Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata: Perempuan Bali Menjadi Garda Terdepan Memilah Sampah
Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata: Perempuan Bali Menjadi Garda Terdepan Memilah Sampah
Oleh: Redaksi SuaraUmat.id
DENPASAR — Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Dalam isu lingkungan, langkah itu dimulai dari rumah, dari dapur, dan dari tangan seorang ibu. Pesan itulah yang mengemuka dalam Talkshow "Green Leadership Perempuan: Dari Kesadaran ke Aksi Nyata" yang digelar di UPTD Pengembangan Kampus Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026), menghadirkan tokoh perempuan, pegiat lingkungan, akademisi, serta masyarakat lintas agama untuk bersama-sama membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah.
Mengusung semangat kolaborasi, acara ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ajakan moral agar perempuan mengambil peran strategis sebagai pemimpin perubahan lingkungan.
"Kalau bukan ibu yang memulai memilah sampah di rumah, lalu siapa lagi?" demikian pesan yang berulang kali disampaikan dalam sambutan pembuka kegiatan.
Sampah Bukan Lagi Urusan Petugas Kebersihan
Selama bertahun-tahun masyarakat terbiasa berpikir bahwa sampah adalah persoalan pemerintah atau petugas kebersihan. Paradigma itulah yang kini ingin diubah.
Sesungguhnya, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang kemudian diperkuat di Bali melalui berbagai regulasi daerah, termasuk Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2011, Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 mengenai pembatasan plastik sekali pakai, serta Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Semua regulasi tersebut menegaskan bahwa sampah harus diselesaikan dari tempat asalnya, yakni rumah tangga.
Karena itu Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong implementasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang kini menjadi salah satu program prioritas daerah.
Dalam konsep ini, rumah tangga bukan lagi penghasil sampah, melainkan pusat pengelolaan sampah.
Mengapa Perempuan Menjadi Kunci?
Tidak berlebihan jika perempuan disebut sebagai aktor utama dalam revolusi pengelolaan sampah.
Sebagian besar aktivitas rumah tangga—mulai dari memasak, berbelanja, hingga mengelola sisa makanan—berada di bawah kendali ibu. Di sanalah sampah pertama kali lahir.
Karena itu, perubahan perilaku keluarga sangat bergantung pada keputusan seorang ibu.
Tema besar talkshow ini, "Dari Kesadaran ke Aksi Nyata", bukan sekadar slogan.
Kesadaran harus diwujudkan dalam tindakan sederhana:
memilah sampah organik;
memisahkan sampah anorganik;
mengurangi plastik sekali pakai;
mengolah sampah dapur menjadi kompos;
serta memanfaatkan limbah organik menjadi eco enzyme.
Langkah sederhana tersebut, apabila dilakukan jutaan keluarga, akan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara signifikan.
Rumah Tangga Menjadi Garda Pertama
Data Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen sampah berasal dari rumah tangga, sehingga penyelesaian persoalan sampah memang harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Dalam pedoman PSBS, masyarakat diajak memisahkan sampah menjadi tiga kelompok utama:
Organik, seperti sisa makanan, daun, dan limbah dapur.
Anorganik, berupa plastik, logam, kertas, dan kaca yang masih dapat didaur ulang.
Residu, yaitu sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali seperti popok sekali pakai, pembalut, tisu bekas, dan puntung rokok.
Prinsip sederhana ini menjadi fondasi lahirnya ekonomi sirkular yang memungkinkan sampah memiliki nilai ekonomi.
Eco Enzyme: Limbah Menjadi Berkah
Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah pengenalan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran.
Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa eco enzyme bukan hanya bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila diproduksi secara konsisten.
Bahkan telah muncul kelompok-kelompok perempuan yang berhasil mengolah eco enzyme menjadi produk bernilai jual, sekaligus mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke TPA.
Pemateri Ir. Nelly Hartati, ST., MT., yang dikenal sebagai praktisi sekaligus penggiat pengelolaan sampah dan eco enzyme, juga memberikan demonstrasi pembuatan eco enzyme sebagai bagian dari sesi edukasi kepada peserta.
Jangan Membakar Sampah
Dalam sambutannya, panitia juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan kebiasaan membakar sampah.
Asap hasil pembakaran sampah, khususnya plastik, mengandung zat beracun yang membahayakan kesehatan manusia dan mencemari udara.
Pedoman Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber juga menegaskan bahwa pembakaran sampah plastik menghasilkan racun berbahaya sehingga harus dihindari.
Karena itu masyarakat didorong memilih cara yang lebih ramah lingkungan, yakni memilah, mengomposkan, mendaur ulang, serta menyerahkan sampah yang masih bernilai kepada bank sampah atau TPS3R.
Kolaborasi Tanpa Sekat
Salah satu hal yang memberi warna tersendiri dalam kegiatan ini adalah semangat kebersamaan lintas organisasi dan lintas agama.
Penyelenggara menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal sekat suku, agama, maupun organisasi. Semua memiliki tanggung jawab yang sama menjaga bumi.
Kolaborasi antara organisasi perempuan, komunitas lingkungan, akademisi, dan masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan adalah gerakan bersama.
Semangat inilah yang ingin terus dipupuk agar budaya memilah sampah tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.
Dari Rumah Menjaga Bali
Menjaga Bali tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Ia bisa dimulai dari dapur.
Dari ember kompos.
Dari membawa tumbler sendiri.
Dari menolak plastik sekali pakai.
Dari memisahkan sisa makanan sebelum dibuang.
Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun setiap kebiasaan baik selalu berawal dari satu keputusan sederhana: memulai.
Dan ketika jutaan perempuan Bali melakukan langkah yang sama, maka cita-cita Bali Bersih Sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang tumbuh dari rumah-rumah warganya. (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



