Detail Artikel

Di Balik Debu Reruntuhan: Cahaya Iman dan Harapan Para Santri

Di Balik Debu Reruntuhan: Cahaya Iman dan Harapan Para Santri


Buduran, Sidoarjo — Ketika langit sore berubah getir menjadi pengumuman kehancuran, ratusan suara tak berdaya menjerit dalam diam. Lalu runtuhlah musala itu — tiga lantai gedung yang dalam detik-detiknya menjadi perangkap beton untuk mereka yang tengah mengangkat takbir, tengah melafalkan ayat, tengah bermunajat., Sidoarjo — Ketika langit sore berubah getir menjadi pengumuman kehancuran, ratusan suara tak berdaya menjerit dalam diam. Lalu runtuhlah musala itu — tiga lantai gedung yang dalam detik-detiknya menjadi perangkap beton untuk mereka yang tengah mengangkat takbir, tengah melafalkan ayat, tengah bermunajat.


Dalam keheningan yang memekakkan, ada yang terselamatkan bukan hanya jasadnya, tapi jiwanya. Beberapa nama terangkat dari puing: Muhammad Rijalul Qoib (13), Wahyudi (13), Syaiful Rosi Abdillah (13), dan di antara yang paling menggetarkan hati, Syahlendra Haikal — bocah dari Probolinggo, yang kisahnya kini menjadi sinar kecil di kegelapa


Terperangkap dalam Bayang Debu dan Doa


Haikal tak bergerak banyak. Tubuhnya terjepit beton berat — bagian besar reruntuhan menindihnya. Namun meski udara mulai mencekik dan suara gemuruh kepedihan menerpa, iman kecil di dadanya tetap berdetak tak henti. Di antara kegelapan, di antara tumpukan debu dan dinginnya besi yang patah, Haikal mendengar gema azan Isya — entah dari luar, atau justru gema ingatan hatinya sendiri. 

NU Online Kepulauan Riau


Ia menepuk bahu sahabatnya yang terkulai lemah. “Ayo salat, ayo salat,” bisiknya, suaranya gemetar namun tegas. Sahabatnya hanya membalas pertanyaan: “Siapa yang jadi imam?” Hanya gelap menjawab. Tapi itu tak menghalangi Haikal untuk mengikuti bacaan, menegakkan salat berjamaah di bawah reruntuhan yang menindih harapan. Subuh datang tanpa cahaya di tempatnya terperangkap — tapi subuh di hatinya tetap merona. Keteguhan iman menghadirkan pancaran terang yang tak bisa diruntuhkan beton. 

NU Online Kepulauan Riau


Momen-Momen yang Tak diabadikan


Di antara santri yang selamat, ada yang tak dimuat di media sosial. Ada yang tidak difoto, tidak diwawancara, hanya didengarkan lirih oleh sesar dari saudara-saudaranya di pesantren, atau oleh alam sendiri yang merundung reruntuhan malam. Misalnya, Wahyudi (13) yang terperangkap selama tiga hari di bawah beton, dalam dingin dan lapar, antara sadar dan terbungkam oleh trauma. Saat ia bangun dari keadaan tidak sadarkan diri, yang dilihatnya hanyalah reruntuhan dan teman-teman yang masih hidup di sekelilingnya, yang juga tak bisa bergerak. Ia mendengar suara-suara tak jelas: ratapan doa, seruan tolong, gema langkah penyelamat yang jauh, dan… dzikir yang ia sendiri hampir lupa dikumandangkan. 

detiknews

+1


Lalu ada Syaiful Rosi Abdillah (13), “santri terakhir yang dievakuasi dalam keadaan hidup” dari reruntuhan itu. Selama tiga hari, tanpa makanan, tanpa minuman yang memadai, tapi terus memeluk harapan bahwa pagi akan tiba, bahwa tangan penyelamat akan menyentuhnya, bahwa doa-doa yang tersebar dari pesantren, dari rumah, dari langit, akan membawanya keluar. 

detiknews


Jejak Keimanan dalam Tiap Degup Nafas


Dari kisah-kisah itu, terukir jejak-jejak iman:


Ingat salat meski tubuh tak bisa bergerak — iman yang tak tergoyahkan oleh rasa sakit atau ketidakpastian. (Haikal) 

NU Online Kepulauan Riau


Berbagi harapan dan kepedihan dengan teman sejawat di sampingnya — menarik lengan temannya yang kejang, menepuk bahunya agar tetap hidup minimal dalam doa. (Rizal misalnya, membantu temannya Mamat yang kejang) 

detikcom

+1


Kesabaran dalam penantian — tiga hari yang longgar antara harapan dan keputusasaan; antara rasa lapar dan ingatan akan wudu, doa, ayat-ayat yang dipelajari berulang dalam kelas, dalam majelis. 

detiknews

+1


Hikmah yang Tersirat


Kisah-kisah ini mengandung pelajaran yang jauh melampaui statistik korban atau kerusakan fisik:


Bahwa anak-anak yang mencari ilmu bukan hanya menghafal kitab, tetapi menanam iman di hati mereka sedalam akar pohon. Saat badai runtuhan datang, akar itu menopang mereka.


Bahwa harapan tak selalu bersuara lantang, tapi bahkan dalam batin yang terbungkam, doa bisa jadi jangkar.


Bahwa keberanian tak selalu tercipta dari keberingasan, tapi dari ketegaran hati yang memilih salat meski di antara puing, memilih menolong teman yang kejang bahkan saat nyawa terasa menipis.


Penutup: Resonansi Doa dari Reruntuhan


Ketika akhirnya seorang demi seorang diselamatkan — Haikal, Rosi, Wahyudi, dan lainnya — tak semua luka terlihat. Luka tubuh akan sembuh, mungkin, dengan perawatan. Tapi luka jiwa? Butuh waktu, pelukan, dan kisah-kisah seperti ini agar mereka tahu: mereka tidak sendiri.


Dalam satu malam yang kelam, dalam satu pagi yang tiba tanpa cahaya mereka, Haikal tetap menegakkan shalat, tetap menjalin harapan dengan teman-temannya yang mungkin tak terselamatkan. Cerita itu barangkali tak selalu terabadikan di headline atau social media feed. Tapi ia hidup — dalam hati mereka, dalam doa orang tua, dalam keheningan malam yang menyaksikan keimanan yang kecil namun kuat.


Semoga kisah-kisah seperti ini menjadi pengingat: bahwa di balik puing ada iman; di balik tangis ada harapan; di balik hilangnya banyak hal, anak-anak mencari ilmu tetap menjadi cahaya yang tak mudah padam.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'