Dari Karpet Merah yang Membisu, Menuju Pesan tentang Profesionalisme dan Persyarikatan
Dari Karpet Merah yang Membisu, Menuju Pesan
tentang Profesionalisme dan Persyarikatan
DENPASAR — Jarum jam telah menunjukkan
pukul 08.23 WITA. Namun, pagi itu acara belum juga bergerak. Waktu terus
berjalan, sementara suasana di dalam ruangan masih seperti sebuah kota yang
belum sepenuhnya terbangun.
Sebagian
hadirin tampak mengelompok, terpisah dalam percakapan-percakapan kecil,
bagaikan kepulauan yang tersebar di hamparan Nusantara. Ada percakapan dalam
bahasa Bali, bahasa Jawa, dan bahasa Indonesia. Semuanya berpadu menjadi
semacam musik tanpa irama—riuh, tetapi akrab.
Di bagian
depan, karpet merah terhampar. Diam. Membisu. Seolah menunggu saatnya menjadi
tempat bermulanya sebuah perjumpaan.
Lalu,
perlahan, perhatian hadirin tertuju pada sumber suara. Percakapan mulai mereda.
Satu demi satu peserta mengambil tempat. Saf-saf mulai terbentuk.
Jarum jam
bergerak menuju angka 08.31 WITA.
Pagi itu,
Ahad (20/9/2026), kegiatan kajian Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan
Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)
Kota Denpasar segera dimulai. Para guru dan karyawan dari lingkungan pendidikan
Muhammadiyah hadir dalam satu ruang, mempertemukan kembali wajah-wajah yang
sehari-hari berada di ruang sekolah yang berbeda.
Acara
diawali dengan salam dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Setelah itu, sambutan
Majelis Dikdasmen dan PNF disampaikan oleh Drs. Ahmad Khamin, mewakili
pimpinan majelis.
Dalam
sambutannya, Ahmad terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf karena Ketua
PDM Kota Denpasar, H. Najmuddin, S.Pd., belum dapat hadir. Demikian pula
Sekretaris, Agung Surya Ali Haqie, S.Pd., Gr., yang disebut sedang
berada di luar daerah.
Namun,
absennya dua pimpinan tersebut tidak membuat pesan yang hendak disampaikan
kehilangan arah. Justru dari ruang sederhana itu, Ahmad membawa sejumlah
persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan para guru dan karyawan
Muhammadiyah: profesionalisme, kedisiplinan, kebersamaan antarunit sekolah,
perkembangan teknologi pendidikan, hingga pentingnya membekali peserta didik
dengan kecakapan hidup.
DKMU dan Ikhtiar Membenahi Tata Kelola
Salah satu
hal yang disinggung Ahmad adalah perkembangan DKMU, yang selama ini
masih menyisakan pertanyaan di kalangan guru dan karyawan.
Ia
menjelaskan, perkembangan zaman menuntut lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk
terus memperbaiki tata kelola. Sekolah tidak cukup hanya berjalan berdasarkan
kebiasaan lama. Sistem kerja perlu ditata agar lebih mudah dipantau, terukur,
dan profesional.
Menurutnya,
keberadaan sistem tersebut diharapkan dapat membantu memonitor kehadiran,
aktivitas, serta keterlibatan guru dan karyawan, baik di dalam maupun di luar
sekolah.
"Tujuannya
agar kita mudah untuk memonitoring Bapak-Ibu semua," demikian inti pesan
yang disampaikannya.
Bagi Ahmad,
pembenahan sistem bukanlah semata-mata persoalan administrasi. Di baliknya
terdapat ikhtiar untuk membangun budaya kerja yang lebih tertib dan
profesional.
Ia berharap
tidak ada lagi persoalan mengenai mekanisme izin, kehadiran, maupun aktivitas
guru yang berjalan tanpa kejelasan.
Profesionalisme,
menurut pesan yang disampaikannya, bukan hanya diperlukan karena adanya sistem
pengawasan. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab warga Muhammadiyah ketika
membawa nama lembaga pendidikan di tengah masyarakat.
Jangan Terjebak dalam Sekat Sekolah
Pesan lain
yang cukup kuat adalah mengenai pentingnya membangun rasa memiliki terhadap
seluruh lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Di
lingkungan Muhammadiyah Kota Denpasar, terdapat beberapa unit pendidikan.
Namun, keberadaan unit-unit tersebut jangan sampai justru melahirkan sekat
psikologis.
"Jangan
sampai kita ada di satu lingkungan, satu sama lain tidak kenal," demikian
gagasan yang disampaikan Ahmad.
Ia mengajak
para guru dan karyawan untuk membangun hubungan yang lebih dekat, saling
mengenal, dan menciptakan suasana kerja yang nyaman. Sekolah bukan sekadar
kumpulan ruang kelas, kantor, dan papan nama. Ia adalah ekosistem yang hidup
karena manusia-manusia di dalamnya saling menyapa, saling mengenal, dan saling
menjaga.
Karena itu,
kebersamaan antarunit pendidikan Muhammadiyah perlu terus dirawat.
Semangatnya
sederhana: jangan merasa menjadi guru SMP saja, guru SMA saja, atau pegawai
di satu unit saja. Semua berada dalam rumah besar yang sama.
Dari
kebersamaan itulah, menurut Ahmad, kekuatan Muhammadiyah di bidang pendidikan
dapat tumbuh.
Menjaga Sekolah, Menjaga Nama Muhammadiyah
Ahmad juga
mengingatkan agar guru dan karyawan tidak bersikap terlalu sektoral dalam
menjalankan tanggung jawab terhadap peserta didik.
