Detail Artikel

Dari Sebuah Doa dan Atap yang Patah, Lahir Harapan Baru Pendidikan Islam di Bali

Dari Sebuah Doa dan Atap yang Patah, Lahir Harapan Baru Pendidikan Islam di Bali

Di tengah semangat Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahun diperingati sebagai momentum refleksi perjalanan bangsa, sebuah kisah sunyi namun penuh makna tumbuh dari pinggiran Denpasar hingga Jembrana. Kisah itu bukan tentang seremoni, melainkan tentang kerja nyata, doa panjang, dan tekad yang tak pernah padam.

Adalah Usnanik Lelonowati, Ketua Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam, yang dengan mata berbinar menceritakan perjalanan sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang nyaris terlupakan—hingga akhirnya berdiri kokoh sebagai simbol harapan baru.

“Awalnya kami hanya mengajukan renovasi kamar mandi,” ujarnya sederhana.

Namun takdir rupanya menulis cerita berbeda.


Dari Keterbatasan Menuju Keajaiban Pembangunan

Beberapa tahun lalu, kondisi gedung Raudhatul Athfal (RA) yang dikelola yayasan tersebut memprihatinkan. Atap yang patah menjadi saksi bisu keterbatasan yang dihadapi. Proposal sederhana diajukan—hanya untuk memperbaiki fasilitas dasar.

Namun ketika tim survei dari pemerintah datang dan melihat langsung kondisi lapangan, terjadi perubahan arah kebijakan. Dari sekadar renovasi kecil, bantuan berkembang menjadi pembangunan gedung baru lengkap dengan fondasi dua lantai.

Intervensi ini melibatkan sinergi antara Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat—sebuah kolaborasi lintas sektor yang kini semakin ditekankan dalam pembangunan nasional.

“Bahkan saya sempat bergurau, kalau bisa sekalian dibuat fondasi untuk lantai dua. Dan alhamdulillah, itu terwujud,” kenang Usnanik.

Kini, bangunan tersebut tak hanya berdiri megah, tetapi juga dilengkapi sarana edukatif dan ruang belajar yang representatif—sebuah lompatan besar dari kondisi sebelumnya.


Pendidikan: Antara Amanah dan Peradaban

Gedung yang baru diresmikan melalui tasyakuran sederhana itu kini difungsikan sebagai ruang kelas. Dari keterbatasan lima ruang yang sempat menyusut, kini lembaga kembali memiliki ruang yang layak bagi tumbuh kembang anak-anak.

Lebih dari sekadar infrastruktur, pembangunan ini mencerminkan semangat nasional dalam memperkuat pendidikan dasar berbasis nilai. Sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Indonesia yang menekankan pemerataan akses dan kualitas, kisah kecil dari Bali ini menjadi potret nyata bagaimana negara hadir hingga ke akar rumput.

Dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional, pesan Usnanik terasa menggetarkan:

“Semoga kita semua sebagai pendidik bisa menjalankan tugas dengan profesional dan menjadikan anak-anak bangsa ini generasi yang hebat.”


Melampaui Kelas: Membangun Jejak Sejarah Islam

Namun langkah YPBWI Bali tidak berhenti pada pembangunan ruang kelas. Visi yang lebih besar tengah dirintis: pembangunan museum pendidikan dan sejarah Islam di Bali, yang direncanakan berlokasi di Jembrana.

Proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya merawat ingatan kolektif dan identitas keislaman di tengah keberagaman Pulau Dewata.

Dalam rencana tersebut, yayasan akan menggandeng berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat serta sinergi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

“Pendidikan dan sejarah harus berdampingan. Kita tidak bisa membangun masa depan tanpa memahami masa lalu,” tegas Usnanik.


Gotong Royong sebagai Nafas Gerakan

Sebagaimana tradisi panjang bangsa ini, pembangunan tersebut akan digerakkan melalui semangat gotong royong. Yayasan telah merancang pembentukan panitia khusus untuk penggalangan dana dan pembangunan, melibatkan anggota internal maupun masyarakat luas.

Seruan pun disampaikan kepada para dermawan:

“Kami mohon kepada para donatur, mari bersama-sama menyisihkan sebagian rezeki untuk pendidikan anak-anak kita dan untuk keberlanjutan nilai-nilai agama.”

Pesan ini menggema sebagai panggilan moral di tengah dinamika zaman yang kerap menggeser prioritas sosial.


Dari Bali untuk Indonesia

Di balik gemerlap pariwisata Bali, kisah ini mengingatkan bahwa denyut pendidikan dan perjuangan umat tetap hidup, tumbuh dalam diam, dan bergerak dalam ketulusan.

Apa yang dilakukan YPBWI Bali adalah potret kecil dari wajah besar Indonesia: bahwa perubahan tidak selalu lahir dari pusat, tetapi dari pinggiran yang bekerja dengan hati.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini pun menemukan maknanya yang paling jujur—bukan dalam slogan, melainkan dalam tindakan nyata.

Bahwa dari sebuah atap yang patah, bisa lahir bangunan harapan.
Bahwa dari doa yang sederhana, bisa tumbuh peradaban.

Dan dari ruang-ruang kecil di Bali, masa depan bangsa sedang dipersiapkan—dengan iman, ilmu, dan keteguhan langkah. (AMBAR& RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'