Budi Andre Sasongko: Dari Gedung Sederhana, Ikhtiar Besar Penguatan SPMB Muhammadiyah Dimulai
Budi
Andre Sasongko: Dari Gedung Sederhana, Ikhtiar Besar Penguatan SPMB
Muhammadiyah Dimulai
Tabanan —
Sebuah gedung boleh sederhana. Tetapi dari ruang yang sederhana, gagasan besar
tetap dapat dilahirkan.
Kalimat itu menemukan maknanya
dalam Workshop Penguatan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah
Muhammadiyah Bali yang digelar di Tabanan, Sabtu (22/8/2026). Di balik
pelaksanaan kegiatan tersebut, ada kerja kepanitiaan yang tidak ringan. Ada
koordinasi, penantian, keterbatasan tempat, sekaligus keyakinan bahwa penguatan
sekolah Muhammadiyah tidak boleh menunggu sampai segala sesuatu menjadi
sempurna.
Hal itu tergambar dalam laporan Ketua
Panitia, Budi Andre Sasongko, saat membuka rangkaian kegiatan workshop.
Dalam laporannya, Budi
menyampaikan bahwa kegiatan yang semula dijadwalkan mulai pukul 09.00 WITA baru
dapat dimulai sekitar pukul 09.32 WITA. Keterlambatan itu antara lain karena
panitia masih menunggu peserta yang belum hadir.
Namun, bagi panitia,
keterbatasan waktu dan fasilitas bukan alasan untuk mengendurkan langkah.
Workshop tersebut diikuti unsur
sekolah Muhammadiyah se-Bali. Dari unsur kepala sekolah Muhammadiyah, terdapat 16
kepala sekolah, sesuai jumlah AUM sekolah yang disebutkan dalam laporan
panitia. Selain itu hadir 32 guru atau petugas SPMB, yang masing-masing
ditunjuk dari sekolah, serta unsur majelis dan pimpinan daerah Muhammadiyah
yang memiliki sekolah. Dua fasilitator juga terlibat dalam kegiatan sekaligus
menjadi peserta.
Angka-angka
itu bukan sekadar data kehadiran. Ia menggambarkan sebuah ekosistem yang sedang
berusaha bergerak bersama.
Bagi Budi, penyelenggaraan
workshop di Tabanan juga menyimpan cerita tersendiri. Ketika mendapat amanah
dari Majelis Dikdasmen PWM Bali melalui Sekretaris, Dr. Noveng, panitia
dihadapkan pada pilihan: menerima atau menolak pelaksanaan kegiatan di tempat
yang tersedia.
Pilihan akhirnya jelas:
menerima.
Gedung yang digunakan memang
disebutnya sederhana dan minimalis. Namun justru dari situlah muncul sebuah
keyakinan: kalau untuk bergerak harus menunggu gedung besar, kapan
Muhammadiyah akan berani memulai?
Pertanyaan itu terasa sederhana,
tetapi menyimpan pesan yang dalam.
Gerakan pendidikan tidak selalu
lahir dari ruang yang megah. Ia sering kali bermula dari keberanian untuk
memanfaatkan apa yang ada. Kemajuan tidak harus menunggu fasilitas sempurna.
Yang lebih penting adalah kemauan untuk bergerak, berkolaborasi, dan terus
memperbaiki diri.
Budi juga menyinggung bahwa aula
tempat kegiatan berlangsung bukanlah ruang yang asing bagi sebagian warga
Muhammadiyah. Bahkan, tempat tersebut telah beberapa kali digunakan untuk
berbagai kegiatan.
Ada semacam nostalgia di sana.
Ruang yang mungkin tidak besar, tetapi telah menjadi saksi sejumlah pertemuan,
gagasan, dan ikhtiar Muhammadiyah.
Dan kali ini, ruang itu kembali
menjadi tempat bertemunya para pengelola sekolah Muhammadiyah dari berbagai
daerah di Bali untuk membicarakan sesuatu yang sangat menentukan masa depan
sekolah: bagaimana menerima murid baru dengan strategi yang lebih kuat.
Workshop dijadwalkan berlangsung
selama satu hari, sejak setelah pembukaan hingga sekitar pukul 14.00 WITA,
sesuai rundown yang disiapkan panitia.
Tetapi yang hendak dibangun
sesungguhnya lebih panjang dari durasi sebuah kegiatan sehari.
SPMB adalah
pintu pertama. Dari pintu itulah masyarakat mengenal sekolah. Dari pintu itulah
kepercayaan mulai dibangun. Dan dari kepercayaan itulah masa depan sekolah
perlahan ditentukan.
Karena itu, laporan Budi Andre
Sasongko tidak berhenti pada soal jumlah peserta, waktu pelaksanaan, maupun
susunan kegiatan. Di balik laporan administratif tersebut terdapat gambaran
tentang sebuah ikhtiar: mempertemukan sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam satu
agenda untuk memperkuat penerimaan murid baru.
Ia kemudian menyerahkan forum
kepada Dr. Majid Majidi, M.Pd., Ketua Harian PWM Bali yang mewakili Ketua
PWM Bali, untuk memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Di titik itu, laporan panitia
menemukan ujung sekaligus awalnya.
Ujung dari kerja-kerja
persiapan. Awal dari percakapan yang lebih besar tentang bagaimana sekolah
Muhammadiyah di Bali harus tumbuh.
Dari aula
yang sederhana di Tabanan, Muhammadiyah sedang mengerjakan pekerjaan yang tidak
sederhana: menjaga agar sekolah-sekolahnya tetap dipercaya, dipilih, dan
menjadi rumah pendidikan bagi generasi masa depan.
Sebab pada akhirnya, yang
membuat sebuah gerakan besar bukan semata-mata gedung tempat ia berkumpul,
melainkan gagasan yang dibawanya dan keberanian untuk memulainya. (RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



