Cinta, Pensiun, dan Siri: Potret Lebaran yang Tak Pernah Masuk Buku Nikah
Cinta, Pensiun, dan Siri: Potret Lebaran yang Tak Pernah Masuk Buku Nikah
Pagi di bulan Syawal selalu punya cara sendiri untuk menampilkan wajah paling jujur dari masyarakat kita. Setelah gema takbir mereda dan jamaah sholat Idul Fitri ditunaikan, arus manusia pun beralih ke satu tradisi yang tak kalah sakral: open house. Istilah yang terdengar modern, dipopulerkan oleh kalangan elite, namun di akar rumput menjelma menjadi panggung sosial yang penuh warna—dan kadang, penuh sandiwara.
Rumah-rumah terbuka lebar. Meja makan penuh. Senyum berseliweran. Namun di balik itu, terselip satu agenda tak tertulis: pamer.
Pamer baju baru.
Pamer mobil terbaru.
Pamer perhiasan yang berkilau lebih terang dari lampu ruang tamu.
Di sudut ruang tamu itu, duduklah seorang perempuan yang tak kalah mencuri perhatian. Bukan karena emas yang melingkar di lehernya, bukan pula tas bermerek yang ia genggam. Melainkan karena “prestasi” yang ia bawa tahun ini: suami baru.
Ya, lagi.
Jika tahun lalu ia datang dengan suami keempat, tahun ini ia hadir dengan suami kelima. Wajahnya sumringah. Suaminya tampak sedikit canggung. Para tamu lain menyusun ekspresi antara kagum, heran, dan diam-diam menghitung.
“Baru lagi, Bu?” tanya seorang kerabat dengan nada setengah bercanda.
“Iya, rezeki,” jawabnya ringan.
Namun di balik keluguan jawaban itu, tersimpan strategi yang tidak sederhana. Pernikahan itu tidak tercatat. Nikah siri, seperti biasanya.
Alasannya klasik, tetapi rasional dalam logika tertentu: agar tidak kehilangan hak atas pensiun dari suami kedua.
Cinta yang Bernegosiasi dengan Sistem
Fenomena ini bukan cerita tunggal. Ia bukan sekadar gosip meja makan Lebaran. Di berbagai sudut media sosial, kisah serupa berulang—kadang dibalut humor, kadang disampaikan sebagai keluhan, dan tak jarang menjadi bahan diskusi serius.
Ada pasangan lansia yang sama-sama pensiunan. Secara agama mereka ingin hidup bersama, tetapi secara administratif memilih jalan lain. Mereka menikah secara siri, hidup serumah, tetapi di atas kertas tetap “sendiri”. Sebab jika pernikahan itu dicatatkan, salah satu—atau bahkan keduanya—berpotensi kehilangan hak pensiun yang selama ini menjadi penopang hidup.
Dalam bahasa yang lebih lugas: cinta harus bernegosiasi dengan sistem.
Kertas pensiun, yang sejatinya merupakan bentuk penghargaan negara atas pengabdian seseorang, dalam praktik sosial tertentu berubah menjadi aset strategis. Ia tidak lagi sekadar dokumen administratif, melainkan penentu arah pilihan hidup.
Ketika Hukum Masuk ke Ruang Privat
Di titik inilah hukum negara hadir, dengan segala kompleksitasnya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah, setiap perkawinan wajib dicatatkan agar memiliki kekuatan hukum. Tanpa pencatatan, negara tidak mengakui keberadaan perkawinan tersebut secara administratif.
Sementara itu, melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang berlaku efektif pada tahun 2026, negara tidak serta-merta mengkriminalisasi nikah siri. Negara tidak masuk ke ranah sah atau tidaknya secara agama. Namun, negara mulai memberi batas tegas terhadap konsekuensi dari praktik tersebut.
Pernikahan yang tidak tercatat dapat berimplikasi pidana apabila:
Salah satu pihak masih terikat perkawinan sah
Terdapat unsur penipuan atau penyembunyian status
Menimbulkan kerugian, terutama bagi perempuan dan anak
Dalam konteks tertentu, hidup bersama tanpa pengakuan negara juga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, dengan sifat delik aduan.
Dengan demikian, negara tidak melarang cinta. Namun negara menolak ketidakjelasan yang berpotensi merugikan.
Adaptasi Sosial: Antara Celah dan Pilihan
Di tengah ketentuan hukum yang jelas, masyarakat tetap menemukan cara untuk beradaptasi.
Di dunia maya, berbagai kisah muncul dalam beragam versi:
Seorang pria yang menikah siri demi menjaga tunjangan janda ibunya
Pasangan pensiunan yang “resmi di hati, tidak di kantor pencatat nikah”
Hingga candaan yang beredar luas: pernikahan sah dianggap mahal, sementara nikah siri dinilai lebih “strategis”
Di antara tawa dan satire tersebut, tersimpan realitas yang tidak sederhana. Ada jarak antara norma hukum, kebutuhan ekonomi, dan praktik sosial yang terus dinegosiasikan.
Lebaran, Cermin Kehidupan
Kembali ke ruang tamu Lebaran itu.
Perempuan tersebut tertawa lepas. Suaminya yang baru mulai mencair. Para tamu akhirnya ikut larut dalam suasana. Obrolan bergeser. Piring kembali terisi. Kehidupan berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang benar-benar menghakimi. Sebab diam-diam, semua memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Di negeri ini, cinta bisa sederhana. Namun administrasi sering kali rumit.
Di antara keduanya, masyarakat terus mencari jalan tengah: kadang memilih resmi, kadang cukup siri, dan tidak jarang sekadar bertahan dalam keadaan.
Penutup
Lebaran pada akhirnya bukan hanya tentang kembali kepada kesucian. Lebih dari itu, ia menjadi ruang refleksi—tentang pilihan hidup, tentang kompromi, dan tentang cara manusia bertahan dalam sistem yang tidak selalu sederhana.
Termasuk tentang cinta yang tidak selalu tercatat, tetapi tetap diperjuangkan.
Di situlah letak ironi, sekaligus keindahan kehidupan kita. (RAYD)



