Detail Artikel

Bumbu Perjuangan dari Dapur Pelajar: Ketika 90% Panitia adalah Siswa SMP & SMA

Bumbu Perjuangan dari Dapur Pelajar: Ketika 90% Panitia adalah Siswa SMP & SMA

Singaraja, 4 Mei 2025 — Di saat banyak anak seusia mereka sibuk mengoleksi skin Mobile Legends, scrolling TikTok, atau tenggelam dalam dunia gadget, ada sekelompok pelajar di Singaraja yang justru memilih jalan berbeda. Mereka bukan sedang bermain di layar, tapi memainkan peran besar di panggung perjuangan. Dalam peringatan Hari Bangkit ke-78 PII Wilayah Bali, 90 persen panitia adalah siswa SMP dan SMA—dan mereka bukan sekadar hadir, mereka bekerja, mereka berjuang!

Layaknya dapur tradisional Bali Utara, kegiatan ini diolah dengan bahan dasar yang masih muda, tapi segar dan berkualitas: para pelajar itu sendiri. Mereka datang dari sekolah-sekolah di sekitar Buleleng, membawa semangat seperti beras baru dari panen pertama—putih, murni, dan penuh potensi. Ditambah bumbu bernama komitmen, lada keberanian, dan garam keikhlasan, maka lahirlah sajian kegiatan yang bukan hanya mengenyangkan secara ruhani, tapi juga menggugah semangat siapa saja yang menyaksikan.

Panas? Tentu. Lelah? Jelas. Tapi seperti halnya memasak jukut undis belimbing—yang harus direbus lama agar bumbu meresap—mereka rela berpanas-panasan di bawah matahari Singaraja, menyusun kursi, menyiapkan spanduk, mengatur acara, mempersiapkan pelantikan, menyambut tamu dengan senyum yang tak dibuat-buat. Di saat sebagian remaja lain memilih rebahan, mereka justru berdiri tegak, membakar kemalasan, dan menghancurkan bisikan menjerumuskan yang ingin membuat mereka menyerah.

Tak ada gaji. Tak ada pujian. Yang ada hanya panggilan iman dan cinta kepada perjuangan. Mereka bekerja seperti bumbu base genep dalam masakan Bali—tidak selalu terlihat, tapi jadi kunci utama kelezatan rasa. Tanpa mereka, acara ini hambar. Tapi dengan mereka, acara ini kaya rasa, berlapis makna, dan terasa hingga ke hati.

Semangat mereka adalah api kompor yang tak padam. Mereka membuktikan, bahwa pelajar hari ini bisa berdaya. Bukan hanya sebagai penonton dunia, tapi sebagai peracik masa depan.

Dalam tim kecil ini, ada yang bertugas sebagai bendahara, menakar dana seperti menakar santan dalam kuah be siap. Ada yang menjadi humas, menyapa para undangan seperti kuah pindang yang menyatu dengan ikan segar. Ada pula yang bekerja di belakang layar, seperti bawang merah yang diam-diam menguatkan rasa tanpa banyak bicara.

Satu hal yang membuat dapur ini istimewa: semua bahan, bumbu, dan kokinya saling menguatkan. Tak ada yang merasa paling hebat. Mereka bekerja seperti sebuah resep tradisional: saling melengkapi, saling menghidupi.

Dan dari dapur sederhana ini, sebuah sajian besar bernama kebangkitan pelajar Islam disuguhkan kepada masyarakat Bali. Disajikan dengan penuh cinta, dibumbui dengan niat lurus, dan dimasak dalam api semangat yang menyala di dada para pelajar muda Singaraja.

Karena sejatinya, perjuangan bukan hanya soal hasil—tapi tentang bagaimana kita memilih untuk berdiri, saat yang lain duduk. Memilih untuk berkeringat, saat yang lain sibuk bermain. Dan memilih untuk menjadi bumbu perubahan—yang mungkin tak terlihat, tapi mengubah rasa seluruh hidangan peradaban. ( Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'