Detail Artikel

“Di Balik Layar Kebersamaan: Ketulusan Panitia yang Menjadi Energi Besar Halal bi Halal ICMI Bali”

“Di Balik Layar Kebersamaan: Ketulusan Panitia yang Menjadi Energi Besar Halal bi Halal ICMI Bali”

Denpasar — Tidak semua kerja besar tampil di panggung utama. Sebagian justru bekerja dalam diam, menyusun, menguatkan, dan memastikan setiap detik acara berjalan tanpa cela. Dalam gelaran Halal bi Halal ICMI Orwil Bali yang berlangsung hangat dan penuh makna, sosok itu hadir melalui sambutan Ketua Panitia, Dr. Agus Samijaya, S.H., M.H., yang menyampaikan bukan sekadar laporan, melainkan potret ketulusan kolektif sebuah tim.

Di hadapan para tokoh, pengurus, dan undangan yang memenuhi ruangan, Agus membuka dengan rasa syukur yang mendalam. Ia menyadari betul bahwa kehadiran para peserta di tengah padatnya aktivitas adalah bentuk komitmen yang tidak sederhana.

“Di hari kerja, di waktu sore ketika energi mulai menurun, kehadiran Bapak dan Ibu semua adalah bukti bahwa kebersamaan ini lebih kuat dari sekadar rutinitas,” ungkapnya dengan nada rendah namun penuh penghargaan.

Ia mengakui sempat diliputi keraguan—apakah kegiatan ini akan mendapat respons yang optimal. Namun kenyataan justru berbicara sebaliknya: ruangan penuh, suasana hidup, dan interaksi yang hangat. Sebuah tanda bahwa ikatan silaturahmi dalam keluarga besar ICMI Bali masih terjaga kuat.

Dalam sambutannya, Agus menegaskan bahwa kegiatan kali ini bukan sekadar Halal bi Halal biasa. Ia menjadi momentum yang memiliki dimensi ganda: silaturahmi sekaligus penguatan aksi sosial melalui program Ramadan Berkah.

“Kegiatan ini memiliki warna yang berbeda. Kita tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Salah satu capaian yang disorot adalah keberhasilan memberikan santunan kepada 78 guru agama, masing-masing sebesar Rp750.000. Angka yang melampaui target awal, sekaligus menjadi simbol bahwa ketika niat baik dikawal bersama, hasilnya akan melampaui ekspektasi.

Tak hanya itu, Agus juga mengungkap bahwa rangkaian kegiatan sebelumnya—termasuk Silakwil—telah menjadi ruang evaluasi sekaligus perumusan langkah strategis ke depan. Ia menekankan pentingnya sinergi yang lebih kuat antara struktur organisasi, baik di tingkat wilayah, daerah, maupun kelompok-kelompok kerja.

“Kita masih perlu meningkatkan sinergitas. ICMI akan kuat jika seluruh elemen bergerak dalam satu irama,” ujarnya, menandai kesadaran organisasi untuk terus berbenah.

Dalam nada yang jujur dan terbuka, ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak membebani keuangan organisasi. Justru sebaliknya, semangat gotong royong dan partisipasi melahirkan keberkahan yang nyata.

“Alhamdulillah, kegiatan ini tidak menguras, bahkan menghadirkan dukungan yang memperkuat organisasi. Ini bukti bahwa sedekah dan kebersamaan selalu menemukan jalannya,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa dukungan yang terkumpul—yang nilainya signifikan—akan menjadi modal penting untuk mendorong program-program ICMI ke depan agar lebih progresif dan berdampak luas.

Namun di balik capaian itu semua, Agus tidak lupa menempatkan dirinya sebagai bagian dari tim yang terus belajar. Ia menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan, sekaligus apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

“Apa yang kita lakukan hari ini adalah kerja bersama. Jika ada kekurangan, itu menjadi tanggung jawab kami. Jika ada keberhasilan, itu milik kita semua,” ucapnya tulus.

Sambutan itu ditutup tanpa retorika berlebih, tetapi justru meninggalkan kesan mendalam: bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada visi besar, tetapi juga pada kerja-kerja sunyi yang dijalankan dengan hati.

Di balik suksesnya acara Halal bi Halal ICMI Bali, ada dedikasi yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa. Dan dari sana, lahir keyakinan bahwa selama kebersamaan ini dijaga, setiap langkah ke depan akan selalu menemukan jalannya.(RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'