Dari Diplomasi hingga Kekuatan Global, Anis Matta Jawab Empat Pertanyaan tentang Palestina
Dari Diplomasi hingga Kekuatan Global, Anis
Matta Jawab Empat Pertanyaan tentang Palestina
Syamsul Arifin Persoalkan Efektivitas Diplomasi,
Linda Linsai Soroti Hubungan Indonesia-Israel, Farida Hanum Pertanyakan Posisi
Indonesia, Gunawan Dorong Aksi Lebih Tegas
DENPASAR,
Suara Umat.id — Setelah
memaparkan perubahan wajah konflik Palestina dan pergeseran geopolitik dunia,
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, H. Muhammad Anis Matta, Lc.,
menghadapi sejumlah pertanyaan tajam dari peserta Dialog Keumatan dan
Kebangsaan yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali.
Empat
penanya—Syamsul Arifin, Linda Linsai, Farida Hanum, dan Gunawan—mengangkat
persoalan dari sudut yang berbeda. Mulai dari efektivitas diplomasi selama
puluhan tahun, kemungkinan penggunaan kekuatan selain diplomasi, sikap
Indonesia terhadap Israel, boikot produk yang terafiliasi dengan Israel, hingga
posisi Indonesia di tengah konfigurasi kekuatan global.
Pertanyaan-pertanyaan
itu pada dasarnya bermuara pada satu kegelisahan:
Jika
diplomasi belum juga mampu menghentikan penderitaan Palestina, apa lagi yang
dapat dilakukan Indonesia?
Syamsul Arifin: Jika Diplomasi Tak Berhasil, Apa
Jalan Lain?
Pertanyaan
pertama datang dari Syamsul Arifin.
Ia
mengawali pertanyaannya dengan mengingat kembali perjalanan diplomasi Palestina
sejak proses perdamaian yang berkembang pada awal 1990-an, termasuk Perjanjian
Oslo 1993.
Menurut
Syamsul, perjalanan diplomasi selama puluhan tahun belum menghasilkan
kemerdekaan Palestina sebagaimana yang diharapkan.
Ia kemudian
mengaitkan persoalan tersebut dengan sejumlah ayat Al-Qur'an yang menurutnya
menggambarkan karakter hubungan antara umat Islam dengan Yahudi dan Nasrani.
Dari sana,
Syamsul mempertanyakan apakah pendekatan diplomasi semata masih memadai.
Ia bahkan
mengajukan pertanyaan yang lebih jauh: apakah umat Islam tidak perlu mencari upaya
strategis lain di luar diplomasi, termasuk membangun kekuatan militer
sebagaimana yang ia pahami pernah dilakukan dalam sejarah umat Islam.
Pertanyaan
tersebut tidak berhenti pada teori.
Syamsul
juga menyinggung posisi Hamas sebagai salah satu kekuatan yang melakukan
perlawanan bersenjata terhadap Israel.
Ia meminta
Anis Matta menjelaskan bagaimana seharusnya umat Islam melihat pilihan antara
diplomasi dan bentuk perlawanan lainnya.
Pertanyaan
itu menjadi pembuka diskusi yang kemudian bergerak dari persoalan Palestina
menuju sejarah panjang konflik dan perubahan narasi perjuangannya.
Linda Linsai: Jangan Buka Hubungan Diplomatik
dengan Israel
Pertanyaan
berikutnya datang dari Linda Linsai.
Linda
secara tegas meminta pemerintah Indonesia untuk tidak membuka hubungan
diplomatik dengan Israel.
Ia juga
menyoroti keberadaan warga Israel di Bali yang menurutnya telah menjalankan
aktivitas usaha di daerah tersebut.
Dalam
konteks itu, Linda meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap
kemungkinan berkembangnya hubungan Indonesia-Israel di luar kerangka yang
selama ini menjadi kebijakan resmi.
Pertanyaan
kedua Linda berkaitan dengan boikot produk yang dianggap terafiliasi dengan
Israel.
Ia
mengingatkan bahwa MUI telah menyerukan gerakan boikot terhadap produk-produk
yang memiliki keterkaitan dengan Israel. Linda kemudian mempertanyakan
bagaimana sikap pemerintah terhadap gerakan tersebut.
