Detail Artikel

Dari Pulau Dewata Menuju Rumah Demokrasi: Jejak Seorang Pelajar Bali Menembus Sekolah Parlemen Nasional 2026

Dari Pulau Dewata Menuju Rumah Demokrasi: Jejak Seorang Pelajar Bali Menembus Sekolah Parlemen Nasional 2026

Oleh: Redaksi SuaraUmat.id

JAKARTA — Demokrasi tidak lahir begitu saja di ruang-ruang sidang yang megah. Ia tumbuh dari keberanian bertanya, kemauan mendengar, dan kesediaan belajar. Di balik setiap undang-undang yang disahkan, terdapat perjalanan panjang gagasan yang beradu argumentasi demi kepentingan publik. Namun, perjalanan itu selalu berawal dari satu hal yang sederhana: rasa ingin tahu.

Pada Selasa (30/6/2026), rasa ingin tahu itu mengantarkan 150 pelajar dan mahasiswa terbaik dari berbagai penjuru Nusantara memasuki Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Mereka bukan legislator, bukan pula pejabat negara. Mereka adalah generasi muda yang terpilih mengikuti Sekolah Parlemen Nasional 2026, sebuah program pendidikan kebangsaan yang dipadukan dengan Parliament Tour DPR RI, diselenggarakan oleh Creative Student Home (CreSHome). (Dapo Kemendikdasmen)

Di antara ratusan wajah penuh harapan itu, berdiri seorang pelajar dari Pulau Dewata.

Namanya Revandra Arafi Wibowo.

Siswa MTs Generasi Emas, Denpasar, Bali, itu tercatat secara resmi sebagai salah satu delegasi nasional dalam daftar peserta yang diterbitkan panitia penyelenggara.

Namun, langkah Revandra menuju Gedung DPR RI bukanlah perjalanan yang dibangun oleh keberuntungan. Ia merupakan hasil dari proses seleksi yang panjang, kompetitif, dan menguji kapasitas intelektual maupun komitmen kebangsaan para peserta.

Menembus Persaingan Nasional

Segalanya bermula dari lebih dari 800 pendaftar yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Seleksi tahap pertama dilakukan melalui penulisan motivation letter, sebuah esai yang bukan sekadar menilai kemampuan menulis, melainkan juga mengukur kedalaman cara pandang peserta mengenai demokrasi, kepemimpinan, serta alasan mengapa mereka ingin menjadi bagian dari Sekolah Parlemen Nasional.

Peserta yang dinilai memenuhi kriteria kemudian mengikuti Pra-Event Sekolah Parlemen Nasional 2026 bertajuk:

"Generasi Muda Melek Parlemen: Dekat, Kritis, dan Berintegritas."

Pada tahap ini, para peserta mengikuti kuliah umum secara daring bersama Anggota DPD RI Provinsi DKI Jakarta, Hj. Fahira Idris, S.E., M.H. Setelah pemaparan materi, setiap peserta diwajibkan menyusun rangkuman sebagai bagian dari proses evaluasi.

Seleksi berikutnya semakin ketat.

Dari sekitar 400 peserta yang lolos administrasi dan penilaian akademik, panitia kembali melakukan wawancara daring hingga akhirnya menetapkan hanya 150 delegasi nasional.

Salah satunya adalah Revandra.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi sekolah dan daerah asalnya.

Belajar Demokrasi, Bukan Sekadar Membacanya

Bagi sebagian orang, DPR RI mungkin hanya dikenal sebagai bangunan berkubah hijau yang selama ini hadir di layar televisi.

Namun, bagi para peserta Sekolah Parlemen Nasional, gedung itu berubah menjadi ruang belajar.

Mereka menyusuri koridor parlemen, memasuki ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat lahirnya berbagai keputusan penting bangsa, mengunjungi museum parlemen yang menyimpan jejak perjalanan demokrasi Indonesia, hingga mengenal sejarah para pimpinan DPR RI dari masa ke masa.

Parliament Tour bukan sekadar wisata kelembagaan.

Ia menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pelajar dengan denyut kehidupan demokrasi secara nyata.

Setelah kunjungan tersebut, peserta melanjutkan kegiatan di Teater Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, mengikuti pembukaan resmi, kuliah umum, diskusi, hingga simulasi parlemen yang berlangsung sepanjang hari. Susunan kegiatan itu tercantum dalam rundown resmi panitia.

Dari Mendengar Menjadi Berdialog

Pendidikan demokrasi sejatinya tidak berhenti pada kemampuan mendengar.

Ia baru hidup ketika peserta mulai berdialog.

Dalam forum tersebut, peserta memperoleh materi dari Dr. Lia Istifhama, M.E.I., dilanjutkan pemaparan dari Sekretariat Jenderal DPD RI oleh Yulia Indrianingtyas, S.IP., M.Si., serta materi mengenai fungsi parlemen dari Dr. H. Muhammad Khozin, M.A.P. sebelum memasuki sesi Forum Group Discussion (FGD).

Di ruang-ruang diskusi itu, para peserta dibagi ke dalam beberapa komisi untuk membahas isu-isu sosial, kebijakan publik, hingga tata kelola pemerintahan.

Mereka belajar menyampaikan argumentasi, menyusun rekomendasi, menerima kritik, dan mempertahankan gagasan secara rasional—nilai-nilai yang menjadi fondasi demokrasi modern.

Investasi Terbesar Bukan Perjalanan ke Jakarta

Keikutsertaan Revandra juga menyimpan kisah tentang dukungan.

Seluruh proses keberangkatan menuju Jakarta ditanggung secara mandiri oleh peserta, sementara panitia menyediakan akomodasi selama kegiatan berlangsung.

Setelah dinyatakan lolos seleksi nasional, pihak keluarga berkoordinasi dengan sekolah. Dukungan dari MTs Generasi Emas memungkinkan Revandra mewakili sekolahnya di tingkat nasional.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan, kisah seperti ini mengingatkan bahwa investasi terbesar bukan semata biaya perjalanan, melainkan keberanian memberi kesempatan kepada anak-anak Indonesia untuk belajar melampaui ruang kelas.

Menanam Benih Demokrasi

Dalam lanskap demokrasi Indonesia yang terus berkembang, pendidikan politik bagi generasi muda bukanlah pelengkap, melainkan kebutuhan.

Literasi parlemen membantu generasi muda memahami bahwa demokrasi tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh pengetahuan, integritas, kemampuan berdialog, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Revandra mungkin pulang ke Bali hanya membawa sertifikat dan pengalaman.

Namun sesungguhnya, ia membawa sesuatu yang lebih bernilai: kesadaran bahwa masa depan demokrasi Indonesia akan ditentukan oleh generasi yang memilih memahami sebelum menghakimi, berdialog sebelum memutuskan, dan mengabdi sebelum meminta dilayani.

Di situlah hakikat pendidikan kebangsaan menemukan maknanya.

Bukan sekadar mencetak peserta kegiatan.

Melainkan menumbuhkan warga negara yang kelak mampu menjaga republik ini dengan akal sehat, karakter, dan integritas. (RORIE)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'