Detail Artikel

Dari Dalung ke Jembrana: YPBWI Bali Menenun Pendidikan, Wakaf, dan Peradaban dalam Harmoni Halal Bihalal

Dari Dalung ke Jembrana: YPBWI Bali Menenun Pendidikan, Wakaf, dan Peradaban dalam Harmoni Halal Bihalal

Perayaan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 menemukan maknanya yang paling substansial di sebuah sudut Dalung. Di sana, Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam tidak sekadar menggelar Halal Bihalal, tetapi merajut sebuah narasi besar tentang pendidikan, keimanan, dan masa depan peradaban umat.

Acara yang dihadiri pengurus lintas wilayah ini menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma ruang konsolidasi—tempat di mana rasa syukur, gagasan pembangunan, dan panggilan spiritual bertemu dalam satu tarikan nafas.


Syukur atas Ruang Belajar dan Hadirnya Negara

Dalam sambutannya, jajaran pimpinan YPBWI Bali menyampaikan rasa syukur atas selesainya renovasi gedung RA Bakti 5 yang kini telah menghadirkan ruang belajar baru yang lebih layak dan representatif.

Pembangunan dua ruang kelas tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah melalui kolaborasi antara Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Program percepatan pembangunan ini menjadi bukti konkret bahwa negara hadir hingga ke simpul-simpul pendidikan berbasis masyarakat.

Dari ruang yang dahulu terbatas, kini tumbuh ruang yang memberi harapan—tempat anak-anak belajar dengan lebih layak, dan masa depan mulai disusun dengan lebih pasti.


Wakaf sebagai Fondasi Masa Depan

Momentum Halal Bihalal itu juga menandai babak baru perjalanan YPBWI Bali melalui amanah wakaf tanah seluas 6,5 are di Jembrana.

Tanah yang dihibahkan oleh keluarga H. Hud Muhammad Al Qadri tersebut dirancang untuk menjadi pusat pengembangan dua program strategis:

  • Pembangunan TK Bakti
  • Pendirian Museum FPSI Bali (Museum Pendidikan dan Sejarah Islam)

Sekitar 1,5 are akan diperuntukkan bagi museum, sementara sisanya menjadi lahan pendidikan anak usia dini—sebuah integrasi antara masa depan dan ingatan, antara pendidikan dan sejarah.

Wakaf ini bukan sekadar penyerahan aset, melainkan penegasan nilai: bahwa harta yang dibelanjakan di jalan kebaikan akan menjelma menjadi amal jariyah yang tak terputus.


Dari Program Menuju Gerakan Kolektif

Menyadari besarnya amanah tersebut, YPBWI Bali mengambil langkah strategis dengan membentuk panitia gabungan penggalangan dana. Panitia ini akan menjadi motor penggerak dalam mewujudkan pembangunan di atas tanah wakaf tersebut.

Langkah ini menandai transformasi penting—dari sekadar program menjadi gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat luas. Gotong royong kembali dihidupkan, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai praktik nyata dalam membangun pendidikan umat.


Spiritualitas sebagai Arah dan Penuntun

Dimensi spiritual dalam kegiatan ini menemukan puncaknya dalam tausiah yang mengingatkan kembali hakikat Halal Bihalal. Bahwa setelah menempuh Ramadan, manusia dituntut tidak hanya menjadi pribadi yang taat secara ritual, tetapi juga peka secara sosial.

Pesan yang mengemuka sederhana namun mendalam:
bahwa ketakwaan harus diwujudkan dalam kepedulian,
bahwa harta harus disucikan melalui infaq dan sedekah,
dan bahwa kebaikan harus ditularkan, bukan disimpan sendiri.

Dalam kerangka itulah, wakaf, pembangunan sekolah, dan rencana museum menemukan relevansinya—sebagai bentuk nyata dari iman yang bekerja.


Menjembatani Pendidikan dan Peradaban

Rencana pembangunan Museum FPSI Bali menjadi penanda penting bahwa YPBWI Bali tidak hanya bergerak di ranah pendidikan dasar, tetapi juga dalam upaya merawat sejarah dan identitas.

Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis akar budaya dan nilai, museum ini diharapkan menjadi ruang refleksi—menghubungkan generasi muda dengan jejak sejarah Islam di Bali, sekaligus memperkuat karakter mereka sebagai bagian dari bangsa yang beragam.


Hardiknas: Dari Seremoni ke Substansi

Apa yang terjadi di Dalung pada hari itu adalah refleksi nyata dari makna Hari Pendidikan Nasional. Bukan sekadar upacara dan slogan, melainkan kerja konkret yang menyentuh akar persoalan.

Dari pembangunan ruang kelas hingga penguatan nilai spiritual, dari wakaf hingga gerakan sosial—semuanya bergerak dalam satu garis besar: membangun manusia Indonesia seutuhnya.


Menutup dengan Harapan

Di penghujung acara, doa bersama dipanjatkan. Dalam hening yang khusyuk, harapan-harapan dititipkan—agar setiap langkah yang dirintis diberkahi, setiap amanah ditunaikan, dan setiap cita-cita diwujudkan.

Dari Dalung menuju Jembrana, dari ruang kelas hingga museum peradaban, YPBWI Bali tengah menenun masa depan dengan benang-benang ketulusan.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak lahir dari gemerlap, melainkan dari kerja sunyi yang dilakukan dengan iman.

Dan di Bali, kerja sunyi itu sedang berlangsung—pelan, tekun, namun pasti.(AMBAR & RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'