Detail Artikel

Di Balik Gelombang: Kisah Pemakaman yang Tetap Berjalan Saat Sirine Tsunami Menggema

Di Balik Gelombang: Kisah Pemakaman yang Tetap Berjalan Saat Sirine Tsunami Menggema

Otaru, Hokkaido – Saat sirine tsunami meraung di pesisir utara Jepang, memerintahkan ratusan ribu warga mengungsi ke dataran tinggi, satu kelompok kecil tetap diam — tak beranjak, tak gentar, tak memalingkan muka dari arah laut. Di tengah hiruk-pikuk evakuasi pada 30 Juli 2025, sebuah pemakaman tradisional Shinto tetap berjalan di halaman sebuah kuil tua di kota pelabuhan Otaru, Hokkaido.

Dalam bayang-bayang pohon pinus dan batu nisan berlumut, keluarga Matsuda melanjutkan prosesi pemakaman sang nenek, Kazuko Matsuda, yang wafat sehari sebelumnya pada usia 92 tahun. Meski peringatan tsunami berkekuatan 1,3 meter telah diumumkan secara nasional dan pengeras suara kota memerintahkan evakuasi, keluarga tetap tinggal, mematuhi janji terakhir sang almarhum: dimakamkan tepat pada hari "Tsukimi", purnama musim panas.

“Nenek percaya bahwa roh yang dilepas di bawah cahaya bulan Juli akan pulang dengan damai ke leluhurnya,” kata Noboru Matsuda, cucu tertua Kazuko, sambil menggenggam manik-manik juzu di tangan. “Kami memilih antara rasa takut dan rasa hormat. Dan kami memilih hormat.”

Para petugas pemadam kebakaran yang melakukan patroli evakuasi sempat mencoba membujuk keluarga itu untuk pergi, namun para tetua desa yang turut hadir menolak dengan tenang. Menurut mereka, posisi kuil berada cukup tinggi, sekitar 18 meter di atas permukaan laut, dan telah selamat dari tsunami 2011.

Kuil Fujihara, tempat upacara berlangsung, merupakan salah satu situs spiritual tertua di Otaru, berdiri sejak akhir abad ke-17. Di sana, upacara kematian menyatu dengan alam: dupa ditiup angin laut, lentera kertas digantung di cabang pinus, dan mantra dilarutkan dalam sunyi yang nyaris khusyuk — hanya sesekali terganggu oleh raungan sirine dan suara helikopter pantai.

Yang paling menggetarkan, menurut seorang jurnalis lokal yang turut meliput, adalah saat gelombang tsunami kecil menerpa pelabuhan Otaru sekitar pukul 17.03 — tepat ketika lonceng kuil berdentang menandai akhir upacara. Air sempat menggenangi dermaga dan membawa beberapa perahu nelayan hanyut ringan, namun tak ada kerusakan berarti. Tak seorang pun di kuil mengalami luka.

Ironi penuh makna: ketika sebagian besar masyarakat Jepang menghindari laut, keluarga Matsuda justru menyerahkan ruh leluhur mereka kembali kepada samudra. Sebuah keputusan yang tampak nekat di mata awam, namun memiliki akar yang dalam dalam tradisi spiritual Jepang: bahwa hidup dan mati, air dan angin, bencana dan ketenangan, adalah bagian dari satu lingkaran yang sama.

Kini, kuil Fujihara telah menjadi titik ziarah dadakan. Sejak kejadian itu, puluhan warga — termasuk mereka yang kehilangan rumah di tsunami ringan tersebut — datang menyalakan dupa di altar Kazuko. Tidak sedikit pula yang meninggalkan pesan kertas berisi harapan dan permohonan keselamatan. (RAYD) 

Sebagian menyebut tindakan keluarga Matsuda sebagai “kebodohan yang beruntung.” Namun sebagian lain menyebutnya “kebijaksanaan purba yang tak bisa dijelaskan dengan logika modern.”

Di Jepang,” tulis seorang penyair di papan doa kuil itu dua hari setelah kejadian,

‘yang abadi bukanlah benteng tinggi atau pelindung gempa, tapi keberanian manusia menyalami kematian dengan wajah tenang.’

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'