Bagi Linda,
dukungan terhadap Palestina tidak hanya diwujudkan melalui diplomasi negara,
tetapi juga melalui pilihan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia
menyerukan agar masyarakat, termasuk para ibu rumah tangga, lebih sadar
terhadap produk yang mereka beli dan menggunakan kekuatan konsumen sebagai
bagian dari solidaritas kepada Palestina.
Farida Hanum: Di Mana Posisi Indonesia di Tengah
Kekuatan Global?
Pertanyaan
ketiga disampaikan Farida Hanum.
Ia membawa
diskusi ke persoalan yang lebih luas: posisi Indonesia dalam percaturan politik
dunia.
Farida
mempertanyakan keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum dan organisasi
internasional yang dalam pembacaannya memiliki keterkaitan dengan kepentingan
Amerika Serikat.
Pertanyaan
itu muncul karena adanya kekhawatiran bahwa posisi Indonesia dapat
dipersepsikan sebagai keberpihakan kepada salah satu kekuatan global.
Jika
Indonesia ingin memperjuangkan kemerdekaan Palestina, kata Farida, bagaimana
negara ini dapat memainkan peran yang efektif apabila pada saat yang sama
dipandang berada dalam orbit kekuatan tertentu?
Pertanyaan
Farida pada akhirnya kembali kepada satu persoalan fundamental:
Bagaimana
Indonesia menjaga independensi politik luar negerinya sembari tetap aktif
memperjuangkan Palestina?
Gunawan: Indonesia Jangan Berhenti pada Pernyataan
Penanya
keempat, Gunawan, membawa kegelisahan yang hampir serupa, tetapi dengan
tekanan berbeda.
Ia
menyoroti posisi Indonesia sebagai negara yang secara konstitusional dan
historis memiliki komitmen terhadap perdamaian, kemerdekaan, dan keadilan.
Menurutnya,
prinsip tersebut harus tetap menjadi pegangan Indonesia.
Namun,
Gunawan menginginkan agar posisi tersebut tidak berhenti pada pernyataan
politik.
Indonesia,
menurut pandangannya, perlu bergerak lebih jauh—bukan sekadar melakukan
pendekatan diplomatik atau menyampaikan pernyataan, tetapi melakukan aksi
nyata.
Ia berharap
Indonesia dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam mendorong penyelesaian
konflik Palestina dan tidak terseret ke dalam pertarungan kepentingan
negara-negara besar.
Pertanyaan
Gunawan sekaligus menjadi tantangan kepada diplomasi Indonesia: apakah
Jakarta cukup puas menjadi penyampai pesan, atau mampu menjadi salah satu
kekuatan yang ikut mengubah keadaan?
Anis Matta: Narasi Palestina Telah Berubah Tiga
Kali
Menjawab
rangkaian pertanyaan tersebut, Anis Matta tidak langsung masuk kepada persoalan
diplomasi atau kekuatan militer.
Ia justru
membawa peserta mundur ke sejarah.
Anis
mengatakan bahwa dirinya telah mengikuti perkembangan isu Palestina dalam waktu
yang panjang. Ia bahkan mengaitkan perjalanan tersebut dengan pengalaman
profesionalnya sejak awal 1990-an.
Dari
pembacaan sejarah itu, Anis melihat bahwa narasi perjuangan Palestina telah
mengalami beberapa perubahan besar.
Perubahan
tersebut penting untuk memahami mengapa isu Palestina hari ini memiliki daya
jangkau yang jauh lebih luas dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Gelombang Pertama: Arab versus Israel
Menurut
Anis, pada periode awal, konflik Palestina lebih banyak dibingkai sebagai konflik
Arab-Israel.
Setelah
berdirinya Israel pada 1948, persoalan Palestina berada dalam konfigurasi
konflik kawasan yang melibatkan negara-negara Arab.
Dalam
konteks itu, berbagai kelompok Palestina kemudian berhimpun dalam Organisasi
Pembebasan Palestina atau PLO.
Narasi
perjuangan saat itu masih kuat sebagai konflik teritorial dan politik di
kawasan Timur Tengah.
Namun,
menurut Anis, narasi tersebut mengalami perubahan menjelang akhir 1980-an.
Munculnya Hamas dan Gelombang Kedua
Pada akhir
dekade 1980-an, muncul kelompok-kelompok perlawanan baru yang tidak lagi
sepenuhnya mempercayai PLO sebagai kendaraan perjuangan Palestina.