Ketika
berada dalam lingkungan pendidikan Muhammadiyah, setiap orang memiliki tanggung
jawab moral untuk ikut menjaga ketertiban dan kedisiplinan.
Jika
menemukan peserta didik yang tidak sesuai dengan aturan sekolah, guru maupun
pegawai diharapkan tidak berpangku tangan dengan alasan, "Itu bukan
urusan saya."
Sebab, bagi
Ahmad, anak-anak yang berada di lingkungan Muhammadiyah adalah bagian dari
tanggung jawab bersama.
Persoalan
rambut, pakaian, kedisiplinan, maupun perilaku peserta didik tidak semestinya
dipandang hanya sebagai urusan satu unit sekolah. Ada nilai kebersamaan yang
lebih besar yang harus dijaga.
Pesan itu
sekaligus menjadi pengingat bahwa citra sekolah Muhammadiyah dibentuk bukan
hanya oleh kepala sekolah atau guru tertentu. Ia dibentuk oleh seluruh orang
yang berada di dalamnya.
Termasuk
mereka yang berada di pintu depan.
Ahmad
bahkan menyinggung pentingnya keramahan dalam menerima tamu. Ketika seseorang
datang ke lingkungan sekolah, sapaan sederhana seperti "Assalamu'alaikum,
Pak, mau bertemu siapa? Bisa saya bantu?" menjadi bagian kecil dari
wajah Muhammadiyah yang terlihat oleh masyarakat.
Sebuah
sapaan mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sapaan itulah orang luar
mengenali bagaimana sebuah lembaga memperlakukan manusia.
Mengikuti Perubahan, Bukan Sekadar Mengejar
Perubahan
Di tengah
perubahan dunia pendidikan yang berlangsung cepat, Ahmad juga mengingatkan para
guru agar mengikuti perkembangan secara proporsional.
Kurikulum
berubah. Teknologi berkembang. Cara belajar peserta didik bergeser. Dunia
bergerak semakin cepat.
Namun,
mengikuti perkembangan zaman bukan berarti kehilangan pijakan.
Ia
mengingatkan agar para guru terus belajar dan memahami perkembangan pendidikan,
tetapi tidak sekadar menjadi pengikut dari setiap perubahan yang datang.
Ada hal-hal
yang perlu diadopsi. Ada pula nilai-nilai lama yang justru perlu dipertahankan.
Di titik
inilah pendidikan Muhammadiyah dituntut untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga
memiliki arah.
Jangan Biarkan Anak Hanya Pandai Memegang Gawai
Menjelang
akhir sambutannya, Ahmad membawa perhatian hadirin pada sesuatu yang sangat
dekat dengan kehidupan keluarga dan sekolah: life skill.
Ia
mengingatkan agar anak-anak tidak hanya dibekali kemampuan menggunakan komputer
dan gawai.
Keterampilan
sederhana yang dahulu dianggap biasa, menurutnya, tetap memiliki nilai penting.
Ia memberi
contoh keterampilan seperti menyetrika, menjahit, dan merawat pakaian.
Keterampilan-keterampilan
semacam itu mungkin tidak selalu tampak canggih. Namun, justru di sanalah
pendidikan menyentuh kehidupan nyata.
Anak tidak
hanya dipersiapkan untuk menjawab soal di ruang ujian, tetapi juga untuk
menjalani kehidupan setelah keluar dari ruang kelas.
Pendidikan,
dengan demikian, tidak berhenti pada kecakapan akademik. Ia juga harus
melahirkan manusia yang mampu mengurus dirinya, memahami tanggung jawab,
bekerja sama, dan menghadapi kehidupan dengan kemandirian.
Pendidikan sebagai Amanah Persyarikatan
Pada bagian
akhir sambutannya, Ahmad menyampaikan apresiasi kepada para guru dan karyawan
yang hadir.
Ia mengajak
seluruh unsur pendidikan Muhammadiyah untuk terus bergerak bersama memajukan
lembaga pendidikan persyarikatan.
Ada satu
harapan yang turut disampaikannya, yakni agar pengembangan dan penguatan
lembaga pendidikan Muhammadiyah di Denpasar dapat terus berjalan, termasuk
penguatan SMP Muhammadiyah 2 Denpasar.
Pagi itu,
sebelum ceramah utama tentang "Meraih Syurga Bersama Keluarga"
disampaikan, para guru terlebih dahulu diingatkan bahwa membangun keluarga
besar Muhammadiyah juga berarti membangun sekolah sebagai rumah bersama.
Sebab
sekolah bukan hanya tempat anak-anak belajar.
Ia adalah
tempat nilai ditanamkan, keteladanan dipertontonkan, kedisiplinan dibiasakan,
dan karakter dibentuk.
Dan di
balik semua itu ada guru-guru yang setiap hari memikul amanah—bukan sekadar
mengajar pelajaran, tetapi ikut menentukan wajah generasi yang akan datang.
Pagi
semakin terang.
Karpet
merah yang sejak awal membisu kini telah kehilangan kesunyiannya. Saf-saf telah
terbentuk. Percakapan telah menemukan tempatnya.
Dan dari
sebuah ruangan di Denpasar, kajian itu pun bergerak: dari urusan sistem dan
kedisiplinan, menuju pertanyaan yang jauh lebih dalam—bagaimana pendidikan,
keluarga, dan persyarikatan bersama-sama mengantarkan manusia menuju kehidupan
yang diridai Allah.
(RAYD)



