Dari Pendopo Joglo Bali, Prof. Asep Saifuddin Chalim Mengingatkan: Cinta Tanah Air Harus Dibuktikan dengan Perbuatan
Dari Pendopo Joglo Bali, Prof. Asep Saifuddin Chalim Mengingatkan: Cinta Tanah Air Harus Dibuktikan dengan Perbuatan
Hari Santri Nasional di Denpasar mempertemukan ingatan tentang Resolusi Jihad, pengabdian pesantren, kerukunan masyarakat Bali, dan tantangan generasi santri di era digital.
SuaraUmat.id | DENPASAR, BALI — Lantunan selawat mengalun di antara pepohonan yang menaungi Pendopo Joglo Kalifa Nusantara, Denpasar, Bali, Sabtu (17/10/2026). Di ruang berarsitektur Jawa yang sejuk dan terbuka itu, para santri bersiap menyambut pertemuan yang mempertautkan tradisi pesantren, semangat kebangsaan, dan tantangan kehidupan modern.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tersebut dikemas melalui Pengajian Akbar dan Dialog Kiai–Santri yang diselenggarakan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) bersama Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). Mengusung tema “Santri Bersatu, Berkhidmat untuk Umat dan Negeri”, kegiatan ini menghadirkan ruang perjumpaan bagi para kiai, ustaz, santri, pendidik, dan tokoh masyarakat untuk membicarakan kembali peran pesantren di tengah perubahan zaman.
Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 08.30 WITA itu baru berlangsung sekitar pukul 10.10 WITA. Sembari menunggu, para santri mengisi waktu dengan hadrah dan menikmati kudapan pagi. Selawat yang terdengar dari pengeras suara menandai suasana religius, sementara panitia menyiapkan jalannya kegiatan.
Di tengah beragam keadaan yang memengaruhi kehadiran undangan, acara akhirnya bergerak dari pembukaan menuju pembacaan ayat suci Al-Qur’an, agenda kebangsaan, sambutan, dialog, dan tausiah utama. Pertemuan itu bukan hanya menjadi peringatan kalender keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk menguji kembali pertanyaan mendasar: apa makna menjadi santri ketika tantangan zaman terus berubah?
Jawaban atas pertanyaan itu muncul dari berbagai arah. Panitia mengajak jamaah mengenang perjuangan ulama. Pemerintah Provinsi Bali menekankan pentingnya persatuan dan kedamaian. Tiga narasumber dialog membahas keteladanan kiai, pengabdian sosial, serta kecakapan digital. Adapun penceramah utama, Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A., membawa hadirin menengok sejarah perjuangan bangsa dan menegaskan pentingnya mengubah semangat menjadi perbuatan.
Mengenang Resolusi Jihad, merawat rasa syukur
Dalam sambutan panitia, Dr. K.H. Muhammad Maimun Nur, M.Pd., menyampaikan terima kasih kepada para ulama, kiai, ustaz, santri, dan tamu undangan yang hadir. Ia juga memohon maaf atas keterbatasan penyelenggaraan serta ketidakhadiran sejumlah undangan yang telah menyampaikan kabar bahwa mereka berhalangan.
Di tengah situasi yang tidak sepenuhnya ideal, ia berharap kegiatan tetap berjalan dengan baik dan menjadi ruang silaturahmi yang membawa manfaat. Ia turut mendoakan agar keadaan segera membaik sehingga masyarakat dapat menjalankan urusan duniawi maupun keagamaan dalam suasana aman, damai, dan sejahtera.
Maimun kemudian mengingatkan kembali jasa para pahlawan, terutama ulama yang berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Nama Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad menjadi bagian penting dari pesan tersebut.
Bagi panitia, peringatan Hari Santri tidak cukup berhenti pada seremoni. Penghormatan kepada para pendahulu perlu diwujudkan dalam sikap bersyukur, menghargai kebaikan orang lain, dan meneruskan pengabdian sesuai kebutuhan zaman.
Ia mengingatkan makna hadis yang menyatakan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia belum sempurna dalam bersyukur kepada Allah. Pesan itu menempatkan rasa syukur bukan sekadar sebagai ucapan, melainkan sebagai akhlak yang tampak dalam cara seseorang menghargai pertolongan dan pengorbanan orang lain.
Pesan Pemerintah Provinsi Bali: Persatuan adalah kekuatan
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Bali, Gede Suralaga, yang mewakili Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta karena adanya agenda lain.
Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan oleh JKSN dan Pergunu. Pertemuan ulama, santri, dan masyarakat diharapkan mempererat silaturahmi sekaligus melahirkan gagasan yang berguna bagi kehidupan umat dan bangsa.
