Detail Artikel

Dari Tipat Rebus Sampai Teba Modern: Waktunya Tabanan “Ngulek” Solusi Sampah Sendiri

Dari Tipat Rebus Sampai Teba Modern: Waktunya Tabanan “Ngulek” Solusi Sampah Sendiri

TABANAN, 13 Mei 2025.
Pagi di Lapangan Alit Saputra selalu terasa seperti bubuk kopi Bali yang baru diseduh—hangat, harum, dan menyegarkan. Udara bersih, matahari masih malu-malu, dan anak-anak sekolah tumpah ruah seperti rebusan tipat cantok di pagi Galungan. Penuh, semangat, dan menyatu dalam gerak yang sehat.

Petugas kebersihan tampak sigap sejak fajar menyingsing, bekerja bak tim ngelawar saat persiapan upacara. Mereka tidak banyak bicara, hanya bekerja saling bantu—mengepel lapangan basket, menyapu daun gugur, dan menyisihkan genangan air agar anak-anak bisa berlari tanpa tergelincir. Salut untuk para pahlawan tanpa sarung tangan emas ini.

Namun, di sudut taman, sebuah pemandangan menusuk rasa. Tumpukan plastik hitam, daun basah, gelas-gelas bekas air mineral, hingga musuh bebuyutan Bapak Gubernur O Koster—bungkus plastik sekali pakai—berdiri diam seperti Gunung Agung yang enggan meletus tapi membuat kita terus waspada.

Lalu muncul pertanyaan sederhana, "Kenapa kita tidak mulai dari yang bisa kita olah sendiri?"

Teba Modern: Resep Lama, Dimasak dengan Wajan Baru

Pikiran melompat ke sebuah desa di Bali yang diam-diam sedang masak besar. Bukan memasak jukut undis atau tum ikan tongkol, tapi masak solusi—tepatnya dengan konsep Teba Modern. Sebuah cara cerdas menanam sampah organik di halaman rumah, yang nanti akan berubah jadi kompos dan menyuburkan tanah.

Daun bukan sampah, Bli. Dia cuma bahan mentah. Kalau diolah dengan benar, dia bisa seperti kelapa tua—keliatannya remeh, tapi begitu diparut, santannya bisa menyatukan rasa dalam sepanci lawar ayam yang nikmatnya luar biasa.

Ayo, Tabanan, Saatnya Kita “Ngulek” Bareng!

Kami tidak menuntut. Hanya mengajak. Pemerintah Tabanan, para pemangku wilayah, tokoh adat, sekolah-sekolah, mari kita coba racik solusi ini bersama. Tak usah tunggu meletus dulu, cukup sediakan tempat. Kami rakyat jelata siap mengulek. Siap memotong bahan. Siap menumis gerakan ini agar harum sampai ke dapur kebijakan.

Sosialisasikan Teba Modern.
Bangun infrastrukturnya.
Libatkan desa adat, banjar, komunitas sekolah.

Sebab, solusi tidak harus muluk-muluk. Seperti membuat jajan uli—cukup beras ketan, kelapa parut, dan sedikit garam. Yang penting niat dan tangan gotong royong.

Kalau daun bisa jadi pupuk,
Kalau plastik bisa dikumpulkan dan dijual,
Kenapa kita harus terus buang dan buang tanpa arah?

Penutup: Waktu Kita Menjadi Chef di Dapur Bumi

Mari kita jadi chef. Bukan chef masakan saja, tapi chef yang meracik masa depan lingkungan kita.
Mulailah dari dapur rumah, dari halaman teba, dari kompos kecil, hingga nanti kita bisa bilang:

“Tabanan bukan cuma lumbung beras Bali. Tapi juga lumbung ide, tempat di mana daun pun bisa jadi berkah, bukan beban.”

Karena bumi bukan tempat sampah,
Ia adalah piring saji warisan untuk anak cucu kita nanti. ( Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'