Detail Artikel

Cahaya Muharram di Tanah Bogo: Santunan 480 Anak Yatim Menyatu dalam Doa dan Cinta

Cahaya Muharram di Tanah Bogo: Santunan 480 Anak Yatim Menyatu dalam Doa dan Cinta

Nganjuk, 13 Juli 2025

Dalam balutan kasih sayang dan semangat Muharram 1447 Hijriah, Desa Bogo menjadi saksi bisu atas denyut kepedulian yang tak henti mengalir. Sebuah acara santunan anak yatim se-Kecamatan Nganjuk digelar dengan khidmat dan penuh haru di Gedung PST (Padepokan Silat Terpadu) — ruang yang hari itu tak hanya menjadi tempat pelatihan raga, tetapi juga pembelajaran jiwa dan cinta kasih.

Sebanyak 480 anak yatim dari 20 desa dan kelurahan se-Kecamatan Nganjuk berkumpul dalam satu majelis yang sarat makna. Desa Bogo, sebagai tuan rumah pada tahun ini, menyumbangkan 25 anak dari warganya, sementara sisanya berasal dari desa-desa lain yang turut mengirimkan duta kecil penerima kasih dan doa umat.

Acara tahunan ini telah menjadi tradisi yang dirawat dengan penuh cinta oleh masyarakat Kecamatan Nganjuk. Tidak sekadar seremoni, ia adalah jalan spiritual untuk mengetuk langit dengan amal yang diam-diam mengetuk pintu-pintu keberkahan.

Hadir dalam kegiatan ini para tokoh dan pemangku kepentingan wilayah, antara lain:

Kepala Desa dari berbagai penjuru se-Kecamatan Nganjuk,

Para pengurus Muslimat NU tingkat kecamatan dan kabupaten,

Serta pengurus Majelis Ta’lim Muslimat dari berbagai desa yang secara aktif turut serta dalam mensukseskan kegiatan ini.

Donatur dan dermawan dari berbagai kalangan pun turut berperan—mereka tidak hanya menyumbang harta, tetapi juga mengalirkan rasa kepedulian yang menjadi bukti nyata ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat.

“Anak yatim bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga titipan Ilahi yang kehadirannya mengundang malaikat-malaikat rahmat ke bumi,” ujar seorang pengurus Muslimat sambil menitikkan air mata bahagia.

Lantunan doa, ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan tausiyah dari tokoh agama mengiringi rangkaian kegiatan, seakan membungkus langit Bogo dengan syafaat dan cahaya. Para anak yatim pun pulang dengan senyum mengembang—membawa bingkisan, santunan, dan yang lebih penting: rasa dihargai dan disayangi dalam pelukan umat.

Dalam suasana tahun baru Islam yang sakral, kegiatan ini tidak hanya menciptakan momentum berbagi, namun juga memperkuat jalinan ruhani antarwarga. Sebab sejatinya, menyantuni anak yatim adalah membangun peradaban kasih yang abadi.

Semoga tradisi ini lestari, dan setiap langkah para donatur serta panitia menjadi amal jariyah yang mengalirkan keberkahan hingga Yaumil Akhir.

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."

(Surat Al-Insan: 8)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'