Detail Artikel

DARI GURU PENGGUNA MEDIA MENJADI GURU YANG MENGGERAKKAN MEDIA

DARI GURU PENGGUNA MEDIA MENJADI GURU YANG MENGGERAKKAN MEDIA

Malam Hari Temu Guru Gembira, H. Edy Kuscahyanto Ajak Guru Memahami Karakter Media Sosial dan Mengubahnya Menjadi Ruang Edukasi

DENPASAR, 7 Agustus 2026 — Hari pertama Temu Guru Gembira 2026 belum berakhir ketika malam mulai turun di Denpasar.

Setelah sepanjang hari para guru berdiskusi mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman bersama Khelmy serta arah kebijakan guru dan tenaga kependidikan bersama Fahmi, perhatian peserta kemudian dialihkan kepada sesuatu yang hampir selalu berada di tangan mereka: telepon genggam dan media sosial.

Pada sesi malam, Edy  mengajak para guru melihat kembali hubungan mereka dengan media.

Bukan sekadar sebagai pengguna, tetapi sebagai pembuat, penyebar, sekaligus penanggung jawab informasi.

“Bagaimana kita bisa memanfaatkan media bagi kepentingan organisasi kita, bagi kepentingan kemanusiaan masyarakat?”

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk pembahasan literasi media yang berlangsung pada malam pertama Temu Guru Gembira.

Guru dan Media: Dari Bangun Tidur hingga Tidur Lagi

Media sosial, kata Edy, telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan, aktivitas bermedia dapat berlangsung sejak seseorang membuka mata pada pagi hari hingga kembali tidur pada malam hari.

WhatsApp, TikTok, Facebook, dan berbagai platform lainnya bukan lagi sekadar teknologi komunikasi. Mereka telah menjadi ruang tempat informasi diproduksi, dikonsumsi, dibagikan, bahkan diperdebatkan.

Karena itu, guru perlu memahami karakter masing-masing platform.

Apa yang efektif di WhatsApp belum tentu efektif di TikTok. Apa yang cocok untuk Facebook belum tentu sesuai untuk platform lain.

Setiap media memiliki karakter, pengguna, pola komunikasi, dan cara kerja yang berbeda.

Di sinilah literasi media menjadi penting.

Bukan Sekadar Konsumen Informasi

Salah satu gagasan menarik yang disampaikan Edy adalah perubahan posisi masyarakat di era media sosial.

Dahulu, masyarakat lebih banyak berada pada posisi sebagai konsumen informasi.

Kini, setiap orang dapat sekaligus menjadi produsen dan konsumen informasi.

Guru pun berada dalam posisi yang sama.

Satu unggahan guru dapat dibaca oleh murid, orang tua, sesama guru, masyarakat, bahkan publik yang jauh di luar lingkungan sekolah.

Satu kali klik “kirim” dapat membuat informasi bergerak jauh melampaui ruang kelas.

Karena itu, kemampuan membuat konten tidak dapat dipisahkan dari kemampuan memeriksa informasi.

Cepat Bukan Berarti Benar

Media sosial memiliki karakter yang sangat cepat.

Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik.

Namun, menurut pesan yang dibangun dalam sesi tersebut, kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan.

Guru perlu bertanya:

Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apa konteksnya? Siapa yang membuatnya? Untuk kepentingan apa informasi tersebut disebarkan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi bagian penting dari literasi media.

Sebab persoalan media sosial bukan hanya mengenai kemampuan menggunakan aplikasi.

Persoalan utamanya adalah kemampuan berpikir sebelum mempercayai, membuat, dan menyebarkan informasi.

Media Sosial Bukan Sekadar Tempat Berbagi

Edy juga membedakan karakter media massa dan media sosial.

Media massa memiliki mekanisme jurnalistik dan proses produksi informasi yang lebih terstruktur. Sementara media sosial memberikan ruang yang jauh lebih luas kepada pengguna untuk membuat dan menyebarkan informasi sendiri.

