Detail Artikel

Di Manakah Ruh Berada Setelah Kematian? Ustaz Irfan El Jawas: Perkara Gaib Harus Berdasarkan Dalil Sahih

Di Manakah Ruh Berada Setelah Kematian? Ustaz Irfan El Jawas: Perkara Gaib Harus Berdasarkan Dalil Sahih


DENPASAR, Suara Umat.id – Ke mana ruh manusia pergi setelah kematian? Apakah alam barzakh benar-benar berada di antara langit dan bumi? Pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian itu menjadi salah satu bahasan menarik dalam sesi tanya jawab Kajian Senin Sore bertajuk Tafsir At-Tanwir, yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Denpasar, Senin (2/11/2026).

Pertanyaan seorang jamaah mengenai posisi ruh di alam barzakh membuka ruang pembahasan tentang batas pengetahuan manusia terhadap perkara gaib. Dalam pertanyaannya, jamaah mengungkapkan pernah mendengar penjelasan seorang tokoh bahwa alam barzakh berada di antara langit dan bumi. Di alam tersebut, ruh disebut dapat melihat, tetapi tidak dapat bergerak ke mana-mana.

Menanggapi pertanyaan itu, Ustaz Irfan El Jawas, Lc., Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah Denpasar, mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai ruh tidak boleh dibangun hanya berdasarkan cerita atau pendapat yang belum memiliki landasan agama yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Sesungguhnya perkara-perkara gaib itu harus dilandasi dengan dalil-dalil yang sahih," tegasnya.

Menurut Irfan, manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui hakikat kehidupan setelah kematian. Perkara ruh merupakan wilayah gaib yang pengetahuan hakikinya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati ketika menyampaikan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh pengalaman dan pengetahuan manusia biasa.

Ruh adalah urusan Allah, pengetahuan manusia terbatas

Irfan kemudian merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 85:

Wa yas'alunaka 'anir-ruh, qulir-ruhu min amri rabbi wa ma utitum minal-'ilmi illa qalila.

Artinya: "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit'."

Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa pengetahuan manusia mengenai ruh memiliki batas. Bahkan Rasulullah SAW tidak mengetahui seluruh perkara gaib dengan sendirinya. Pengetahuan beliau mengenai hal-hal gaib bergantung pada wahyu dan pemberitahuan Allah.

Pemateri memberikan ilustrasi bahwa Rasulullah SAW pernah menghadapi pertanyaan mengenai waktu terjadinya hari kiamat. Beliau tidak mengetahui waktunya secara pasti. Demikian pula dalam peristiwa Haditsul Ifki, ketika Aisyah RA tertinggal dari rombongan dan kemudian difitnah, Rasulullah SAW tidak langsung mengetahui perkara tersebut sebelum Allah menurunkan wahyu yang menjelaskan kebenarannya.

"Kalau Rasulullah mengetahui seluruh perkara gaib, tentu peristiwa seperti itu tidak akan terjadi tanpa beliau mengetahuinya," demikian inti penjelasan Irfan.

Dengan demikian, keterbatasan manusia dalam memahami ruh bukanlah kekurangan agama, melainkan pengingat bahwa tidak semua rahasia kehidupan dapat dijangkau oleh akal dan pengalaman manusia.

Jangan membangun keyakinan dari cerita tentang perjalanan ruh

Dalam penjelasannya, Irfan juga menyinggung fenomena sebagian orang yang mengaku memahami perjalanan ruh setelah kematian. Ia menceritakan pengalamannya ketika berada di Mesir dan menjumpai orang-orang yang disebut sebagai mursyid, yang memberikan penjelasan tentang perjalanan ruh, termasuk bagaimana keadaan ruh seseorang setelah meninggal dunia.

Ada pula pandangan yang mengajarkan bahwa seseorang harus mempelajari perjalanan ruh sejak masih hidup agar mengetahui keadaan yang akan dialaminya setelah kematian.

Namun, menurut Irfan, setiap penjelasan semacam itu harus diuji dengan landasan Al-Qur'an dan hadis yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Bukan berarti setiap orang yang berbicara tentang ruh otomatis memiliki pengetahuan yang benar tentang alam gaib. Pertanyaannya, apakah ada dalil sahih yang mendasarinya?"

Ia kemudian menyebut kitab Ar-Ruh karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah sebagai salah satu rujukan yang membahas persoalan ruh. Dalam pemaparannya, ia menyinggung riwayat tentang ruh orang beriman yang digambarkan seperti burung yang berada di pepohonan surga.

Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa riwayat-riwayat mengenai keadaan ruh memiliki tingkat kekuatan yang berbeda. Tidak semuanya dapat langsung dijadikan dasar keyakinan.