Tema “Santri Bersatu, Berkhidmat untuk Umat dan Negeri” menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui pendidikan, kegiatan sosial, pemberdayaan, dan penguatan kehidupan keagamaan. Sementara itu, pengabdian kepada negeri menuntut komitmen menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesan tersebut memiliki arti khusus di Bali, tempat masyarakat dengan latar belakang agama, adat, dan budaya yang beragam hidup berdampingan. Keberagaman, dalam pandangan yang disampaikan, perlu dirawat sebagai kekuatan bersama, bukan dijadikan alasan untuk mempertajam perbedaan.
Sambutan itu juga mengaitkan peran santri dengan visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui pola pembangunan semesta berencana dalam Bali Era Baru. Pembangunan tidak semata-mata diukur melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kualitas manusia, ketahanan sosial, dan kemampuan masyarakat menjaga kehidupan yang damai.
Persoalan ketersediaan bahan bakar minyak yang tengah menjadi perhatian turut disinggung. Tokoh masyarakat dan komunitas diharapkan membantu menyampaikan informasi dengan tenang dan bertanggung jawab, serta menghindari tindakan yang memperkeruh keadaan. Bagi Bali, yang perekonomiannya turut ditopang sektor pariwisata, suasana aman dan nyaman merupakan kepentingan bersama.
Pesan kepada santri pun terang: terus belajar, menjaga akhlak, menghormati guru, dan menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam tindakan yang bermanfaat.
Dialog kiai–santri: Menjaga tradisi, menjawab perubahan
Setelah rangkaian sambutan, kegiatan berlanjut ke Dialog Kiai–Santri yang menghadirkan tiga narasumber: Dr. Ustaz Hafidz, Haji Eke Reza yang diperkenalkan sebagai Rajo Mudo, serta Ketua JKSN Provinsi Bali, Dr. K.H. Muhammad Maimun Nur, M.Pd.
Diskusi bergerak di sekitar tiga pokok persoalan: peran kiai dalam membentuk karakter santri, pengabdian santri di tengah masyarakat Bali yang majemuk, serta kesiapan generasi pesantren menghadapi perkembangan teknologi digital.
Dr. Ustaz Hafidz menekankan bahwa kiai bukan hanya pengajar kitab dan pemberi nasihat. Keteladanan dalam ucapan serta tindakan merupakan bagian penting dari pendidikan pesantren. Ilmu dan akhlak perlu berjalan beriringan, sehingga santri tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga melihat bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Ia juga menyoroti tantangan yang muncul di ruang digital. Media sosial membuka peluang bagi kiai dan ustaz untuk menyebarkan pesan keagamaan kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, peluang itu datang bersama tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Informasi yang tidak terverifikasi berisiko berkembang menjadi fitnah atau kabar bohong.
Menurutnya, tradisi pesantren harus tetap dipelihara, tetapi generasi muda juga perlu disiapkan untuk menghadapi perubahan. Menjaga warisan keilmuan bukan berarti menutup diri dari pengetahuan baru.
Perspektif pengabdian sosial dikemukakan Haji Eke Reza. Ia mengajak hadirin memberi perhatian lebih besar kepada santri sebagai generasi penerus. Penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi perlu dilengkapi dengan ilmu pengetahuan umum, teknologi, dan keterampilan kewirausahaan.
Santri tidak harus membatasi masa depannya pada profesi tertentu. Mereka dapat berkiprah sebagai pendidik, profesional, pelaku usaha, maupun pengembang teknologi, tanpa meninggalkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab yang dipelajari di pesantren.
Dalam masyarakat Bali yang beragam, pengabdian itu juga berarti membangun hubungan baik lintas agama dan budaya. Pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi ruang bagi santri untuk menghadirkan manfaat sekaligus memperkuat kerukunan.
Sementara itu, Maimun Nur menyoroti pentingnya memperluas cakrawala santri di era digital. Literasi digital, pemahaman terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan pola pikir kewirausahaan dinilai semakin relevan bagi generasi yang akan memasuki dunia kerja dan kehidupan masyarakat yang terus berubah.
Santri, dalam pandangan tersebut, perlu berkembang dari sekadar penuntut ilmu menjadi generasi yang mampu menghasilkan karya. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk belajar, membangun usaha, memperluas akses pengetahuan, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Ketiga narasumber memperlihatkan satu titik temu: pesantren tidak harus memilih antara tradisi dan modernitas. Keduanya dapat berjalan bersama selama ilmu berpijak pada akhlak dan kemajuan diarahkan untuk kemaslahatan.
