Detail Artikel

Dari Rumah Hj. Saodah, FAHMI UMMI Mempertemukan Tokoh Islam Bali dan Wamenag

Dari Rumah Hj. Saodah, FAHMI UMMI Mempertemukan Tokoh Islam Bali dan Wamenag

Silaturahmi selepas Magrib di Denpasar menjadi ruang mempertautkan tokoh agama, masyarakat dan perempuan dengan Wakil Menteri Agama RI

DENPASAR, Suara Umat.id — Selepas Magrib, Selasa malam, 22 September 2026, Jalan Halmahera, Denpasar, menjadi ruang kecil bagi sebuah percakapan yang memiliki makna lebih luas: silaturahmi.

Di kediaman Hj. Saodah, sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan jajaran Forum Silaturahmi Ummi Muslimah Indonesia (FAHMI UMMI) berkumpul. Di antara mereka hadir Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, bersama Ketua Umum FAHMI UMMI, Hj. Maya Suhasni Siregar, S.E.

Pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 18.00 WITA itu digelar dalam suasana kekeluargaan. Tidak banyak sekat antara tuan rumah, tokoh organisasi, masyarakat dan pejabat negara. Yang tampak justru sebuah meja silaturahmi: tempat orang-orang bertemu, saling mengenal dan membuka kemungkinan kerja bersama.

Secara organisasi, posisi Romo Syafi’i dalam FAHMI UMMI bukan sekadar sebagai tamu. Dalam sejumlah pemberitaan kegiatan FAHMI UMMI, ia disebut sebagai Ketua Dewan Pembina FAHMI UMMI Pusat, sementara Maya Suhasni Siregar tercatat sebagai pimpinan organisasi tersebut.

Malam itu, acara dipandu Rahma Jayadi. Dengan pembukaan bernuansa doa dan salawat, ia menyampaikan rasa syukur karena pertemuan dapat berlangsung dalam keadaan sehat dan suasana kekeluargaan.

Rahman kemudian menyapa Wakil Menteri Agama RI, Ketua Umum PP FAHMI UMMI, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan seluruh hadirin. Ia juga memberikan penghormatan kepada Hj. Saodah sebagai tuan rumah yang membuka kediamannya bagi pertemuan tersebut.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan FAHMI UMMI Bali.

Silaturahmi sebagai jalan mempertemukan umat

Dalam sambutannya, Ketua FAHMI UMMI Bali DR. Zuhroh Nurindahwati S.H., M.H. menekankan bahwa pertemuan tersebut sejak awal memang dimaksudkan sebagai silaturahmi.

Bukan forum untuk membangun jarak, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan mendekatkan diri.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Romo Syafi’i yang, di tengah kesibukannya sebagai Wakil Menteri Agama, berkenan memenuhi undangan untuk bertemu dengan para tokoh dan masyarakat di Bali.

Menurutnya, kehadiran Wamenag menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan unsur pemerintah dengan masyarakat secara lebih dekat.

“Agenda ini sebenarnya adalah hanya silaturahmi, saling mengenal dan mendekatkan diri,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam sambutannya.

Bagi FAHMI UMMI Bali, silaturahmi bukan sekadar pertemuan sosial. Ia dipandang sebagai bagian dari tradisi keumatan yang memiliki nilai spiritual sekaligus sosial.

Karena itu, pertemuan malam tersebut diharapkan tidak berhenti pada salam dan perkenalan. Ada harapan agar komunikasi yang terbangun dapat berlanjut menjadi sinergi.

“Semoga nantinya apa yang menjadi agenda Bapak Wakil Menteri Republik Indonesia bisa bersinergi, bagaikan gayung bersambut,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi salah satu garis penting dari pertemuan. Bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan kehadiran pejabat dalam seremoni, tetapi juga ruang komunikasi yang memungkinkan persoalan umat dibicarakan dari dekat.

Pertemuan yang disiapkan secara singkat

Ketua FAHMI UMMI Bali juga mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut dipersiapkan dalam waktu relatif singkat.

Padatnya agenda Wamenag membuat penyesuaian waktu tidak mudah. Namun komunikasi yang dilakukan akhirnya memungkinkan pertemuan berlangsung.

“Undangan yang sangat kilat,” demikian ia menggambarkan proses persiapannya.

Namun justru di situlah nilai silaturahmi menemukan bentuknya: ketika kesediaan untuk bertemu menjadi lebih penting daripada kemewahan sebuah agenda.

