BALI TUMBUH, TETAPI SIAPA YANG PALING MERASAKAN?
BALI TUMBUH, TETAPI SIAPA YANG PALING MERASAKAN?
Pariwisata kembali menggeliat. Wisatawan datang, ekonomi bergerak. Tetapi di balik angka pertumbuhan itu, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah kesejahteraan benar-benar ikut tumbuh hingga ke lapisan masyarakat paling bawah?
SUARA UMAT.ID — BALI | Bali kembali menunjukkan wajah ekonominya yang dinamis. Ekonomi Bali tumbuh 5,58 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I 2026, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp82,21 triliun. (Kemenkeu)
Angka tersebut tentu patut disyukuri. Pertumbuhan ekonomi berarti roda produksi, perdagangan, jasa dan konsumsi terus bergerak.
Tetapi bagi masyarakat, angka pertumbuhan bukanlah tujuan akhir.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang menikmati pertumbuhan itu?
Apakah pedagang kecil semakin mudah mendapatkan pembeli? Apakah petani memperoleh harga yang layak? Apakah nelayan semakin sejahtera? Apakah pekerja pariwisata memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya? Dan apakah UMKM lokal benar-benar menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Bali?
Wisatawan Datang, Ekonomi Bergerak
Sektor pariwisata masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Bali.
Hingga Juni 2026, data Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali mencatat 578.251 kunjungan wisatawan mancanegara pada periode yang dilaporkan, meningkat 4,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Wisatawan Australia menjadi kelompok terbesar dengan 145.638 kunjungan. (Kemenkeu)
Di permukaan, angka tersebut menggembirakan.
Hotel terisi. Restoran mendapatkan pelanggan. Transportasi bergerak. Pemandu wisata bekerja. Pusat oleh-oleh ramai. Pelaku ekonomi kreatif mendapatkan pasar.
Namun pariwisata yang besar belum tentu otomatis berarti kesejahteraan yang merata.
Sebab di balik gemerlap industri pariwisata terdapat ribuan pelaku ekonomi kecil yang menggantungkan hidupnya pada denyut kunjungan wisatawan.
Mereka adalah pedagang makanan, pengrajin, petani pemasok bahan pangan, nelayan, sopir, pekerja hotel, pedagang pasar, pelaku homestay, fotografer, pemandu wisata hingga UMKM rumahan.
Mereka mungkin tidak terlihat dalam statistik besar pariwisata.
Tetapi merekalah yang membuat mesin ekonomi Bali terus berputar.
Pertumbuhan Harus Turun ke Bawah
Ada satu indikator yang menarik untuk diperhatikan.
Pada semester I 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Bali tercatat 104,47, tetapi turun 1,35 poin, sementara Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada di angka 101,37 dan turun 2,01 poin. (Kemenkeu)
Angka tersebut memberikan pesan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan kelompok masyarakat tertentu tidak selalu bergerak dalam kecepatan yang sama.
Inilah pekerjaan rumah pembangunan Bali.
Bali tidak cukup hanya menjadi destinasi wisata dunia.
Bali juga harus menjadi tempat yang baik untuk hidup bagi masyarakatnya sendiri.
Pertumbuhan hotel, restoran dan investasi memang penting. Tetapi pembangunan akan kehilangan makna apabila petani kehilangan lahan, nelayan kehilangan ruang hidup, pedagang kecil semakin terdesak, sementara biaya hidup terus meningkat.
Kabar Baik dari Kredit Program
Di sisi lain, ada perkembangan yang patut diapresiasi.
Hingga 30 Juni 2026, penyaluran kredit program di Bali mencapai Rp6,92 triliun kepada 52.915 debitur, tumbuh 36,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bali juga berada di posisi keenam sebagai penyalur kredit program terbesar secara nasional. (Kemenkeu)
Penyaluran tersebut tidak hanya berputar di sektor perdagangan.
Data DJPb menunjukkan kredit program juga mengalir ke pertanian, kehutanan, jasa kemasyarakatan dan sektor ekonomi lainnya. Sektor perdagangan besar dan eceran mendapat porsi sekitar 33 persen, pertanian sekitar 20 persen, sementara jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan sekitar 13 persen. (Kemenkeu)
Ini merupakan peluang.
UMKM tidak boleh hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi Bali. Mereka harus menjadi pelaku utama.
Dari Pariwisata Menuju Ekonomi Umat
Bali membutuhkan model pertumbuhan yang tidak hanya menghitung berapa banyak wisatawan yang datang.
Kita perlu mulai bertanya:
Berapa banyak petani yang mendapatkan pasar?
Berapa banyak UMKM yang naik kelas?
Berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan bermartabat?
Berapa banyak produk lokal yang masuk ke hotel dan restoran?
Berapa banyak keluarga yang kehidupannya menjadi lebih baik karena pertumbuhan pariwisata?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena ekonomi pada akhirnya bukan hanya soal angka, melainkan tentang manusia.
Pariwisata seharusnya membuka ruang yang lebih luas bagi ekonomi lokal.
Hotel membutuhkan bahan pangan. Restoran membutuhkan sayuran, buah, ikan dan hasil pertanian. Wisatawan membutuhkan produk kerajinan. Industri kreatif membutuhkan tenaga muda. Semua mata rantai tersebut semestinya dapat dihubungkan sehingga uang yang berputar di Bali tidak hanya berhenti pada sektor besar, tetapi mengalir hingga ke desa dan rumah-rumah masyarakat.
Bali Tidak Boleh Hanya Ramai di Angka
Pemerintah daerah, dunia usaha, pelaku pariwisata dan masyarakat memiliki pekerjaan bersama.
Pertumbuhan harus diarahkan agar lebih inklusif, berkelanjutan dan memberi ruang yang adil bagi ekonomi rakyat.
Bali membutuhkan pariwisata yang bukan hanya ramai, tetapi juga berkeadilan.
Membutuhkan investasi yang bukan hanya besar, tetapi juga memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.
Membutuhkan UMKM yang bukan sekadar menjadi pelengkap acara, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok ekonomi Bali.
Dan yang tidak kalah penting, membutuhkan generasi muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan nilai dan membuka lapangan kerja.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhannya, melainkan seberapa jauh pertumbuhan itu mampu menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat.
Bali boleh menjadi destinasi dunia. Tetapi jangan sampai masyarakat Bali sendiri hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Pertumbuhan harus terasa. Pariwisata harus berbagi. Ekonomi harus memberdayakan.
SUARA UMAT.ID — Menyuarakan Aspirasi dan Kepentingan Umat.
Sumber data: Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Bali, Press Release Realisasi APBN di Provinsi Bali s.d. 30 Juni 2026, 28 Juli 2026. (Kemenkeu)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