Dalam hal ini, perlu dibedakan pula antara hadis sahih tentang ruh para syuhada yang berada dalam bentuk burung hijau di surga sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, dengan generalisasi bahwa seluruh ruh orang beriman mengalami keadaan yang sama. Sebuah riwayat tidak boleh diperluas maknanya melampaui keterangan yang benar-benar ditunjukkannya.

Benarkah alam barzakh berada di antara langit dan bumi?

Menjawab inti pertanyaan jamaah, Irfan menyampaikan bahwa sejauh pengetahuan dan penelusuran dalil yang ia miliki, belum ditemukan hadis sahih yang secara tegas menjelaskan bahwa alam barzakh berada di antara langit dan bumi dengan gambaran sebagaimana disampaikan dalam pertanyaan tersebut.

Ia kemudian menjelaskan makna kata barzakh, yakni pembatas atau pemisah.

Al-Qur'an menggunakan istilah tersebut, antara lain dalam Surah Al-Mu'minun ayat 99–100, yang menerangkan keadaan manusia ketika kematian datang. Ketika orang yang telah meninggal meminta agar dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh, Allah menegaskan bahwa di hadapan mereka terdapat barzakh sampai hari kebangkitan.

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa terdapat batas antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah kematian. Manusia yang telah meninggal tidak dapat kembali ke kehidupan dunia untuk mengulang kesempatan yang telah berlalu.

Karena itu, memahami alam barzakh harus bertolak dari keterangan wahyu, bukan dari gambaran geografis atau spekulasi mengenai posisi ruh yang tidak memiliki dasar dalil yang jelas.

Irfan tidak menyatakan bahwa seluruh rahasia alam barzakh telah diketahui manusia. Sebaliknya, ia mengajak jamaah membedakan antara perkara yang memang diterangkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah dengan perkara yang masih berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Menghormati ulama, tetapi tetap menguji pendapat dengan dalil

Dalam bagian berikutnya, Irfan mengingatkan pentingnya bersikap adil terhadap pendapat para ulama. Menghormati ulama tidak berarti menganggap seluruh pendapat mereka pasti benar dalam setiap persoalan.

Ia mengutip prinsip yang masyhur dari Imam Malik bin Anas, bahwa setiap perkataan manusia dapat diterima ataupun ditolak, kecuali perkataan Rasulullah SAW.

Prinsip tersebut bukan ajakan untuk merendahkan ulama. Justru, hal itu merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang menempatkan dalil sebagai landasan utama dalam menentukan kebenaran.

"Semua perkataan itu bisa diambil, diterima, dan bisa ditolak, kecuali perkataan Nabi Muhammad SAW," demikian penjelasan yang disampaikan dalam kajian.

Irfan juga mengingatkan bahwa ketika seseorang menyampaikan argumentasi keagamaan, ia harus menyertakan landasan hukum yang jelas. Ia menyebut empat sumber yang menjadi rujukan dalam pembahasan hukum Islam, yakni Al-Qur'an, Sunnah, ijma, dan qiyas.

Dalam tradisi keilmuan Islam, penggunaan sumber-sumber tersebut harus disertai pemahaman terhadap kaidah dan metode pengambilan hukum yang benar.

Jangan mendahului wahyu dengan spekulasi

Pertanyaan mengenai ruh dan alam barzakh pada akhirnya membawa jamaah kepada satu pelajaran mendasar: tidak semua hal yang menarik untuk diketahui harus dijawab dengan dugaan.

Islam memberikan ruang luas bagi manusia untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, ketika berhadapan dengan perkara gaib, akal harus berjalan dalam batas-batas yang telah diterangkan wahyu.

Iman tidak menuntut manusia mengetahui seluruh rahasia Allah. Iman justru mengajarkan manusia untuk mengenali batas pengetahuannya, menerima kebenaran wahyu, dan tidak mengubah dugaan menjadi keyakinan agama.

Melalui dialog tersebut, Kajian Senin Sore Majelis Tabligh PDM Kota Denpasar menghadirkan pelajaran bahwa kedalaman beragama tidak diukur dari banyaknya cerita tentang alam gaib yang dapat disampaikan seseorang, tetapi dari ketepatan memahami dalil, kehati-hatian dalam berbicara, serta kesediaan menempatkan kebenaran di atas pendapat pribadi.

Sebab, dalam perkara yang tidak terlihat oleh mata, seorang muslim tidak sedang dituntut untuk mereka-reka rahasia kehidupan setelah kematian. Ia dituntun untuk beriman kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya terangkan.

 (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'