Detail Artikel

Dari Nol hingga Tuntas: Kisah Wakaf Tanah Mushola Baitul Mu’minin Bali yang Menggetarkan

Dari Nol hingga Tuntas: Kisah Wakaf Tanah Mushola Baitul Mu’minin Bali yang Menggetarkan

Denpasar — Malam itu, Jumat (1/5/2026), menjadi penanda sejarah bagi jamaah Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI Bali. Dalam suasana penuh syukur, tasyakuran penutupan penggalangan dana wakaf digelar sederhana namun sarat makna. Di balik kebahagiaan tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang penuh harap, cemas, dan keyakinan.

Melalui wawancara eksklusif bersama Ketua Panitia, Agung Rizak Sony, terungkap bahwa perjuangan ini berawal dari persoalan mendasar: keterbatasan lahan parkir. Selama ini, area parkir yang digunakan jamaah berstatus pinjam pakai. Artinya, sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh pemiliknya.

“Awalnya kami benar-benar dalam kondisi bingung. Tidak ada kepastian untuk jangka panjang,” ungkapnya. Namun, di tengah keterbatasan itu, terbuka peluang: sebidang tanah di sisi utara masjid ditawarkan untuk dijual.

Masalahnya, kas kosong.

“Dana kami nol. Tapi kami yakini, jika niat ini untuk Allah, pasti ada jalan,” lanjutnya.

Setahun yang Menegangkan

Penggalangan dana dimulai sejak Februari 2025, dengan target yang tidak kecil. Harga awal tanah bahkan sempat menyentuh angka miliaran rupiah, sebelum akhirnya disepakati di kisaran Rp2,35 miliar untuk lahan seluas sekitar tiga are.

Proses pembayaran dilakukan dalam 10 termin selama kurang lebih satu tahun. Setiap termin menjadi ujian tersendiri.

“Ada masa-masa ketika jatuh tempo sudah dekat, tapi dana belum terkumpul. Rasanya tidak enak makan, tidak enak tidur. Tapi kami terus berdoa,” kenang Sony.

Kondisi tersebut justru menguatkan solidaritas jamaah. Donasi mengalir dari berbagai lapisan, mulai dari warga lokal Bali hingga donatur dari luar daerah, terutama Jawa. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook menjadi instrumen penting dalam menyebarkan semangat wakaf ini.

Tak hanya itu, pendekatan langsung kepada jamaah juga dilakukan. Setiap Jumat, usai salat, panitia membuka kesempatan donasi dengan skema nominal—mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah—yang disertai sertifikat sebagai bentuk apresiasi.

Kolaborasi Umat dan Dukungan Luas

Perjuangan ini tidak berjalan sendiri. Keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan: pengurus masjid, jamaah, tokoh masyarakat, hingga donatur korporasi dari luar Bali.

Bahkan, komunikasi dengan unsur lokal seperti kepala lingkungan dan banjar dilakukan untuk memastikan keberadaan mushola dapat memberi manfaat luas dan menghadirkan kenyamanan bersama.

“Ini bukan hanya tentang membangun fisik, tapi juga membangun harmoni,” jelas Sony.

Lebih dari Sekadar Tanah

Kini, setelah dana terkumpul dan pembayaran dinyatakan selesai, proses administratif seperti Akta Jual Beli masih berjalan. Sementara itu, rencana pemanfaatan lahan mulai dirumuskan.

Selain untuk parkir, lahan tersebut direncanakan menjadi pusat kegiatan umat: ruang kajian, pengembangan dakwah, hingga fasilitas pendidikan.

Dalam tausiah penutup, Ustadz Nur Asyur mengingatkan bahwa wakaf adalah bagian dari proyek besar umat.

“Seperti para sahabat dahulu, mereka terlibat dalam pembangunan peradaban. Hari ini kita melanjutkan jejak itu,” pesannya.

Dakwah di Tanah Minoritas

Kisah ini juga mencerminkan dinamika dakwah di Bali, di mana umat Muslim berada dalam posisi minoritas. Tantangan yang dihadapi tidak ringan, namun justru melahirkan semangat kolektif yang kuat.

“Kebutuhan lahan ibadah di Bali sangat tinggi. Ini ladang amal yang nyata,” ujar Sony.

Ia menutup dengan pesan optimistis: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Jangan pernah putus asa. Kalau untuk dakwah, Allah pasti bukakan jalan.”

Jejak yang Akan Terus Hidup

Tasyakuran malam itu bukan akhir, melainkan awal dari babak baru. Sebidang tanah yang dahulu hanya harapan, kini telah menjadi milik umat—hasil dari doa, air mata, dan keteguhan hati.

Dari nol rupiah hingga miliaran, dari kegelisahan hingga syukur, kisah wakaf Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI Bali menjadi bukti bahwa ketika iman dan kebersamaan berjalan seiring, tidak ada yang mustahil.

(Laporan: Suara Umat.id | Denpasar) (AMBAR & RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'