Dari Loloan ke Patas: Jejak Sunyi H. Hud Muhammad Al Qadri Membangun Peradaban dari Panti Asuhan
Dari Loloan
ke Patas: Jejak Sunyi H. Hud Muhammad Al Qadri Membangun Peradaban dari Panti
Asuhan
Di sebuah
sudut tenang di Patas, Singaraja—jauh dari riuh pariwisata Bali—berdiri sebuah
ruang harapan yang tak banyak disorot kamera. Ia bukan gedung megah, bukan pula
institusi besar dengan gemerlap nama. Namun dari tempat sederhana itulah,
puluhan anak menemukan masa depan.
Di
baliknya, ada satu nama yang berjalan dalam diam namun konsisten menyalakan
cahaya: H. Hud Muhammad Al Qadri.
Jejak Awal: Dari Aktivis Muda ke Jalan Pengabdian
Lahir dan
besar di Jembrana, Hud muda bukanlah sosok yang asing dengan dunia sosial.
Sejak remaja, ia telah menapaki jalan pengabdian—menjadi Ketua Karang Taruna,
aktif dalam kegiatan remaja masjid, hingga dipercaya memegang peran di tingkat
kabupaten.
Pengalaman
itu membawanya bersentuhan langsung dengan realitas sosial: kemiskinan,
keterbatasan akses pendidikan, dan anak-anak yang nyaris kehilangan masa depan.
“Saya sejak
muda memang di sosial. Dari situlah muncul keinginan, bagaimana saya bisa punya
panti sosial,” ujarnya.
Pengabdian
itu bahkan membawanya mengikuti program kepemudaan di bawah naungan Departemen
Sosial, memperluas cakrawala sekaligus meneguhkan arah hidupnya.
Amanah Besar dari Sebuah Kepercayaan
Tak semua
perjuangan dimulai dari modal besar. Namun dalam kisah Hud, ada satu titik
balik yang menentukan: kepercayaan.
Pada tahun
1993, seorang tokoh dermawan, Abdul Aziz Bamazak, mempercayakan asetnya—tanah
seluas 30 are beserta bangunan—untuk dikelola demi kepentingan sosial.
Sebuah
angka yang pada masa itu bernilai sangat besar.
“Beliau
percaya dengan ide-ide saya. Dan semua itu diberikan untuk dikelola,”
kenangnya.
Kepercayaan
itu bukan sekadar hibah, melainkan amanah yang kemudian melahirkan sebuah
lembaga: Yayasan Ar-Roudhah.
Membangun dari Nol: Panti, Pesantren, dan Harapan
Bersama
rekan-rekan seperjuangannya—yang sebagian kini telah tiada—Hud mendirikan
yayasan tersebut dengan satu tujuan sederhana: menampung anak-anak yang tak
memiliki tempat.
Berdirilah
panti asuhan yang kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. Bukan sebagai
lembaga pendidikan formal, melainkan sebagai penyangga—rumah bagi anak-anak
dari pelosok yang ingin mengenyam pendidikan di madrasah sekitar Patas.
“Anak-anak
ini dari jauh, tidak punya tempat. Kita tampung, kita bantu sekolah,” jelasnya.
Kini,
sekitar 45 anak berada dalam binaan yayasan. Sebagian tinggal di panti,
sebagian lainnya berada di luar namun tetap mendapatkan dukungan
pendidikan—dari tingkat madrasah ibtidaiyah hingga aliyah.
Bagi yang
berprestasi dan istiqamah, pintu pendidikan tinggi pun dibukakan.
Dari Santunan ke Pemberdayaan
Seiring
waktu, visi Hud tak lagi berhenti pada sekadar pengasuhan. Ia mulai merintis
program pemberdayaan—mengubah pendekatan dari charity menjadi capacity
building.
Melalui
dukungan pemerintah, yayasan kini memiliki fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK)
yang dilengkapi sarana teknologi informasi.
Kolaborasi
ini melibatkan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, yang memberikan
bantuan infrastruktur pelatihan keterampilan.
“Ini untuk
masyarakat sekitar juga. Supaya mereka tidak perlu keluar, tidak perlu biaya.
Semua bisa belajar di sini,” katanya.
Program ini
diharapkan menjadi jawaban atas tantangan pengangguran pemuda—sekaligus membuka
jalan kemandirian ekonomi berbasis keterampilan.
Gotong Royong dan Ketulusan yang Menjaga
Meski telah
berkembang, perjalanan yayasan ini tetap bertumpu pada kekuatan sederhana:
keikhlasan dan gotong royong.
Pendanaan
sebagian besar berasal dari donatur tetap—orang-orang yang percaya pada misi
kemanusiaan yang dijalankan. Tidak ada sistem besar, tidak ada kampanye digital
masif. Hanya hubungan yang dibangun dari kepercayaan.
Yang
menarik, pengelolaan yayasan kini banyak melibatkan:
- Anak-anak dari para
pendiri
- Alumni panti yang telah
berhasil
- Keluarga dari
rekan-rekan seperjuangan yang telah wafat
Sebuah
regenerasi yang tumbuh alami, menjaga ruh perjuangan tetap hidup.
Antara Keterbatasan dan Keteguhan
Namun di
balik semua capaian itu, Hud tak menutup mata pada tantangan. Keterbatasan dana
masih menjadi kendala utama, terutama dalam mengoptimalkan program pelatihan
dan pengembangan.
“Belum
maksimal, karena dana. Tapi kita tetap berjalan,” ujarnya dengan tenang.
Kalimat
sederhana yang mencerminkan keteguhan—bahwa perjuangan sosial bukan tentang
kemewahan fasilitas, melainkan konsistensi langkah.
Merawat Harapan di Tanah Bali
Di tengah
Bali yang dikenal dunia sebagai destinasi wisata, kisah seperti ini kerap luput
dari perhatian. Padahal di baliknya, ada kerja-kerja sunyi yang menjaga masa
depan generasi. (AMBAR & RAYD)
Apa yang
dibangun oleh H. Hud Muhammad Al Qadri adalah lebih dari sekadar panti asuhan.
Ia adalah ruang peradaban kecil—tempat nilai, pendidikan, dan harapan dirawat
bersama.
Harapannya
sederhana, namun dalam maknanya:
“Semoga
panti dan pesantren ini terus maju, dipercaya masyarakat, dan bisa bermanfaat
bagi semua.”
Penutup: Cahaya dari Pinggiran
Kisah dari
Patas ini mengingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari pusat
kekuasaan. Ia bisa tumbuh dari pinggiran—dari tangan-tangan sederhana yang
bekerja dengan hati.
Di tengah
hiruk-pikuk dunia modern, langkah-langkah seperti ini adalah penegas bahwa
Indonesia masih memiliki fondasi kuat: manusia-manusia yang memilih mengabdi,
tanpa banyak bicara.
Dan dari
tempat sederhana itu, masa depan sedang ditulis—perlahan, tapi pasti.