Prof. Asep Saifuddin Chalim membawa jamaah menengok sejarah
Puncak kegiatan diisi ceramah utama Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Ia membawa hadirin kembali ke masa ketika Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan, tetapi kedaulatannya masih menghadapi ancaman.
Proklamasi 17 Agustus 1945 menandai lahirnya Republik Indonesia. Namun, kehadiran pasukan Sekutu dan upaya Belanda memulihkan kekuasaan kolonial membuat masa depan negara yang baru berdiri itu belum sepenuhnya aman. Di Surabaya dan berbagai wilayah lain, semangat mempertahankan kemerdekaan tumbuh di tengah ketegangan politik dan militer.
Dalam situasi itulah, ulama dan santri mengambil bagian dalam perjuangan bangsa. Asep menyinggung Resolusi Jihad yang berkaitan dengan peran Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari dan pertemuan ulama NU pada 21–22 Oktober 1945 di Surabaya.
Resolusi tersebut menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dalam situasi ketika republik menghadapi ancaman. Seruan ulama itu menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangat perlawanan masyarakat, terutama di kalangan umat Islam dan lingkungan pesantren, menjelang Pertempuran Surabaya pada November 1945.
Sejarah ini penting bukan karena satu keputusan dapat menjelaskan seluruh jalannya pertempuran, melainkan karena memperlihatkan bagaimana ulama merespons keadaan melalui musyawarah, pertimbangan keagamaan, dan tanggung jawab kebangsaan.
Namun, ceramah Asep tidak hanya bergerak pada peristiwa 1945. Ia juga menguraikan kisah kaderisasi dan penanaman nasionalisme yang, menurut penuturannya, telah dirintis jauh sebelum kemerdekaan.
Nasionalisme yang ditanamkan jauh sebelum kemerdekaan
Dalam bagian awal ceramahnya, Asep menuturkan kisah tentang perjuangan generasi ulama terdahulu dalam membangun kesadaran kebangsaan. Ia menggambarkan bahwa pembentukan gerakan ulama tidak berlangsung secara mendadak, tetapi melalui proses panjang: menyiapkan kader, membangun jaringan, memperluas pendidikan, dan menanamkan kecintaan kepada tanah air.
Ia menceritakan perjalanan seorang tokoh yang disebutnya sebagai ayahandanya menuju Surabaya. Perjalanan itu, dalam penuturannya, berlangsung sekitar 14 hari, termasuk waktu untuk beristirahat. Di sepanjang perjalanan, pesan tentang kecintaan terhadap Indonesia disampaikan kepada masyarakat yang ditemui.
Kisah tersebut menggambarkan nasionalisme sebagai nilai yang harus ditanamkan melalui pendidikan dan perjumpaan dengan masyarakat. Cinta tanah air bukan sekadar perasaan yang muncul ketika bangsa menghadapi bahaya, melainkan kesadaran yang perlu dibangun sejak dini.
Asep juga menyinggung lingkungan pendidikan dan kaderisasi ulama di Surabaya serta hubungan antartokoh yang berperan dalam pertumbuhan organisasi keagamaan. Ia menggambarkan adanya proses panjang untuk mempersiapkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga kesadaran terhadap keadaan masyarakat dan masa depan bangsa.
Dalam transkrip yang tersedia, sejumlah nama, tahun, dan rincian perjalanan pada bagian ini tidak terbaca dengan cukup jelas. Karena itu, detail tersebut perlu diperiksa kembali melalui rekaman utuh atau sumber sejarah sebelum dipublikasikan sebagai fakta biografis yang pasti. Namun, inti kisah yang disampaikan Asep tampak jelas: nasionalisme tidak tumbuh dalam semalam; ia dibangun melalui pendidikan, keteladanan, dan kerja yang berkelanjutan.
Jangan menjadi seperti sapi yang hanya membajak
Bagian ceramah yang paling kuat secara retoris muncul ketika Asep menggunakan perumpamaan tentang sapi yang bekerja membajak sawah.
Sapi dapat menarik alat bajak dan menjalankan pekerjaan yang diarahkan oleh pengendalinya. Namun, sapi tidak memahami tujuan akhir dari pekerjaan tersebut, tidak mengetahui apa yang akan tumbuh dari tanah yang dibajaknya, dan tidak memikirkan akibat dari pekerjaannya.
Melalui perumpamaan itu, Asep mengingatkan agar manusia tidak menjalani kehidupan sekadar mengikuti perintah atau arus tanpa memahami tujuan dan tanggung jawabnya. Manusia memiliki akal, ilmu, dan kemampuan menimbang. Karena itu, manusia harus menyadari untuk apa ia belajar, bekerja, dan mengabdikan diri.
