secara kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Tanpa penanganan serius dan konsisten, masalah lingkungan berpotensi merusak citra Bali sebagai destinasi unggulan dunia.
“Bali tidak boleh hanya indah di mata wisatawan, tetapi juga sehat dan layak huni bagi masyarakatnya sendiri,” demikian pesan yang kerap digaungkan dalam berbagai forum kebijakan daerah.
Penghargaan dari TripAdvisor ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keunggulan Bali tidak semata lahir dari keindahan alam dan kekayaan budaya, melainkan dari harmoni antara manusia, lingkungan, dan nilai-nilai lokal yang dijaga turun-temurun. Ketika harmoni itu terganggu oleh tata kelola yang lemah, maka prestasi global bisa berubah menjadi ironi.
Ke depan, tantangan terbesar Bali bukan lagi sekadar menarik wisatawan, melainkan memastikan pariwisata yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan. Pengakuan dunia harus dibalas dengan keberanian mengambil kebijakan tegas, inovasi pengelolaan sampah, penataan ruang yang berkeadilan, serta penguatan kesadaran publik.
Bali telah diakui dunia. Kini, tugas bersama adalah memastikan Pulau Dewata tetap lestari, bermartabat, dan layak diwariskan kepada generasi mendatang.(RAYD)



