Dari Pelabuhan Dagang ke Pusat Ziarah: Menyusuri Jejak Islam di Kampung Kusamba, Klungkung
Dari Pelabuhan Dagang ke Pusat
Ziarah: Menyusuri Jejak Islam di Kampung Kusamba, Klungkung
Laporan Khusus SuaraUmat.id
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Dari pesisir timur Bali,
tepatnya di Kampung Islam Kusamba, sejarah panjang perjumpaan antarbangsa,
dakwah, dan harmoni lintas iman terpatri kuat dalam ingatan kolektif
masyarakatnya. Melalui wawancara Radio Megantara Bali bersama sesepuh kampung,
H. Mugni, terkuak narasi yang tidak hanya merekam asal-usul komunitas Muslim,
tetapi juga menegaskan peran strategis Kusamba dalam jalur perdagangan dan
peradaban di Bali.
Awal
Berdirinya: Jejak Bugis dan Banjar di Tanah Bali
“Cikal bakal Kampung Kusamba ini
berasal dari dua suku besar: Bugis dari Sulawesi dan Banjar dari Kalimantan,”
tutur H. Mugni membuka kisahnya.
Pada masa kerajaan Kerajaan
Gelgel, para pedagang Muslim dari dua etnis tersebut berlabuh di pesisir
Kusamba. Aktivitas perdagangan menjadi pintu masuk interaksi budaya sekaligus
penyebaran Islam.
“Mereka datang membawa dagangan,
lalu menetap. Dari situlah kampung ini tumbuh,” jelasnya.
Jejak awal itu masih dapat
ditelusuri melalui dua situs masjid tua yang masing-masing memiliki sumur
peninggalan komunitas Bugis dan Banjar—sebuah simbol keberlanjutan peradaban
yang tidak lekang oleh waktu.
Bukti
Sejarah: Dari Nisan Kuno hingga Mushaf Tulis Tangan
Menariknya, Kusamba tidak hanya
mengandalkan tradisi lisan. Bukti sejarah fisik masih terjaga dengan baik.
Salah satunya adalah nisan makam Syekh Nuriyah, tokoh Bugis, yang bertarikh
1441 Masehi.
“Ini menjadi bukti bahwa Islam
sudah hadir sangat awal di Kusamba,” ungkap H. Mugni.
Selain itu, terdapat pula mushaf
Al-Qur’an tulisan tangan karya Haji Ismail yang diperkirakan berusia hampir
tiga abad. Naskah ini telah diteliti oleh Kementerian Agama sebagai bagian dari
khazanah manuskrip Islam Nusantara.
Tak kalah penting adalah
keberadaan makam Makam Habib Ali Kusamba yang hingga kini menjadi destinasi
wisata religi, dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri.
Relasi Raja
dan Umat: Harmoni Sejak Awal
Hubungan erat antara komunitas
Muslim Kusamba dan penguasa lokal menjadi fondasi penting dalam sejarah kampung
ini. H. Mugni menuturkan bahwa saat pembangunan Masjid Al-Mahdi
pascakemerdekaan, raja turut hadir dan memberikan restu.
“Raja bahkan berpesan agar umat
Hindu dan Muslim saling menjaga kerukunan,” kenangnya.
Pesan itu bukan sekadar
simbolik. Dalam praktiknya, masyarakat Kusamba hidup dalam komposisi sosial
yang seimbang—sekitar 50 persen Muslim dan 50 persen Hindu—yang bekerja bersama
di sektor pelabuhan dan ekonomi lokal.
Warisan
Budaya: Dari Kuliner hingga Tradisi Megibung
Akulturasi budaya menjadi ciri
khas Kampung Kusamba. Warisan Bugis dan Banjar masih terasa dalam kuliner
seperti lepok gis, sementara pengaruh Bali tampak dalam tradisi megibung—makan
bersama dalam satu wadah.
“Setiap acara keagamaan, kami
selalu megibung. Ini adat Bali yang kami lestarikan,” ujar H. Mugni.
Dalam konteks spiritual,
masyarakat juga mengenal tradisi “kukus kuning”—hidangan berbahan ketan sebagai
simbol syukur, mirip dengan tumpeng dalam budaya Jawa.
Seni dan
Tradisi: Identitas yang Terjaga
Kesenian Rudat dan Serakalan
tetap hidup sebagai ekspresi budaya Islam lokal. Pertunjukan ini biasanya hadir
dalam perayaan Maulid Nabi, akikah, dan hajatan lainnya.
Tak hanya itu, siklus hidup
masyarakat—dari kelahiran hingga kematian—masih diwarnai tradisi selamatan yang
menggabungkan nilai-nilai Islam dan adat lokal.
“Ini yang kami sebut adat
bersendikan syariat,” tegasnya.
Potensi
Ekonomi: Pelabuhan dan Wisata Religi
Secara geografis, Kusamba
memiliki keunggulan strategis sebagai pelabuhan. Sejak dahulu menjadi tempat
berlabuh kapal dagang, kini Kusamba berkembang dengan adanya jalur
penyeberangan cepat menuju Nusa Penida.
“Ini membuka banyak lapangan
kerja—dari transportasi, kuliner, hingga jasa wisata,” jelas H. Mugni.
Selain itu, wisata religi ke
makam Habib Ali menjadi magnet tersendiri. Para peziarah tidak hanya datang
untuk berdoa, tetapi juga menikmati panorama pantai dan kuliner lokal.
Pendidikan
dan Harapan Masa Depan
Dalam bidang pendidikan, Kampung
Kusamba telah memiliki Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan berencana membangun
Madrasah Tsanawiyah (MTs).
“Ini bagian dari ikhtiar kami
menyiapkan generasi yang berilmu dan berakhlak,” ujarnya.
Menutup perbincangan, H. Mugni
menyampaikan harapan sederhana namun mendalam: agar masyarakat Kusamba terus
meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Epilog:
Kusamba sebagai Miniatur Indonesia
Kampung Islam Kusamba bukan
sekadar entitas geografis, melainkan representasi dari Indonesia yang majemuk.
Di sana, Islam tidak hadir sebagai identitas yang eksklusif, melainkan sebagai
bagian dari mozaik budaya yang saling menguatkan.
Dari pelabuhan dagang hingga
pusat ziarah, dari nisan kuno hingga mushaf tulisan tangan—Kusamba adalah saksi
hidup bahwa sejarah, iman, dan harmoni dapat berjalan beriringan.
Wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.(AMBAR)



