Detail Artikel

Dari Desa ke Denpasar: Jejak Kepemimpinan I Wayan Suaba

Dari Desa ke Denpasar: Jejak Kepemimpinan I Wayan Suaba

Denpasar
Di balik tembok sederhana Sekolah Pelangi Dharma Nusantara, yang tiap pagi riuh oleh suara anak-anak, berdirilah seorang tokoh yang tak banyak mencari sorotan. I Wayan Suaba, MBA, seorang anak desa yang meniti jalan hidupnya dengan ketekunan, kini menjadi figur sentral di dunia pendidikan Bali.

Suaba bukan sekadar Ketua Yayasan Pelangi Dharma Negara yang menaungi sekolah ini. Ia adalah wajah dari sebuah perjalanan panjang: dari tanah kelahiran yang sunyi hingga gelanggang kepemimpinan yang menuntut kebijaksanaan. Dalam dirinya, terkumpul pertemuan antara kerja keras, keyakinan spiritual, dan dedikasi sosial.

“Sekolah ini bukan hanya tentang angka dan raport,” ujarnya suatu ketika dalam sebuah wawancara kecil dengan media lokal. “Sekolah ini adalah taman, tempat anak-anak tumbuh dengan warna, dengan nilai, dengan budi pekerti.” Ucapannya sederhana, namun memancarkan filosofi pendidikan yang dalam.

Di tangan Suaba, Sekolah Pelangi Dharma Nusantara menjelma ruang belajar yang tak hanya mengajarkan literasi dan numerasi, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, serta cinta pada budaya. Tak heran jika lembaga ini kerap melahirkan prestasi di Denpasar, baik dalam bidang akademik maupun seni dan olahraga.

Namun di balik panggung prestasi, ada cerita getir yang ia torehkan sebagai anak desa yang pernah merasakan keterbatasan. Buku biografinya, “Perjalanan Hidup Anak Desa Sebagai Ayah Sejati”, menyingkap lapisan kehidupan itu: perjuangan, kegagalan, hingga kebangkitan yang akhirnya membawanya menjadi teladan. Buku itu bukan sekadar kisah pribadi, melainkan refleksi kolektif tentang pentingnya pendidikan sebagai cahaya penuntun.

Kini, saat Bali berlari mengejar modernitas, Suaba berdiri dengan kesadaran yang teguh: kemajuan tak boleh memutus akar. Di sekolahnya, anak-anak tak hanya diajar menulis huruf, tapi juga merangkai makna; tak sekadar menghitung angka, tapi juga menghargai kehidupan.

Jejak langkahnya, yang pernah bermula di jalan tanah pedesaan, kini terpatri di jalan-jalan Denpasar yang ramai. Namun dalam dirinya, suara desa itu tetap bergaung—sebagai kompas, sebagai doa, dan sebagai janji bahwa pendidikan adalah pelangi yang harus terus dijaga. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'