Detail Artikel
- Tue, 24 Feb 2026
Dari Penerima Menjadi Pemberi: Strategi Sunyi Bidang II Membangun Siklus Kebaikan Umat
Dari Penerima Menjadi Pemberi: Strategi Sunyi Bidang II Membangun Siklus Kebaikan Umat
Denpasar — Di balik laporan program yang tersusun rapi dan angka-angka capaian yang terukur, tersimpan satu gagasan besar yang digerakkan secara perlahan namun pasti: membangun siklus kebaikan yang berkelanjutan. Itulah benang merah yang mengemuka dalam pemaparan H. Joko saat menyampaikan laporan kinerja Bidang II.
Dengan diawali ungkapan syukur dan penghormatan, H. Joko menegaskan bahwa program kerja yang dijalankan bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan ikhtiar kolektif untuk memperkuat fungsi perlindungan, pemberdayaan, dan pembinaan umat secara nyata.
Dalam menjalankan amanah tersebut, Bidang II bergerak secara kolaboratif. Dukungan Dr. Kawit dalam bidang pemerintahan serta Indrianto dari Bidang Teknologi Informasi, Media, dan Peliputan menjadi bagian penting dalam memastikan setiap program berjalan sistematis dan terukur.
Beasiswa: Menyemai Tunas, Menyiapkan Penopang
Salah satu program unggulan yang telah berjalan adalah pemberian beasiswa, bersinergi dengan LazisMi. Bantuan pendidikan ini menyasar pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa perguruan tinggi.
Namun bagi H. Joko, beasiswa bukan sekadar bantuan finansial. Ia adalah investasi jangka panjang. Setiap penerima manfaat dipandang sebagai tunas yang harus dirawat, dipantau, dan dipastikan pertumbuhannya.
“Harapannya, manfaat ini bersifat sirkuler. Dari penerima manfaat, kelak mereka tumbuh menjadi pemberi manfaat,” demikian garis besar pesan yang ia tekankan.
Kesadaran inilah yang mendorong Bidang II untuk melakukan penelusuran dan pendataan ulang penerima beasiswa ISMI atau MONEF, termasuk mereka yang menerima bantuan di STIKOM. Selama ini bantuan telah tersalurkan, tetapi basis data terintegrasi belum sepenuhnya terbangun. Tahun 2026 menjadi momentum konsolidasi agar program tidak hanya berlanjut, tetapi juga terukur dampaknya.
Literasi Waris dan Penguatan Sosial Keagamaan
Selain beasiswa, Bidang II juga telah menyelenggarakan seminar dan konsultasi waris di Kantor BPD. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi hukum keluarga dan kesadaran pengelolaan harta secara adil.
Di ranah sosial-keagamaan, pelaksanaan kurban serentak nasional menjadi tonggak penting. Pada 17 Juni 2024, kegiatan digelar di Perguruan Muhammadiyah. Dalam dinamika pelaksanaannya, terdapat tantangan koordinasi karena sebagian panitia juga terlibat aktif dalam komunitas Muslim di wilayah masing-masing.
Namun konsistensi membuahkan hasil. Pada 2025, pelaksanaan kurban berhasil dilaksanakan pada hari tasyrik secara nasional. Momentum tersebut menjadi simbol menguatnya sinergi dan soliditas internal.
Transformasi Digital dan Pendataan Strategis 2026
Memasuki 2026, Bidang II tidak berhenti pada program konvensional. Sebuah terobosan tengah disiapkan: pengembangan aplikasi silaturahmi berbasis media sosial dan teknologi web, bekerja sama dengan Pemuda ISMI.
Program yang sempat tertunda ini kini kembali dihidupkan dengan dukungan tim teknis, termasuk Henry dan rekan-rekan. Platform digital tersebut dirancang sebagai ruang temu virtual yang memperkuat komunikasi, memperluas jejaring, serta membuka ruang kolaborasi lintas generasi.
Di sisi lain, pendataan guru agama Islam di Bali juga menjadi agenda prioritas. Langkah ini dipandang strategis sebagai dasar penyusunan kebijakan pembinaan dan perlindungan yang lebih tepat sasaran.
Merawat Harapan, Menata Masa Depan
Bagi H. Joko, kerja organisasi bukan sekadar menyelesaikan program tahunan. Ia adalah proses merawat harapan dan menata masa depan secara perlahan tetapi pasti. Dalam rapat-rapat teknis dan kerja administratif yang mungkin tampak sunyi, sesungguhnya sedang ditanam fondasi peradaban.
Dari beasiswa hingga transformasi digital, dari literasi waris hingga pendataan guru agama, seluruhnya bermuara pada satu tujuan: membangun umat yang berdaya, terhubung, dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya program, tetapi dari kemampuannya menciptakan perubahan yang berputar—dari penerima menjadi pemberi, dari yang ditopang menjadi penopang.(RAYD) Denpasar — Di balik laporan program yang tersusun rapi dan angka-angka capaian yang terukur, tersimpan satu gagasan besar yang digerakkan secara perlahan namun pasti: membangun siklus kebaikan yang berkelanjutan. Itulah benang merah yang mengemuka dalam pemaparan H. Joko saat menyampaikan laporan kinerja Bidang II.



