Detail Artikel

Berita Posko Bersama – 26 September 2025

Berita Posko Bersama – 26 September 2025

Sejak pagi, Posko Bersama di Rumah Makan Bundo Kanduang kembali berdenyut. Di sanalah denyut solidaritas tak pernah padam, meski hari-hari melelahkan telah dilewati. Para relawan yang berjaga tampak tetap setia, wajah-wajah mereka menampakkan sabar yang tak lekang oleh waktu, keteguhan yang tak luntur oleh letih. Tidak ada keluhan, tidak ada jeda untuk menyerah. Yang ada hanyalah semangat: mengabdi bagi sesama.

Hari ini, posko kecil itu kedatangan sejumlah tokoh penting. Mereka tidak sekadar datang membawa sapaan basa-basi, bukan hanya kata-kata empati atau jabatan tangan motivasi. Mereka hadir dengan sepenuh hati, membagi rezeki, menghadirkan kasih, meneguhkan tekad bahwa bencana bukan untuk dihadapi sendiri, melainkan bersama-sama.

Tampak hadir Bapak Komang Kusuma Edi, Koordinator PYP Group, sosok yang dikenal bersahaja, turun langsung menyapa para relawan. Kehadirannya membawa suasana hangat: ia bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga besar yang peduli.

Dari barisan penyelamat, Bapak Brama Budianto Darsono, S.H., Ketua Arjuna Rescue SAR 115, turut hadir. Biasanya ia terlihat gagah dengan pakaian lapangan dan motor penyelamat berbox, tetapi hari ini ia datang dengan wajah penuh teduh, menyampaikan pesan sederhana: bahwa kerja kemanusiaan tidak pernah mengenal kata berhenti, baik di medan bencana maupun di meja musyawarah.

Turut pula hadir sosok perempuan tangguh, Ibu Sri Subekti,S.H.seorang notaris ternama di Bali sekaligus Ketua PICMI – Perempuan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Orwil Bali. Dalam pertemuan ini, ia tidak hanya membawa ketulusan doa, tetapi juga berbagi kasih nyata, menghadirkan kepedulian seorang ibu bagi anak-anak bangsa. Kehadirannya menegaskan bahwa kaum perempuan pun berdiri di garda terdepan dalam perjuangan kemanusiaan.

Tak kalah penting, H. Roichan, tokoh umat sekaligus bagian dari ICMI Orwil Bali dan Lantip  datang menyatukan kata dengan perbuatan. Ia membawa pesan persaudaraan, bahwa kebencanaan yang menimpa bukanlah musibah bagi satu golongan, melainkan ujian bagi semua insan, agar kembali menguatkan persatuan.

Sepanjang hari, posko bersama menjadi panggung keikhlasan. Tak ada sekat jabatan, tak ada perbedaan status, yang ada hanyalah manusia saling menggenggam, saling menopang. Bundo Kanduang, sebagai tuan rumah, menjadi saksi bisu: bahwa dari meja makan sederhana bisa lahir gagasan besar, bahwa dari ruang kecil bisa memancar cahaya kepedulian yang tak terbatas.

Di tengah derasnya hujan dan derasnya ujian, solidaritas hari ini adalah pelita. Sebuah bukti bahwa Denpasar tidak berjalan sendiri. Bahwa masyarakat Bali, dengan segala keberagaman warna, tetap satu dalam kemanusiaan.. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'