Detail Artikel

Demonstrasi di Santo Domingo: Seperti Mofongo yang Terlalu Berbumbu”

Demonstrasi di Santo Domingo: Seperti Mofongo yang Terlalu Berbumbu”

Oleh: Redaksi Internasional Rasa Dunia (Chef Raden Alit) 

Pada Jumat siang waktu setempat, udara panas Santo Domingo bukan hanya datang dari terik matahari Karibia, tapi juga dari massa yang berkumpul di sekitar stasiun metro utama. Demonstrasi yang direncanakan sejak pagi mulai mengental menjelang pukul 13.00—seperti mofongo yang sedang dimasak di atas bara opini publik.

Rasa yang Terlalu Tajam

Seperti masakan khas Republik Dominika yang terkenal pedas dan kaya rempah—mangu, sancocho, hingga chicharrón de pollo—demonstrasi ini muncul karena “rasa” yang dianggap tidak seimbang oleh masyarakat. Ada ketimpangan yang dianggap terlalu asin, kebijakan yang dinilai terlalu asam, dan janji politik yang makin terasa hambar.

Massa bergerak dari dapur keresahan sosial menuju ruang publik. Mereka membawa poster seperti membawa ulekan besar: siap menumbuk, bukan sekadar mengaduk.


Mofongo Sosial yang Terlalu Keras

Di Republik Dominika, mofongo adalah simbol kekuatan: pisang raja digoreng, diulek dengan bawang, minyak zaitun, dan kulit babi goreng. Tapi bila terlalu padat atau dibumbui berlebihan, ia bisa jadi keras dan sulit dinikmati.

Itulah yang terjadi hari ini: suara rakyat, jika tidak dicampur dan ditumis dengan keadilan serta komunikasi, bisa berubah menjadi mofongo yang sulit dicerna oleh pemerintah.


Dari Stasiun Metro ke Jalanan Politik

Demo yang dimulai dari stasiun metro ini bukan hanya tentang satu isu. Ia seperti sepiring “sancocho dominicano”—sup dengan tujuh macam daging. Artinya: kompleks. Mencakup isu ekonomi, layanan publik, dan tekanan sosial pasca-pandemi.

Kerumunan tak hanya membawa spanduk, tapi juga semangat yang menggelegak seperti rebusan kaldu. Suasana panas, namun belum mencapai titik didih yang tak bisa dikendalikan.


Penutup: Wajan Demokrasi di Api Besar

Dominika, seperti halnya banyak negara, kini sedang mengolah “menu demokrasi”-nya sendiri. Demonstrasi ini adalah bagian dari proses memasak yang kadang menimbulkan percikan, tapi bisa menjadi santapan keadilan jika disajikan dengan bumbu keseimbangan.

Karena dalam dunia politik, seperti dalam dapur Karibia: api boleh besar, tapi rasa harus tetap seimbang.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'