Dari Dapur Rempah Menuju Gerakan Kemanusiaan Ramadhan
Pagi itu, 15 Februari 2026, sejak pukul 08.00 WITA, halaman Rumah Makan Bundo Kanduang telah hidup oleh denyut persiapan. Periuk-periuk besar menghangat, rempah ditumbuk dengan irama sabar, santan diperas dengan niat yang lurus. Hingga pukul 15.00 WITA, kerja-kerja sunyi itu menjelma menjadi sajian bermakna: Bubur Rempah Melayu.
Sebanyak 150 cup bubur dari para donatur ditunaikan dan dibagikan bersama enam personel Remaja Masjid Al Hikmah. Setiap kemasan berstiker “Sesepuh 8 Lembaga” yang dimodifikasi dengan busana raja dan ratu Melayu—simbol kemuliaan tradisi dan persatuan. Sajian ini mengingatkan pada jejak Ramadhan di Medan, di sekitar Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun, tempat bubur rempah dahulu menjadi jamuan kebersamaan antara rakyat dan pemimpin.
Namun di Bali, bubur ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia menjadi pembuka rangkaian besar Menyambut Ramadhan yang Penuh Berkah.
Hari pertama hingga Rabu adalah fase penguatan niat dan syiar—memasak, berbagi, menyapa umat, menyebarkan flyer, dan menghidupkan semangat kebersamaan. Lalu, mulai Kamis, kegiatan sesungguhnya digelar: Bazaar Ramadhan Kemanusiaan.
Di dalamnya hadir podcast Ramadhan yang menghadirkan suara-suara kebaikan, bazaar sembako untuk masyarakat, serta gerakan santunan bagi yatim dan dhuafa. Seluruh hasil dan sinergi kegiatan ini didedikasikan untuk kemaslahatan—khususnya membantu saudara-saudara terdampak bencana di Sumatra, dan Indonesia pada umumnya.
Dari dapur sederhana lahir gerakan yang lebih besar. Dari bubur rempah, mengalir empati. Dari bazaar, tumbuh solidaritas. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah personal, melainkan momentum membangun peradaban kasih.
Terima kasih kepada para donatur, relawan, remaja masjid, dan seluruh elemen yang terlibat. Karena yang kita mulai hari ini bukan hanya agenda kegiatan—
melainkan ikhtiar panjang menjaga umat tetap peka dan peduli.(RAYD)