Detail Artikel

Dari Setiayaki No. 9, Ustadz Rahmat Hidayat Serukan Ramadan sebagai Bulan Harmoni dan Moderasi

Dari Setiayaki No. 9, Ustadz Rahmat Hidayat Serukan Ramadan sebagai Bulan Harmoni dan Moderasi

Denpasar — Senja merambat pelan di Jalan Setiayaki No. 9 Denpasar. Di pelataran rumah yang telah menjelma ruang temu lintas iman itu, lantunan salam menggema, disusul tepuk tangan hangat. Di hadapan tokoh lintas agama, aktivis sosial, akademisi, serta anak-anak yatim yang menjadi tamu kehormatan, Ustadz Rahmat Hidayat menyampaikan ceramah yang bukan hanya menyejukkan, tetapi juga menggugah kesadaran kebangsaan.

Dalam suasana buka puasa bersama yang sarat makna toleransi, Ustadz Rahmat mengangkat tema besar: Ramadan sebagai bulan harmoni dan penguat moderasi beragama.

“Tujuan puasa itu takwa,” ujarnya membuka tausiah. “Tetapi takwa bukan sekadar ritual spiritual. Ia harus tampak dalam kesalehan sosial.”

Takwa yang Menyentuh Sesama

Dengan gaya retorika yang hangat dan sesekali diselingi humor, ia mengingatkan bahwa kualitas ibadah tidak diukur dari simbol lahiriah, melainkan dari dampaknya pada sesama.

“Orang beragama itu sukses kalau dua hal terpenuhi: kualitas spiritualnya baik, dan kualitas sosialnya juga baik. Jangan merasa paling dekat dengan Tuhan, tapi dengan tetangga justru menyakiti,” tegasnya.

Ia mengkritik cara pandang keberagamaan yang sempit dan eksklusif. Menurutnya, pemahaman agama yang benar justru melahirkan keramahan, bukan ancaman.

“Jadikan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Inspirasi untuk berbuat baik, menjaga, dan merawat kebersamaan. Bukan untuk memaksakan atau menghakimi.”

Ukhuwah yang Lebih Luas

Dalam ceramahnya, Ustadz Rahmat memaparkan tiga konsep persaudaraan: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Di tengah hadirin yang terdiri dari berbagai latar agama, ia menekankan pentingnya ukhuwah kebangsaan dan kemanusiaan.

“Kalau perbedaan agama adalah takdir Tuhan, maka tugas kita adalah menyatukan, bukan memecah. Kita mungkin berbeda dalam iman, tetapi kita bersaudara dalam kebangsaan.”

Ia mengutip pesan Al-Qur’an tentang kebebasan berkeyakinan sebagai pengingat bahwa keberagaman adalah kehendak Ilahi, bukan kesalahan sejarah.

“Kalau Tuhan menghendaki semua orang satu agama, bisa saja terjadi. Tapi kenyataannya tidak. Artinya, kita diminta belajar hidup berdampingan.”

Bali sebagai Laboratorium Kerukunan

Ustadz Rahmat juga menyampaikan kebanggaannya menjadi Muslim yang hidup di Indonesia, khususnya Bali. Ia menyebut Bali sebagai contoh nyata moderasi beragama yang hidup dan dipraktikkan, bukan sekadar jargon.

“Di tempat lain mungkin sulit melihat pecalang menjaga shalat Jumat, atau Banser menjaga gereja saat Natal. Tapi di Bali, itu nyata. Di sinilah harmoni diuji dan dibuktikan.”

Ia bahkan menyinggung bagaimana Indonesia menjadi rujukan negara lain dalam praktik toleransi, termasuk ketika delegasi dari Afghanistan belajar tentang kerukunan ke Indonesia.

“Kita boleh kalah dalam teknologi, boleh kalah dalam ekonomi. Tapi dalam moderasi beragama, Indonesia punya kebanggaan dunia.”

Agama dan Budaya: Harmoni yang Tak Terpisahkan

Menariknya, ceramah itu tidak hanya berbicara tentang relasi antaragama, tetapi juga pentingnya menjaga budaya lokal sebagai medium harmoni.

Menurutnya, agama di Indonesia diterima secara damai karena berpadu dengan budaya. Ia mengajak umat beragama untuk tetap mencintai identitas kebudayaan masing-masing.

“Jadilah Muslim Bali yang utuh. Jadilah Hindu Bali yang utuh. Jadilah Kristiani Bali yang utuh. Agama dan budaya tidak untuk dipertentangkan, tetapi dipadukan.”

Ia berbagi kisah pribadi tentang pentingnya merawat identitas budaya, termasuk memberi nama anak-anaknya dengan unsur kearifan lokal Bali sebagai bentuk penghormatan pada akar tradisi.

Ramadan sebagai Momentum Kedewasaan Beragama

Menjelang azan magrib, pesan Ustadz Rahmat mencapai klimaksnya: Ramadan harus menjadi bulan harmoni.

“Jangan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan ego, amarah, dan kebencian. Kalau ada tetangga berbeda agama sedang merayakan hari sucinya, jaga perasaannya. Itulah kualitas ibadah.”

Ia mencontohkan praktik toleransi di Bali ketika perayaan Nyepi dan ibadah umat Muslim beriringan, diselesaikan dengan dialog dan saling pengertian tanpa konflik.

“Yang sama jangan dibeda-bedakan. Yang berbeda jangan dipaksakan sama. Selesai.”

Doa untuk Rumah Moderasi

Menutup tausiah, Ustadz Rahmat mendoakan tuan rumah dan seluruh penggerak kolaborasi sosial di Setiayaki No. 9 agar terus menjadi simpul persaudaraan.

Di rumah itu, toleransi tidak berhenti sebagai wacana. Ia menjelma tindakan: duduk bersama, berbuka bersama, berdoa bersama.

Ramadan sore itu bukan sekadar perjamuan takjil. Ia menjadi ruang pembuktian bahwa di tengah dunia yang mudah terbelah, Denpasar—dari sebuah rumah di Setiayaki No. 9—masih menyajikan harapan.

Bahwa keberagaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan alasan untuk saling mendekat.(RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'