Di Antara Nama-Nama yang Dipanggil: Ketika Santunan Menjadi Doa dan Kolaborasi Menjadi Cahaya
Di Antara Nama-Nama yang Dipanggil: Ketika Santunan Menjadi Doa dan Kolaborasi Menjadi Cahaya
Denpasar — Sore itu, bukan hanya cahaya senja yang menghangatkan kediaman Hj. Mien Khalil, tetapi juga satu per satu nama yang dipanggil dengan penuh harap. Di tengah suasana Ramadhan yang khidmat, suara MC menggema, menyebut nama-nama anak yatim dengan pelan namun pasti — seolah setiap nama adalah amanah yang harus dijaga.
“Rizal… Fatima… Abira Nur… Farhan… Samudra… Bini… Muhammad Al-Fatih… Ahwad Ghaffar… Eka… Dava…”
Sepuluh anak yatim berdiri ke depan. Mereka melangkah dengan campuran rasa malu, bangga, dan haru. Di belakang mereka, para tokoh dari sembilan lembaga bersiap menyerahkan santunan. Spanduk dibentangkan seadanya sebagai latar dokumentasi. Tidak ada kemegahan dekorasi. Tidak ada panggung tinggi. Yang ada hanyalah keikhlasan.
Santunan itu berupa sembako dan bantuan tunai, termasuk tambahan donasi dari MTP IPHI Bali yang diserahkan langsung oleh Hj. Dewi Rully bersama jajaran pengurusnya. Namun lebih dari sekadar paket bantuan, yang diberikan sore itu adalah pengakuan bahwa mereka tidak sendiri.
Setiap tepuk tangan yang terdengar bukan sekadar formalitas, tetapi pernyataan diam bahwa umat ini masih memiliki hati.
Anak-Anak Berprestasi: Harapan yang Dirawat
Setelah anak-anak yatim kembali ke tempat duduknya, MC kembali memanggil nama-nama lain. Kali ini, lima siswa berprestasi binaan LazisMi Bali.
“Ananda Nisa… Zikri Maulana Hakim… Sepia Ramadhani… Rekamia… Rama…”
Mereka melangkah dengan wajah lebih percaya diri. Prestasi yang diraih bukan sekadar angka dalam rapor, melainkan bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Santunan dan beasiswa diberikan secara simbolis oleh para perwakilan lembaga, di antaranya H. Joko, M.Kom., H. Maman, H. Henk Kusumawardana, dan tokoh lainnya. Dalam momen itu, pendidikan ditegaskan sebagai jalan pembebasan — bukan hanya dari kemiskinan materi, tetapi juga dari keterbelakangan mental.
“Belajar sungguh-sungguh adalah bentuk syukur,” pesan yang sebelumnya disampaikan kembali terasa relevan. Di tengah tantangan zaman, anak-anak ini adalah bukti bahwa harapan harus terus dipupuk.
Guru Ngaji: Penjaga Cahaya di Balik Layar
Lalu tibalah giliran para guru ngaji. Nama-nama mereka disebut satu per satu:
Wijayati Silahgrani.
Nini Purwati.
Fakroji Firdaus.
Solehan.
Teti.
Sebagian hadir langsung. Sebagian diwakili. Namun satu hal yang pasti: mereka adalah penjaga cahaya yang sering luput dari sorotan.
Guru ngaji adalah mereka yang mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada generasi muda. Mereka membimbing dengan sabar, sering kali tanpa imbalan memadai. Santunan yang diberikan sore itu mungkin tidak seberapa dibanding pengabdian mereka, tetapi ia adalah bentuk penghormatan.
Di hadapan para tokoh kolaborasi — termasuk H. Imam Asrorie, H. Muslim, dan perwakilan lembaga lainnya — para guru ngaji menerima santunan dengan senyum yang menenangkan. Seolah ingin mengatakan: perjuangan kecil ini tetap berarti.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Jika dilihat sepintas, kegiatan ini hanyalah agenda rutin Ramadhan: pembacaan Al-Qur’an, sambutan, santunan, foto bersama, lalu berbuka puasa. Namun sesungguhnya, ia lebih dari itu.
Ia adalah pelajaran tentang kolaborasi. Tentang bagaimana sembilan lembaga dapat duduk bersama tanpa membawa ego masing-masing. Tentang bagaimana saudara-saudara dari berbagai latar, termasuk komunitas Hindu dari Ormas LANTIP, dapat hadir dalam satu ruang kemanusiaan.
Di sinilah makna i’tikaf yang sebelumnya disampaikan menemukan konteksnya. I’tikaf bukan hanya berdiam di masjid selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ia adalah menghadirkan niat untuk mendekat kepada Allah dalam setiap ruang kebaikan.
Dan sore itu, kediaman Hj. Mien Khalil menjadi “masjid sosial” — tempat hati-hati berdiam dalam niat yang sama.
Santunan Adalah Doa yang Bergerak
Ketika adzan Maghrib akhirnya berkumandang, suasana berubah menjadi hening yang khusyuk. Anak-anak yatim, siswa berprestasi, guru ngaji, para tokoh, dan relawan duduk sejajar. Tidak ada perbedaan strata. Semua menunggu waktu berbuka dengan hati yang sama-sama bergetar.
Mungkin santunan yang diterima anak-anak itu akan habis dalam hitungan hari. Mungkin sembako akan segera dimasak dan dimakan. Namun doa yang lahir dari momen itu tidak akan habis.
Karena setiap tangan yang memberi, sejatinya sedang menerima.
Setiap nama yang dipanggil, sejatinya sedang diangkat derajatnya.
Dan setiap kolaborasi yang terjalin, sejatinya sedang menulis sejarah kecil tentang peradaban.
Ramadhan mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu datang dari kelimpahan, tetapi dari kepedulian.
Dan di antara nama-nama yang dipanggil sore itu, kita belajar satu hal:
Umat ini akan tetap kuat, selama masih ada yang mau berbagi, masih ada yang mau peduli, dan masih ada yang mau bergerak bersama.(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA
SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



