Dari Silaturahmi ke Konsolidasi: Ahmad Hanafi dan Arah Baru ICMI Bali Pasca-Silakwil
Dari Silaturahmi ke Konsolidasi:
Ahmad Hanafi dan Arah Baru ICMI Bali Pasca-Silakwil
Denpasar — Menjelang dimulainya
rangkaian Halal Bihalal ICMI Organisasi Wilayah Bali di Aula Kementerian Agama
Provinsi Bali, denyut persiapan tidak hanya terasa pada aspek teknis acara,
tetapi juga pada arah pemikiran organisasi. Dalam wawancara bersama Radio Mekantara
Bali dan Suara Umat, Sekretaris Umum ICMI Orwil Bali, Ahmad Hanafi,
membuka lapisan makna di balik kegiatan yang tampak sederhana ini.
Bagi Hanaf, Halal Bihalal tahun
ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah simpul pertemuan antara rasa
syukur, capaian intelektual, dan konsolidasi organisasi.
Tasyakuran
sebagai Bahasa Intelektual
Dalam penuturannya, Hanaf
menjelaskan bahwa kegiatan ini dirangkaikan dengan tasyakuran atas capaian
akademik para pengurus. Dalam kurun enam bulan terakhir, sejumlah anggota ICMI
Bali berhasil menorehkan prestasi—mulai dari doktoral hingga spesialisasi.
“ICMI adalah rumah cendekia.
Maka ketika ada capaian akademik, itu bukan hanya kebanggaan personal, tetapi
harus menjadi energi kolektif,” ujarnya.
Nama-nama seperti Wahyu
Srihandono, Agus Samijaya, hingga sejumlah doktor lainnya menjadi simbol bahwa
organisasi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan kapasitas nyata.
Namun, menariknya, tidak ada
seremoni berlebihan.
“Tidak ada penghargaan material. Apresiasi kita adalah pengakuan
terbuka—disaksikan bersama, sebagai bentuk penghormatan moral,” tambahnya.
Forum
Internal, Energi Internal
Berbeda dari kegiatan besar yang
terbuka untuk publik, Halal Bihalal ini dirancang secara khusus sebagai ruang
internal. Yang hadir adalah Dewan Pakar, Dewan Penasehat, Dewan Pertimbangan,
Dewan Kehormatan, serta perwakilan organisasi daerah (Orda) dan badan otonom.
“Ini ruang keluarga besar. Kita
ingin memperkuat dari dalam,” jelas Hanafi.
Keputusan untuk menjaga forum
tetap internal bukan tanpa alasan. Dalam pandangannya, organisasi yang kuat
harus bertumpu pada fondasi internal yang solid sebelum melangkah lebih jauh ke
ruang publik.
Dari Halal
Bihalal ke Arah Strategis
Lebih jauh, Hanaf menegaskan
bahwa momentum ini adalah titik awal konsolidasi pasca-Silaturahmi Kerja
Wilayah (Silakwil). Ia menyebutkan bahwa beberapa program strategis telah
disepakati dan siap dijalankan.
“Yang pertama adalah penguatan
pemahaman antar-pengurus. Kedua, meningkatkan soliditas antara Orwil, Orda, dan
badan otonom. Ketiga, memastikan program kerja berjalan efektif,” paparnya.
Di antara program tersebut,
muncul isu-isu krusial seperti pendidikan politik kebangsaan, pengelolaan
lingkungan—termasuk persoalan sampah—serta pembenahan struktur organisasi di
tingkat daerah.
Koordinasi:
Kata Kunci yang Terlupakan
Dalam nada reflektif, Hanaf
mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada gagasan, melainkan pada
koordinasi.
“Kita punya banyak program
bagus. Tapi tanpa koordinasi yang intens, itu hanya akan menjadi dokumen,” ujarnya jujur.
Karena itu, ia mendorong agar
komunikasi lintas struktur diperkuat—bukan hanya formal, tetapi juga
substantif. Pertemuan rutin, sinergi program, dan pembagian peran menjadi
agenda penting ke depan.
Menjahit
Ulang Semangat Kolektif
Di ujung wawancara, satu pesan
mengemuka:
bahwa organisasi ini sedang berada dalam fase transisi—dari euforia kegiatan
menuju kedewasaan gerakan.
“Halal bihalal ini adalah awal.
Setelah ini, kita harus bergerak lebih terarah, lebih solid, dan lebih
berdampak,” tegasnya.
Dan di sanalah, di antara
kalimat-kalimat yang sederhana namun sarat makna, tersusun arah baru ICMI Bali:
sebuah organisasi yang tidak hanya merawat silaturahmi, tetapi juga
meneguhkan peran intelektualnya dalam menjawab tantangan zaman.
Karena pada akhirnya,
silaturahmi bukan tujuan akhir—
melainkan jalan menuju kekuatan bersama.(AMBAR & RAYD)