Pesan tersebut berkaitan dengan penuturannya tentang pendidikan dan kaderisasi. Pendidikan, dalam kerangka itu, bukan sekadar menghasilkan orang yang patuh menjalankan tugas. Pendidikan harus membentuk manusia yang memahami arah perjuangan, memiliki cita-cita, dan mampu mengambil tanggung jawab atas masa depannya.
Bagi santri, perumpamaan itu menjadi ajakan untuk tidak berhenti sebagai pengikut pasif. Santri perlu berpikir, memahami persoalan, membangun cita-cita, dan menggunakan ilmu untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Semangat tersebut juga menjelaskan mengapa Asep menekankan tindakan nyata. Keberhasilan tidak lahir hanya dari ucapan atau retorika. Ia menuntut keberanian memulai, kesediaan bekerja, dan ketekunan dalam menjalankan cita-cita.
Dalam transkrip ceramah, gagasan itu dirangkum melalui seruan agar generasi muda berbuat dan berkiprah, bukan hanya berbicara. Karena itu, pesan nasionalisme yang dibawa Asep tidak berhenti pada pengagungan sejarah, tetapi diarahkan kepada tanggung jawab generasi penerus.
Dari Resolusi Jihad menuju tantangan santri hari ini
Resolusi Jihad lahir dalam keadaan yang berbeda jauh dari kehidupan Indonesia saat ini. Pada 1945, ancaman terhadap kemerdekaan menuntut keberanian mempertahankan kedaulatan. Kini, tantangan santri lebih beragam: penguasaan ilmu pengetahuan, perubahan teknologi, penyebaran informasi yang sulit dikendalikan, persoalan sosial, dan kebutuhan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Namun, benang merahnya tetap sama, yakni kesediaan menjadikan ilmu dan keyakinan sebagai dasar untuk bertindak.
Para ulama dan santri pada masa revolusi mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan sesuai keadaan zamannya. Santri masa kini dapat meneruskan semangat pengabdian melalui pendidikan, teknologi, kewirausahaan, kegiatan sosial, dan kontribusi yang memperkuat kehidupan masyarakat.
Di Bali, pengabdian itu juga berarti membangun hubungan yang baik dengan warga lintas agama dan budaya. Santri dapat menjaga keyakinannya sekaligus menghormati masyarakat sekitar, memperluas kerja sama, dan menghadirkan manfaat yang dirasakan bersama.
Dalam konteks inilah, pesan Asep tentang pentingnya berbuat menemukan relevansinya. Mengenang perjuangan ulama tidak cukup dilakukan melalui pidato dan peringatan. Sejarah akan menjadi lebih bermakna ketika nilai-nilainya membentuk perilaku generasi penerus.
Hari Santri sebagai panggilan untuk bertindak
Peringatan Hari Santri Nasional di Pendopo Joglo Kalifa Nusantara mempertemukan sejarah, pendidikan, kerukunan, dan tantangan masa depan dalam satu ruang percakapan.
Sambutan panitia mengingatkan pentingnya bersyukur dan menghormati perjuangan para pendahulu. Pemerintah Provinsi Bali menegaskan bahwa persatuan dan kedamaian merupakan tanggung jawab bersama. Dialog kiai–santri menyoroti kebutuhan menjaga tradisi pesantren sekaligus membekali generasi muda dengan kemampuan menghadapi perubahan digital.
Ceramah Prof. Asep kemudian mengikat berbagai gagasan itu melalui pengingat tentang sejarah perjuangan dan pentingnya tindakan nyata. Dari Resolusi Jihad hingga kisah kaderisasi nasionalisme, ia membawa hadirin pada satu pesan: cita-cita besar memerlukan kerja yang sungguh-sungguh.
Santri tidak cukup hanya mewarisi nama besar pesantren atau menghafal kisah perjuangan para ulama. Mereka perlu meneruskan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari—melalui kesungguhan belajar, akhlak, keberanian berpikir, keterampilan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari Bali, pesan Hari Santri itu kembali menegaskan bahwa menjaga tradisi bukan berarti tinggal di masa lalu, sementara menyambut masa depan tidak harus berarti meninggalkan jati diri.
Sejarah mengajarkan bagaimana para pendahulu mengambil tanggung jawab pada zamannya. Giliran generasi sekarang meneruskan semangat tersebut dengan cara yang sesuai dengan tantangan hari ini: berilmu, berakhlak, menjaga persatuan, dan bekerja nyata bagi kemaslahatan umat serta negeri.(RAYD)



