Dari Linimasa ke Lapangan: ITB STIKOM Bali Tunjukkan Kiprah Cepat atas Isu Viral Masyarakat
Dari Linimasa ke Lapangan: ITB STIKOM Bali Tunjukkan Kiprah Cepat atas Isu Viral Masyarakat
Denpasar, Juli 2025 — Ketika percakapan publik di media sosial berdenyut kencang akibat isu masyarakat yang mendesak, ITB STIKOM Bali melangkah keluar dari tembok akademik untuk menjawabnya langsung di lapangan. Perguruan tinggi ini membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat lahirnya teori, tetapi juga rumah bagi solusi nyata dan respons cepat terhadap realitas sosial.
Viralnya isu tentang literasi digital, penyalahgunaan teknologi informasi, serta minimnya kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI), tidak berhenti di ranah debat daring. Di pertengahan Juli 2025, ITB STIKOM Bali menjawab diskursus tersebut melalui aksi nyata — termasuk pelatihan teknologi bagi guru SD dan SMP di Klungkung.
Kampus Sebagai Detektor dan Dinamo Sosial
Media sosial kini menjadi ruang publik virtual yang mempercepat persebaran informasi. Dalam konteks ini, perguruan tinggi yang mampu membaca denyut sosial digital memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor perubahan.
"Kami tidak bisa tinggal diam melihat kegelisahan masyarakat hanya menjadi konsumsi konten. Kampus harus menjadi motor penggerak yang menerjemahkan keresahan menjadi pengetahuan terapan dan tindakan konkret," ujar Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan.
Pelatihan literasi teknologi yang diselenggarakan ITB STIKOM Bali, dengan dukungan Kemendikdasmen RI, menjadi bukti nyata bahwa dunia akademik adalah bagian integral dari masyarakat.
Respons Cepat, Daya Tarik Publik
Dalam waktu kurang dari 48 jam sejak viralnya isu rendahnya kemampuan adaptasi guru terhadap AI di TikTok dan Instagram, tim dosen serta pelatih dari ITB STIKOM Bali telah menyusun silabus darurat untuk pelatihan kilat.
Pelatihan selama dua hari tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para guru peserta. Tidak hanya itu, pelatihan ini justru memicu gelombang viralitas positif di media sosial. Unggahan para peserta dengan tagar #GuruMelekAI dan #KlungkungCerdasDigital memunculkan dukungan luas dari masyarakat Bali dan nasional.
Banya warganet memuji langkah ini sebagai contoh nyata dari konsep "kampus merdeka yang bertanggung jawab".
Kampus Bukan Menara Gading, Tapi Mercusuar Sosial
Momentum ini menunjukkan bahwa kampus tidak seharusnya hanya menjadi menara gading yang terkungkung dalam seminar dan akreditasi internal. Kampus harus menjadi mercusuar sosial, peka terhadap arus keresahan publik, dan mampu menyalakan lentera solusi.
"Ini bukan tentang kecepatan viral semata, tapi bagaimana kita mengonversi viralitas menjadi kebermanfaatan," ujar Dr. Ni Luh Putu Mariani, dosen komunikasi strategis ITB STIKOM Bali.
Penutup: Ketika Aksi Menyamai Atensi
ITB STIKOM Bali telah menunjukkan bahwa sinergi antara akademik dan realitas sosial bukan hanya mungkin, tetapi juga mendesak. Dalam era algoritma dan atensi digital, aksi yang cepat, relevan, dan berbasis nilai menjadi kunci menjaga eksistensi kampus sebagai aktor utama perubahan.
Momentum ini akan dikenang bukan semata karena pelatihannya, melainkan karena keberanian satu institusi akademik mengubah riuhnya dunia maya menjadi ruang nyata pembelajaran dan pemberdayaan. RAYD



