Berita Sambutan Ketua PW DMI Bali H. Bambang Santoso: Masjid Harus Melahirkan Kemandirian Ekonomi, Bukan Hanya Kemandirian Spiritual
Berita Sambutan Ketua PW DMI Bali
H. Bambang Santoso: Masjid Harus Melahirkan
Kemandirian Ekonomi, Bukan Hanya Kemandirian Spiritual
Denpasar |
SuaraUmat.id
Di tengah
ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya biaya hidup, dan semakin ketatnya
persaingan dunia kerja, masjid dituntut mengambil peran yang lebih besar
daripada sekadar menjadi tempat ibadah.
Masjid
harus hadir sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, tempat lahirnya
kemandirian, kreativitas, dan harapan baru bagi masyarakat.
Pesan
itulah yang menjadi benang merah sambutan Ketua Pimpinan Wilayah Dewan
Masjid Indonesia (PW DMI) Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A., saat
membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) II BKMM-DMI Provinsi Bali, Minggu
(26/7/2026).
Dalam
pidatonya, Bambang Santoso mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi keumatan
tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau kuatnya struktur organisasi.
"Ukuran
keberhasilan kita bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling besar
manfaatnya bagi umat," tegasnya di hadapan peserta musyawarah.
Kalimat itu
menjadi refleksi mendalam bahwa kepemimpinan dalam organisasi Islam sejatinya
adalah amanah untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar memperoleh
jabatan.
Masjid Harus Menjawab Persoalan Nyata Masyarakat
Menurut
Bambang Santoso, tantangan umat Islam saat ini semakin kompleks.
Persoalan
ekonomi keluarga, tingginya biaya pendidikan, sulitnya lapangan pekerjaan,
hingga perubahan pola hidup akibat perkembangan teknologi menjadi kenyataan
yang tidak dapat diabaikan.
Karena itu,
ia mengajak seluruh pengurus BKMM-DMI agar menjadikan dakwah sebagai gerakan
yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Hari
ini umat tidak hanya membutuhkan ceramah. Mereka membutuhkan solusi. Dakwah
harus hadir menjawab persoalan hidup mereka," ujarnya.
Ia menilai
masjid memiliki posisi strategis sebagai pusat pemberdayaan karena menjadi
tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang profesi dan usia.
Jika
potensi tersebut dikelola dengan baik, masjid dapat menjadi pusat lahirnya berbagai
gerakan sosial dan ekonomi berbasis komunitas.
Ekonomi Umat Harus Dibangun dari Akar Rumput
Dalam
paparannya, Bambang Santoso banyak menyoroti pentingnya membangun kemandirian
ekonomi masyarakat.
Ia
mencontohkan sejumlah pelaku usaha yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi
puluhan orang melalui usaha yang bermula dari skala kecil.
Baginya,
pemberdayaan ekonomi tidak selalu membutuhkan modal besar.
Yang
dibutuhkan adalah keberanian memulai, kreativitas, dan kemampuan melihat
peluang.
Ia bahkan menceritakan
pengalamannya bertemu dengan seorang pengusaha muda yang berhasil mempekerjakan
puluhan karyawan hanya melalui pengembangan produk rumahan yang dipasarkan
secara profesional.
Dari usaha
tersebut, banyak ibu rumah tangga memperoleh penghasilan tambahan tanpa harus
meninggalkan keluarganya.
"Inilah
dakwah yang menghadirkan kesejahteraan. Ketika satu usaha tumbuh, puluhan
keluarga ikut merasakan manfaatnya," katanya.
Menurutnya,
model-model ekonomi berbasis komunitas seperti inilah yang perlu diperbanyak
melalui jaringan masjid dan majelis taklim.
Jangan Membatasi Pasar Hanya di Sekitar Kita
Dalam
kesempatan itu, Bambang juga mengajak umat Islam untuk mengubah cara berpikir
dalam membangun usaha.
Ia menilai
masih banyak masyarakat yang membatasi pasar hanya pada lingkungan sekitar,
padahal teknologi digital telah membuka akses ke pasar nasional bahkan
internasional.
"Masalah
kita sering kali bukan pada kemampuan memproduksi, tetapi pada keberanian
memperluas pasar. Dunia hari ini jauh lebih luas daripada lingkungan tempat
kita tinggal," ungkapnya.
Menurutnya,
perkembangan teknologi informasi telah menghapus batas geografis.
Produk
usaha kecil yang dikelola dari desa sekalipun memiliki peluang bersaing di
pasar global apabila didukung kualitas, inovasi, dan pemasaran digital yang
baik.
Karena itu,
ia berharap masjid dan majelis taklim mulai memperkenalkan literasi digital
serta kewirausahaan kepada jamaah sebagai bagian dari dakwah kontemporer.
Membangun Peradaban Dimulai dari Masjid
Bambang
Santoso menegaskan bahwa revitalisasi Majelis Taklim bukan hanya tentang
memperbaiki program organisasi, melainkan membangun kembali peradaban umat.
Menurutnya,
sejarah Islam menunjukkan bahwa masjid pada masa Rasulullah SAW bukan sekadar
tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hingga
penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
"Masjid
harus kembali menjadi tempat lahirnya peradaban. Dari sanalah ilmu tumbuh,
ekonomi berkembang, dan kepedulian sosial dibangun," katanya.
Ia berharap
kepengurusan baru BKMM-DMI Bali yang akan terbentuk melalui Muswil mampu
membawa semangat baru dalam memperkuat fungsi strategis majelis taklim di
tengah masyarakat.
Memilih Pemimpin yang Amanah
Musyawarah
Wilayah II BKMM-DMI juga menjadi forum memilih kepengurusan baru untuk periode
berikutnya.
Dalam
konteks itu, Bambang mengingatkan bahwa organisasi membutuhkan pemimpin yang
tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga memiliki integritas dan
orientasi pengabdian.
"Kepemimpinan
bukan soal kehormatan, tetapi tentang tanggung jawab melayani umat," ujarnya.
Ia berharap
seluruh peserta musyawarah mengedepankan semangat ukhuwah, musyawarah, dan
kebersamaan sehingga menghasilkan kepengurusan yang mampu menjawab tantangan
zaman.
Membangun Umat dengan Kolaborasi
Menutup
sambutannya, Bambang Santoso mengajak seluruh elemen Dewan Masjid Indonesia,
BKMM-DMI, pengurus masjid, majelis taklim, tokoh masyarakat, hingga generasi
muda untuk membangun budaya kolaborasi.
Menurutnya,
tantangan umat tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi atau satu
kelompok saja.
Yang
dibutuhkan adalah sinergi, saling menguatkan, dan bergerak bersama demi
kemaslahatan yang lebih luas.
"Masjid
yang hidup bukan hanya dipenuhi jamaah saat salat. Masjid yang hidup adalah
masjid yang mampu menghidupkan masyarakat di sekitarnya," tuturnya.
Bagi Ketua
PW DMI Bali itu, revitalisasi majelis taklim bukanlah tujuan akhir, melainkan
pintu masuk menuju lahirnya masyarakat yang lebih berilmu, lebih mandiri secara
ekonomi, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih siap menghadapi tantangan masa
depan.
Karena pada akhirnya, kekuatan umat tidak hanya diukur dari banyaknya masjid yang berdiri megah, tetapi dari seberapa besar masjid mampu menghadirkan manfaat, memberdayakan kehidupan, dan menjadi cahaya bagi masyarakat di sekitarnya.(RORIE) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



