Bulan Bahasa, Bulan Bersuara: Merangkai Suara, Menyemai Bahasa Berdaya
Bulan Bahasa, Bulan Bersuara: Merangkai Suara, Menyemai Bahasa Berdaya
Denpasar, 27 Oktober 2025 — Pagi yang hangat di Jalan Batanta No. 80 menjadi saksi semaraknya perayaan “Bulan Bahasa, Bulan Bersuara” di SMK Muhammadiyah Denpasar. Di bawah tema “Sastra Bersuara, Bahasa Berdaya”, aula sekolah menjelma menjadi panggung ekspresi, tempat kata, irama, dan gerak berpadu dalam harmoni.
Sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WITA, deretan siswa kelas X dan XI menampilkan kebolehan mereka dalam berbagai cabang seni bahasa. Melalui “Daftar Suara”, mereka menuturkan kisah, melafazkan puisi, menari dalam irama modern, hingga melontarkan tawa lewat stand up comedy. Adapun kategori yang diperlombakan meliputi:
Pentas Tari Modern
Pentas Drama
Story Telling
Monolog
Pentas Puisi
Stand Up Comedy
Setiap penampilan bukan sekadar ajang unjuk bakat, tetapi juga wujud penghayatan terhadap makna bahasa sebagai roh kebudayaan dan sarana menyuarakan jiwa. Bahasa, dalam tangan-tangan muda itu, menjelma menjadi alat perjuangan, cermin budi, dan jembatan peradaban.
Suasana kian semarak dengan hadirnya Kardanis Mudawi Jaya, seniman teater dan penyair dari Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM Bali. Dengan tutur yang lembut namun menggugah, ia mengajak para siswa merenungi makna seni sebagai napas kehidupan, serta sastra sebagai cermin nurani bangsa.
“Bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan jendela untuk memahami dunia dan diri sendiri,” ungkapnya penuh makna.
Kegiatan ini tidak hanya merayakan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kreativitas generasi muda. Melalui puisi, monolog, dan tawa, para siswa belajar untuk berpikir kritis, berempati, serta berani mengekspresikan gagasan dengan santun dan berdaya.
Dengan semangat Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah Denpasar menegaskan komitmennya untuk menumbuhkan pelajar yang beriman, berbudaya, kreatif, dan bernalar kritis—sejalan dengan cita-cita luhur Profil Pelajar Pancasila.
Acara pun ditutup dengan tepuk tangan yang riuh, bukan sekadar untuk penampil terbaik, tetapi untuk bahasa itu sendiri—bahasa yang hidup, bersuara, dan terus menyalakan cahaya di hati generasi muda Indonesia.