Salah
satunya adalah Hamas, yang menurut Anis mulai berkembang dari lingkungan
sosial-keagamaan dan masjid.
Kemunculan
kelompok-kelompok tersebut kemudian mengubah wajah perjuangan Palestina.
Jika
sebelumnya konflik lebih banyak dibaca sebagai konflik Arab-Israel, maka sejak
periode itu muncul narasi baru:
Islam
versus Zionisme.
Palestina
tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan bangsa Palestina atau bangsa Arab,
tetapi sebagai persoalan yang menyentuh identitas dan solidaritas umat Islam
secara lebih luas.
Menurut
Anis, narasi tersebut membuat dukungan terhadap Palestina menyebar ke berbagai
negara Muslim, termasuk Indonesia.
Demonstrasi
dan gerakan solidaritas Palestina kemudian berkembang di berbagai belahan
dunia.
2023 dan Gelombang Ketiga: Kemanusiaan versus
Antikemanusiaan
Namun,
menurut Anis, perubahan terbesar terjadi setelah perang yang meletus pada 2023.
Ia menyebut
isu Palestina memasuki gelombang ketiga, yakni:
kemanusiaan
versus antikemanusiaan.
Dalam
kerangka ini, Palestina tidak lagi semata-mata dibaca sebagai isu agama, Arab,
ataupun Islam.
Yang tampil
ke permukaan adalah persoalan kemanusiaan.
Korban
sipil, kehancuran, penderitaan masyarakat, dan dugaan pelanggaran berat
terhadap kemanusiaan membuat isu Palestina mendapatkan perhatian di berbagai
negara yang tidak semuanya memiliki keterikatan agama dengan Palestina.
Anis
menilai perkembangan tersebut sangat penting.
Sebab
ketika Palestina dibaca sebagai isu kemanusiaan, maka dukungan terhadapnya
tidak lagi terbatas pada umat Islam.
Ia dapat
menjadi bagian dari perdebatan politik di Eropa dan Amerika Serikat.
Bahkan,
menurut Anis, isu Palestina telah masuk ke dalam dinamika politik domestik
negara-negara Barat, termasuk pemilihan umum dan perdebatan di lingkungan
partai politik.
Ketika Israel Menghadapi Krisis Legitimasi Moral
Dari
sinilah Anis kemudian membawa peserta kepada persoalan yang menurutnya tidak
kalah penting dibandingkan persoalan militer.
Yakni, legitimasi
moral Israel di mata dunia.
Menurut
Anis, dukungan moral yang selama ini menjadi salah satu fondasi pembelaan
terhadap Israel mengalami tekanan akibat perkembangan perang di Gaza.
Ia
menyinggung paradoks sejarah: masyarakat Yahudi pernah menjadi korban genosida
di Eropa, sementara dalam konflik Palestina hari ini muncul tuduhan bahwa
negara Israel melakukan tindakan yang juga dipandang sebagai genosida terhadap
rakyat Palestina.
Anis
menempatkan persoalan tersebut sebagai salah satu titik balik penting dalam
opini publik internasional.
Bukan lagi
semata-mata soal siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar.
Tetapi
siapa yang masih memiliki moral ground di hadapan dunia.
Menurutnya,
perkembangan sikap sejumlah negara Eropa menunjukkan adanya perubahan dalam
cara dunia Barat melihat konflik tersebut.
PBB Dipertanyakan, Indonesia Diminta Mencari Jalan
Di titik
ini, Anis menjawab kegelisahan para penanya mengenai efektivitas diplomasi
internasional.
Ia mengakui
adanya persoalan besar: dunia menyaksikan penderitaan masyarakat Palestina,
tetapi lembaga internasional sering dianggap tidak mampu menghentikannya.
Anis
menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi ketika banyak pihak mengetahui
adanya tragedi kemanusiaan, tetapi tidak memiliki kemampuan efektif untuk
mengatakan “stop”.
Karena itu,
menurut Anis, diperlukan upaya untuk mencari jalan lain melalui kekuatan
politik negara-negara yang memiliki pengaruh.
Ia kemudian
menjelaskan gagasan mengenai penggalangan negara-negara Muslim yang mempunyai
bobot politik besar untuk mendorong kekuatan-kekuatan utama dunia mengambil
langkah penghentian perang.
Dengan
demikian, diplomasi tidak dipandang sebagai sekadar kegiatan menyampaikan
kecaman.
