Di Bali, Wamenag Romo Syafi’i Bicara Perubahan Kemenag, Toleransi dan Amanah FAHMI UMMI
Di Bali,
Wamenag Romo Syafi’i Bicara Perubahan Kemenag, Toleransi dan Amanah FAHMI UMMI
DENPASAR,
Suara Umat.id —
Pertemuan itu semula hanya sebuah silaturahmi. Tetapi dari sebuah rumah di
Jalan Halmahera, Denpasar, Selasa malam, 22 September 2026, Wakil Menteri Agama
RI Romo H. R. Muhammad Syafi’i membawa percakapan jauh melampaui
seremoni organisasi.
Di hadapan para tokoh agama,
tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan jajaran Forum Silaturahmi Ummi
Muslimah Indonesia (FAHMI UMMI), Romo berbicara tentang perubahan di tubuh
Kementerian Agama, perlunya percepatan kerja birokrasi, toleransi yang tidak
menuntut umat meninggalkan keyakinannya, hingga pentingnya profesionalitas,
kualitas dan integritas dalam menjalankan amanah.
Ia menyebut Kementerian Agama
sedang menghadapi tantangan untuk bergerak lebih aktif, antusias dan progresif
dalam menangani persoalan kehidupan keagamaan. Menurut dia, banyak urusan
keagamaan yang harus diterjemahkan menjadi program nyata, sementara sebagian
proses birokrasi selama ini berjalan terlalu otomatis.
“Bagaimana melakukan
percepatan-percepatan,” menjadi salah satu garis penting dalam sambutan Romo
malam itu.
Bagi Romo, perubahan tersebut
bukan tanpa kegelisahan. Ia mengakui adanya kalangan yang sudah nyaman dengan
kemapanan. Namun, ia mengatakan perubahan tetap perlu diarahkan agar
Kementerian Agama lebih progresif dalam mengurus kehidupan keagamaan masyarakat.
Toleransi
tanpa meminta orang meninggalkan keyakinan
Bagian paling substantif dari
sambutan Romo justru muncul ketika ia berbicara tentang toleransi beragama.
Ia menawarkan cara pandang yang
berbeda dari pemahaman toleransi yang menurutnya kerap disampaikan dengan
meminta seseorang mengurangi fanatisme terhadap agamanya.
Romo berpandangan, toleransi
justru dapat tumbuh ketika masing-masing pemeluk agama menjalankan keyakinannya
secara sungguh-sungguh, sekaligus menghormati kehidupan bersama.
“Kalau mau toleransi, semua
pemeluk agama wajib menaati agamanya dengan totalitas dan dengan benar,”
demikian substansi pernyataannya dalam forum tersebut.
Ia kemudian membawa gagasan itu
pada pengalaman personal ketika masih tinggal bertetangga dengan komunitas yang
berbeda agama. Ia menceritakan bagaimana hubungan sosial dapat berlangsung erat
tanpa harus menghapus perbedaan keyakinan.
Pengalaman tersebut menjadi
dasar bagi kesimpulannya bahwa kehidupan beragama yang dijalankan dengan benar
justru dapat melahirkan keterbukaan dan membangun harmoni sosial.
Bagi Romo, persoalan kerukunan
tidak seharusnya diarahkan pada pencarian kesalahan agama lain.
Ia mengingatkan agar para tokoh
agama tidak menyebarkan ceramah atau narasi yang dapat merusak kekompakan
masyarakat. Jika muncul narasi yang mengarah pada perpecahan, menurut dia,
perlu dilihat pula siapa yang berada di belakangnya dan apakah terdapat agenda
tertentu yang hendak merusak kerukunan.
Dari
transaksional menuju profesionalitas
Romo kemudian menggeser
pembicaraan dari toleransi ke tata kelola pemerintahan.
Ia menceritakan pengalamannya di
Kementerian Agama dan menyampaikan kritik terhadap praktik transaksional serta
nepotisme yang menurutnya harus dihindari.
Sebagai gantinya, ia mengatakan
pendekatan yang hendak dikedepankan adalah profesionalitas, kualitas dan
integritas.
