Detail Artikel

Buah Lokal: Kisah Tragis di Antara Lilin Impor dan Peluh Petani

Buah Lokal: Kisah Tragis di Antara Lilin Impor dan Peluh Petani

Pasar Batu Kandik, Badung—di sudut pasar yang berdenyut dari subuh hingga senja, seonggok pisang tergeletak pasrah. Kulitnya mulai kehitaman, beberapa jari tangkai sudah terlepas, terinjak tak sengaja oleh lalu-lalang manusia. Semangka, yang semestinya segar dan menggoda, kini malah berselimut semut, mengalirkan aroma fermentasi yang memabukkan. Jeruk mengernyit lelah, pepaya menatap kosong tanpa ada tangan yang ingin menawar.

Sementara itu, di rak-rak supermarket mewah, apel impor tersenyum manis dengan kulit mengilap, dipoles lilin agar tampak menggoda. Anggur Eropa berbaris rapi dalam kemasan eksklusif, seolah berkata, "Kami lebih pantas di meja makanmu."

Buah Lokal: Dibuang Sebelum Dinikmati

Perjalanan buah lokal sungguh penuh drama, jauh lebih tragis dari sinetron jam prime-time. Dari desa yang jauh, mereka dihantam guncangan di atas truk reyot yang terengah-engah mendaki tanjakan. Mereka terjebak antrean di pelabuhan, ditumpuk dalam kondisi pengap, tanpa perawatan, berharap tiba di pasar sebelum kebusukan menyebar.

Perlakuan ini berbeda jauh dengan buah impor yang sejak panen sudah dimuliakan. Mereka ditempatkan di pendingin bersuhu ideal, dikemas dalam plastik empuk, diangkut dengan pesawat atau kapal berbilik sejuk. Harganya selangit? Tentu, tapi tampilannya memang tak tergugat.

Belajar dari Kesalahan, Bukan Sekadar Meratap

Apakah kita hanya bisa mengeluh? Atau haruskah ada perubahan?

Masih adakah diskusi panel tentang tata niaga buah lokal? Masihkah ada pelatihan bagi petani agar memahami cara menjaga kualitas? Atau kita hanya membiarkan keadaan ini terus berulang, menyalahkan keadaan tanpa solusi?

Coba tanyakan kepada penjual durian, mereka mengenali dagangannya bahkan sebelum dibelah. Coba diskusikan dengan penjual kelapa, mereka tahu mana yang muda, mana yang siap diparut. Mengapa kita tidak mendengar “suara” dari buah lokal kita sendiri?

Buah bisa berbicara—bukan dengan kata, tapi dengan nasibnya. Dan saat ini, buah lokal kita sedang menjerit.

Jangan biarkan mereka menjadi tamu tak diundang di tempat sampah.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'