Pertemuan berlangsung di kediaman Hj. Saodah, yang oleh Ketua FAHMI UMMI Bali disebut sebagai rumah yang terbuka untuk kegiatan umat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada tuan rumah yang telah menyediakan tempat dan memberikan ruang bagi para tokoh untuk bertemu.

Doa pun dipanjatkan agar apa yang telah difasilitasi Hj. Saodah bersama keluarga menjadi bagian dari amal kebaikan yang bernilai di hadapan Allah SWT.

Dari Bali, membangun jejaring keumatan

Kehadiran FAHMI UMMI dalam pertemuan itu juga menunjukkan bagaimana organisasi perempuan Muslim tersebut membangun jejaring melalui komunikasi lintas tokoh dan wilayah.

Dalam berbagai kegiatan sebelumnya, FAHMI UMMI tercatat menjalankan aktivitas sosial-keagamaan dan pemberdayaan masyarakat. Di Aceh, misalnya, kegiatan organisasi tersebut pernah dikaitkan dengan penguatan UMKM dan pemberdayaan ekonomi umat. Di daerah lain, kegiatan FAHMI UMMI juga melibatkan unsur Kementerian Agama.

Dengan demikian, pertemuan di Denpasar tidak berdiri sepenuhnya sebagai peristiwa yang terpisah. Ia menjadi bagian dari pola silaturahmi dan konsolidasi organisasi yang mempertemukan komunitas perempuan Muslim dengan berbagai unsur masyarakat.

Namun Bali memiliki konteksnya sendiri.

Sebagai ruang sosial yang plural, perjumpaan tokoh-tokoh Islam di Bali selalu memiliki dimensi lebih dari sekadar organisasi. Ia bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, relasi sosial, pendidikan, pemberdayaan perempuan, ekonomi umat dan kehidupan keagamaan.

Karena itu, pertemuan di Jalan Halmahera tersebut dapat dibaca sebagai ruang awal bagi percakapan yang lebih panjang.

Menjelang amanah baru

Ada satu bagian lain yang menarik dari sambutan Ketua FAHMI UMMI Bali.

Ia menyampaikan bahwa dirinya dan jajaran yang akan menerima amanah baru masih membutuhkan dukungan dan doa dari para tokoh yang hadir.

Ia mengaku sempat merasa berat menerima amanah tersebut. Namun dukungan dari berbagai pihak membuatnya bersedia menjalankannya.

Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan bahwa pelantikan dijadwalkan berlangsung Rabu, 23 September 2026, pukul 10.00 WITA, di kantor DPRD Badung.

Ia meminta agar para tokoh dan hadirin memberikan doa serta dukungan agar proses pelantikan berjalan lancar dan penuh keberkahan.

Amanah, dalam perspektif yang disampaikan malam itu, bukan sekadar jabatan.

Ia adalah beban moral yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, sebelum mengakhiri sambutan, Ketua FAHMI UMMI Bali kembali meminta maaf apabila dalam penyelenggaraan acara maupun penerimaan para tamu terdapat kekurangan.

Manusia, katanya, adalah tempat salah dan khilaf.

Sebuah kalimat sederhana, tetapi tepat untuk menutup malam yang dibangun dari semangat persaudaraan.

Rumah yang menjadi ruang umat

Malam semakin berjalan. Pertemuan di kediaman Hj. Saodah perlahan mendekati penghujung.

Tetapi yang tersisa bukan sekadar dokumentasi sebuah acara.

Ada sebuah gambaran tentang bagaimana silaturahmi bekerja dalam kehidupan masyarakat: mempertemukan orang-orang yang mungkin tidak setiap hari duduk dalam satu ruangan, membuka percakapan, lalu mencari titik temu.

Di tengah kehidupan publik yang sering kali penuh dengan sekat, sebuah rumah di Jalan Halmahera menjadi ruang yang sederhana namun penting.

Di sana, FAHMI UMMI Bali mempertemukan tokoh perempuan, tokoh masyarakat dan tokoh agama dengan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia.

Dari sebuah rumah, percakapan keumatan dimulai.

Dan seperti doa yang dilantunkan pada awal acara, harapannya sederhana: agar perjumpaan itu tidak berhenti sebagai malam silaturahmi, tetapi tumbuh menjadi ikhtiar bersama yang memberi manfaat bagi masyarakat Bali.

Denpasar, 23 September 2026
Suara Umat.id

 (RAYD)  Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'