Diplomasi
harus dikonversi menjadi kekuatan politik yang menghasilkan tekanan nyata.
Dari Penghentian Perang hingga Rekonstruksi Gaza
Anis
kemudian menjelaskan bahwa persoalan Palestina tidak berhenti pada bagaimana
perang dihentikan.
Ada
persoalan lain yang menunggu setelah perang: bagaimana Gaza dibangun
kembali.
Ia menyebut
gagasan rekonstruksi Gaza sebagai bagian dari pembicaraan internasional yang
berkembang.
Menurut
Anis, jika tujuan utama adalah menyelamatkan manusia dan menghentikan genosida,
maka persoalan berikutnya adalah memastikan adanya mekanisme keamanan dan
rekonstruksi.
Di sinilah
muncul gagasan mengenai kehadiran pasukan internasional sebagai bagian dari
mekanisme keamanan.
Anis juga
mengaitkannya dengan pertemuan internasional yang dihadiri Presiden Prabowo
Subianto, termasuk pembicaraan yang kemudian berlanjut di Mesir.
Baginya,
proses tersebut menunjukkan bahwa diplomasi dapat diarahkan menuju langkah
konkret apabila negara-negara memiliki kepentingan yang sama untuk menghentikan
perang.
Kegagalan Intelijen Israel dan Lahirnya Pertanyaan
Baru
Menariknya,
dalam bagian akhir jawabannya, Anis juga menyoroti serangan Hamas pada 7
Oktober dan dampaknya terhadap persepsi mengenai kekuatan Israel.
Menurut
pembacaan Anis, serangan tersebut mengguncang persepsi terhadap kemampuan
militer dan intelijen Israel.
Ia
mempertanyakan bagaimana sebuah negara dengan sistem intelijen yang dianggap
sangat kuat dapat mengalami kegagalan dalam mencegah serangan tersebut.
Persoalan
itu, menurut Anis, kemudian berlanjut ketika Israel melancarkan operasi militer
besar-besaran di Gaza tetapi tetap menghadapi kesulitan menemukan jaringan
terowongan Hamas dan para sandera Israel.
Dari sini,
Anis melihat adanya pertanyaan mengenai efektivitas strategi militer Israel.
Ia juga
menyebut pendekatan yang berulang dalam strategi Israel, yakni upaya
melumpuhkan kepemimpinan kelompok perlawanan.
Namun,
menurut Anis, strategi tersebut tidak otomatis mengakhiri perlawanan.
Sebaliknya,
dalam sejumlah kasus yang ia paparkan, muncul kembali kekuatan baru setelah
tokoh-tokoh penting kelompok perlawanan disingkirkan.
Indonesia dan Palestina: Diplomasi yang Harus
Menjadi Kekuatan
Rangkaian
tanya jawab tersebut akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan Palestina yang
dibahas di Denpasar bukan lagi sekadar pertanyaan tentang “mendukung atau
tidak mendukung Palestina.”
Pertanyaannya
jauh lebih besar.
Bagaimana
Indonesia menggunakan posisi politiknya?
Bagaimana
diplomasi diterjemahkan menjadi tekanan?
Bagaimana
Indonesia menjaga independensinya di tengah rivalitas Amerika Serikat, China,
Israel, Iran dan kekuatan-kekuatan regional?
Dan yang
paling penting:
Bagaimana
perjuangan diplomatik Indonesia dapat benar-benar menghasilkan perubahan bagi
rakyat Palestina?
Empat
pertanyaan dari Syamsul Arifin, Linda Linsai, Farida Hanum, dan Gunawan
memperlihatkan satu hal yang sama: publik tidak hanya membutuhkan pernyataan
solidaritas.
Mereka
menginginkan arah, strategi, dan tindakan.
Sementara
Anis Matta menempatkan jawabannya dalam kerangka yang lebih luas: Palestina
kini bukan lagi sekadar konflik lokal, bukan hanya konflik Arab-Israel, dan
bukan hanya isu Islam versus Zionisme.
Palestina
telah menjadi ujian bagi wajah kemanusiaan dunia.
Dan bagi
Indonesia, ujian itu sekaligus menjadi pertanyaan tentang seberapa jauh politik
luar negeri bebas aktif mampu menjelma menjadi kekuatan diplomasi yang nyata.(RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