“Siapapun yang memiliki syarat
ini,” kata Romo dalam sambutannya, “diam saja” — dalam konteks bahwa orang
tersebut seharusnya memiliki kesempatan berdasarkan kualitas dan integritasnya.
Pesan tersebut membuat
silaturahmi malam itu memperoleh dimensi lain.
Sebab amanah, baik dalam
organisasi masyarakat maupun pemerintahan, pada akhirnya tidak cukup
disandarkan pada kedekatan.
Ia membutuhkan kompetensi.
Ia membutuhkan integritas.
Dan ia membutuhkan keberanian
untuk meninggalkan cara-cara lama yang tidak lagi relevan.
FAHMI UMMI
dan rumah besar peran perempuan
Di hadapan pimpinan pusat FAHMI
UMMI yang hadir malam itu, Romo juga menempatkan organisasi tersebut dalam
konteks gerakan perempuan yang lebih luas.
Dalam pemberitaan sebelumnya,
Romo Syafi’i memang tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina FAHMI UMMI dan pernah
menjelaskan bahwa organisasi tersebut diarahkan menjadi “rumah besar” bagi
berbagai organisasi perempuan, dengan tujuan mendorong perempuan menjadi subjek
dalam politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan bidang kehidupan lainnya. (Kabar Sumedang)
Konteks itu bertemu dengan
pertemuan di Denpasar.
Ketua Umum/Plt Ketua Umum FAHMI
UMMI, Maya Suhasni Siregar, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar FAHMI
UMMI dapat menjadi organisasi yang berdaya di Denpasar. Ia juga mengajak para
tokoh yang hadir memberikan dukungan terhadap perkembangan organisasi tersebut.
Malam itu, pimpinan pusat FAHMI
UMMI hadir lengkap dalam pertemuan tersebut. Romo sendiri menyebut kehadiran
jajaran pimpinan pusat itu sebagai sesuatu yang baru pertama kali terjadi dalam
konteks pertemuan di Bali.
Dari
Denpasar, percakapan bergerak ke pendidikan
Romo kemudian membawa
pembicaraan kepada sektor pendidikan keagamaan.
Ia menjelaskan bahwa setelah
sejumlah urusan berpindah dari Kementerian Agama ke lembaga lain, ruang utama
Kementerian Agama menurutnya semakin terkonsentrasi pada dua hal: pendidikan
keagamaan dan pelayanan agama.
Dalam bagian berikutnya, ia
berbicara panjang mengenai pendidikan unggulan di lingkungan Kementerian Agama
dan pentingnya menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan kepemimpinan bangsa.
Ia menyinggung MAN Insan
Cendekia serta gagasan pengembangan pendidikan vokasional di lingkungan
madrasah agar lulusan tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga
kompetensi yang memungkinkan mereka memasuki dunia kerja.
Pada titik ini, sambutan Romo
sebenarnya bergerak dari persoalan organisasi menuju persoalan yang lebih luas:
bagaimana negara, masyarakat dan lembaga keagamaan menyiapkan manusia
Indonesia masa depan.
Dan di situlah silaturahmi FAHMI
UMMI memperoleh makna yang lebih luas.
Pertemuan di rumah Hj. Saodah
bukan sekadar pertemuan tokoh.
Ia menjadi ruang tempat gagasan
tentang agama, toleransi, birokrasi, integritas, pendidikan dan pemberdayaan
perempuan bertemu dalam satu meja.
Malam itu belum menghasilkan
seluruh jawaban.
Tetapi setidaknya, sebuah
percakapan telah dimulai.
Dari Jalan Halmahera, Denpasar,
pesan Romo Syafi’i terdengar cukup jelas: kehidupan keagamaan tidak boleh
berjalan dengan autopilot. Ia membutuhkan manusia yang berani bergerak, bekerja
secara profesional, menjaga integritas dan membangun harmoni.
Dan FAHMI UMMI, dengan amanah
baru yang akan dijalankan di Bali, berada di tengah percakapan itu.
(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