Di media sosial, publik dapat memberikan respons secara langsung.

Mereka dapat berkomentar, membagikan ulang, membuat versi baru, bahkan memproduksi informasi lanjutan.

Pengguna media sosial akhirnya bukan hanya audience, tetapi juga menjadi bagian dari proses produksi informasi.

Perubahan inilah yang menurut Edy harus dipahami oleh guru.

Karena guru bukan hanya pengguna media.

Guru adalah figur publik di lingkungan sekolah yang memiliki tanggung jawab edukatif ketika menggunakan media.

Guru Punya Modal Cerita yang Luar Biasa

Di bagian lain, pembahasan menjadi semakin dekat dengan kehidupan peserta.

Guru sebenarnya memiliki bahan cerita yang sangat banyak.

Ada praktik baik di kelas. Ada kreativitas murid. Ada inovasi pembelajaran. Ada kegiatan sekolah. Ada perjuangan guru di daerah. Ada perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat besar, tetapi memiliki makna bagi peserta didik.

Semua itu dapat menjadi konten pendidikan.

Persoalannya adalah bagaimana cerita tersebut dikemas.

Bukan dengan membuat sesuatu yang berlebihan, tetapi dengan mengangkat fakta, pengalaman, dan karya nyata yang memang terjadi di lapangan.

Dengan demikian, media sosial sekolah tidak hanya berisi pengumuman.

Ia dapat menjadi jendela yang memperlihatkan kepada masyarakat bagaimana pendidikan benar-benar berlangsung.

Dari “Posting” Menjadi “Memberi Dampak”

Di sinilah pesan Edy menemukan relevansinya dengan semangat besar Temu Guru Gembira.

Kegiatan ini tidak hanya ingin membuat guru memahami kebijakan, tetapi juga mendorong guru mampu membawa pengalaman dan pengetahuan itu ke lingkungan sekolah masing-masing. Dokumen kegiatan secara eksplisit menempatkan literasi digital sebagai salah satu penguatan kapasitas guru.

Maka media sosial dapat menjadi salah satu alat untuk melakukan pengimbasan.

Guru dapat menjadi penghubung antara praktik baik di sekolah dengan masyarakat luas.

Sebuah pembelajaran yang berhasil dapat dibagikan.

Sebuah inovasi dapat diperkenalkan.

Sebuah kebijakan dapat dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Dan sebuah cerita tentang perjuangan guru dapat menjadi inspirasi bagi guru lain.

Malam yang Mengubah Cara Pandang terhadap “HP”

Menariknya, sesi ini hadir setelah peserta menjalani rangkaian materi kebijakan yang cukup padat sejak pagi.

Telepon genggam yang sejak awal menjadi bagian dari keseharian peserta, malam itu justru dibaca dengan cara berbeda.

Bukan lagi semata-mata sebagai alat untuk membuka WhatsApp, melihat TikTok, atau berselancar di media sosial.

HP dapat menjadi alat belajar. Media sosial dapat menjadi ruang berbagi. Dan guru dapat menjadi produsen pengetahuan.

Itulah salah satu pesan penting dari sesi literasi media malam tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan yang dibawa pulang para guru bukan lagi:

“Apa yang sedang viral?”

Melainkan:

“Apa yang bisa saya buat agar media yang saya gunakan memberi manfaat bagi murid, sekolah, dan masyarakat?”

Hari pertama Temu Guru Gembira pun ditutup dengan satu kesadaran baru:

Di era ketika hampir semua orang bisa menjadi pembuat informasi, guru harus hadir bukan hanya sebagai pengguna media, tetapi sebagai penjaga kualitas informasi sekaligus penggerak pengetahuan.

Dan mungkin, dari situlah guru gembira juga dapat menjadi guru yang mampu menggembirakan ruang digital.(RAYD)

 PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'