Cahaya di Balik Senja: Kisah Posko Bersama
Cahaya di Balik Senja: Kisah Posko Bersama
Denpasar, 22 September 2025
Maghrib menjelang, cahaya keemasan di ufuk barat menyinari aktivitas Posko Bersama yang tak pernah mengenal kata lelah. Lima belas paket sembako yang baru saja hadir, dibungkus rapi oleh tangan-tangan penuh cinta. Bukan sekadar nasi, gula, atau minyak; tetapi wujud kepedulian yang dibungkus dengan doa dan harapan.
Usai pekerjaan itu, para relawan kembali duduk melingkar. Diskusi tak pernah berhenti. Strategi dibangun, sinergi dijaga, komunikasi terus dirajut. Di tengah keramaian, tampak H. Imam Asrorie, sang takmir posko sekaligus koordinator. Dengan laptopnya ia tak sekadar membaca laporan, tetapi menelaah setiap data, menimbang fakta, hingga menganalisa siapa lagi yang belum tersentuh bantuan.
Tak jauh dari situ, Hj. Nining terlihat tekun memilah pakaian layak pakai. Dengan hati seorang ibu, ia menyatukan helai demi helai menjadi paket kebutuhan keluarga. Di sudut lain, Lantip Yayuk tak terlihat lelah. Senyumnya tak pernah hilang, bahkan dalam penatnya ia tetap ceria. Tangannya cekatan menulis alokasi bantuan, mencatat alamat, hingga berkoordinasi dengan relawan, pemerintah daerah, dan juga wartawan Suara Umat yang sibuk memperbarui kabar.
Hari itu, Senin 22 September 2025, sebuah nama baru hadir di tengah posko. Kent Reinaldo, anak muda aktif di ICMI dan Pemuda ICMI, datang bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai sahabat. Ia pun salah satu yang terdampak banjir. Kehadirannya disambut hangat, sekaligus disertai maaf yang tulus dari H. Imam.
“Bukan karena kami tak peduli, bukan pula karena tak berempati,” ujar Imam. “Namun cakupan wilayah terdampak begitu luas. Kami harus berhati-hati agar bantuan benar-benar sampai kepada semua. Yang belum terjangkau, insyaAllah akan kami kunjungi. Bahkan setelah posko resmi ditutup, perhatian pascabanjir tetap menjadi amanah kami.”
H. Imam yang juga Ketua LAZISMI itu menegaskan, posko tidak berhenti pada distribusi sembako saja. Rencana ke depan meliputi hiburan, konseling psikososial, serta penghargaan khusus bagi para relawan yang tanpa pamrih berjuang.
Kent, yang kini juga membawa amanah sebagai warga Pulau biak, menerima pesan penting: agar dirinya menjadi mata dan telinga di lapangan. Informasi sekecil apa pun, katanya, akan sangat berharga agar bantuan bisa dibagi penuh kasih.
Pertemuan itu ditutup dengan foto bersama. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna. Bagi Kent, ada titipan yang lebih besar: bagaimana ia bisa menjadi perantara kasih Allah bagi lingkungannya. Data terakhir mencatat, di Pulau Biak terdapat 43 kepala keluarga dengan 140 jiwa yang masih terdampak.
Posko Bersama pun kembali menorehkan catatan baru: bahwa kepedulian tidak mengenal sekat usia, status, atau asal-usul. Di balik bencana, selalu ada wajah-wajah tulus yang menyalakan lilin harapan. ( RAYD) *Rek. PT. MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967*



