Detail Artikel

Di Tengah Panas Jumat, Ustaz Sahdan Ajak Jamaah Menjemput Rahmat Allah dengan Sabar dan Shalat

Di Tengah Panas Jumat, Ustaz Sahdan Ajak Jamaah Menjemput Rahmat Allah dengan Sabar dan Shalat

Khutbah di Musholla KH Ahmad Dahlan: Musibah adalah Ketentuan Allah, tetapi Manusia Tetap Wajib Berikhtiar dan Memperbaiki Diri

DENPASAR, SuaraUmat.id – Matahari siang terasa cukup terik pada Jumat, 18 September 2026. Udara di luar musholla terasa panas, tetapi suasana di dalam Musholla KH Ahmad Dahlan justru menghadirkan kesejukan yang berbeda. Bukan hanya karena ruang ibadah yang nyaman, tetapi juga karena kehangatan jamaah yang datang menunaikan kewajiban Jumat.

Musholla yang berdiri dua lantai itu tampak tertata dan nyaman. Takmir menyambut jamaah dengan ramah, area parkir diatur dengan tertib dan aman, sementara hidangan Jumat Berkah menanti selepas ibadah. Tidak mewah, hanya nasi bungkus sederhana, tetapi terasa istimewa karena diberikan dengan ketulusan.

Pada kesempatan tersebut, Ustaz Sahdan bertindak sebagai khatib. Khutbahnya mengajak jamaah merenungkan satu kenyataan yang tak mungkin dihindari manusia: kehidupan selalu berisi ujian. Ada kesenangan yang menguji rasa syukur, ada kesulitan yang menguji kesabaran.

Pesan itu menjadi benang merah khutbah Jumat yang disampaikannya. Ia mengajak jamaah untuk tidak melihat musibah semata-mata sebagai kesulitan, melainkan sebagai ruang untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan memperbaiki kualitas kehidupan.

Syukur Dimulai dari Kesadaran bahwa Hidup adalah Karunia

Ustaz Sahdan mengawali khutbah dengan mengingatkan jamaah tentang nikmat Allah yang sering kali hadir tanpa disadari.

Kemampuan untuk bernapas, bergerak, berpikir, hingga langkah kaki yang mengantarkan seseorang menuju masjid merupakan bagian dari karunia Allah.

Menurutnya, kehadiran seseorang di rumah Allah bukan semata-mata karena kekuatan dirinya. Ada petunjuk dan kemudahan dari Allah yang membuat hati tergerak untuk datang beribadah.

Karena itu, seorang Muslim semestinya tidak pernah berhenti bersyukur.

Syukur bukan hanya ucapan di bibir, melainkan kesadaran bahwa seluruh nikmat yang diterima manusia pada hakikatnya merupakan amanah dari Allah.

Dari kesadaran itulah lahir sikap rendah hati. Manusia tidak lagi memandang keberhasilan sebagai hasil kekuatannya sendiri, tetapi sebagai karunia yang patut dipertanggungjawabkan.

Ketika Musibah Datang, Sabar Menjadi Jalan Pertama

Dalam khutbahnya, Ustaz Sahdan mengingatkan jamaah bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Musibah dapat datang dalam berbagai bentuk. Ada persoalan yang menimpa kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungan yang lebih luas.

Dalam keadaan demikian, Islam mengajarkan manusia untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana memohon pertolongan Allah.

Ia menekankan bahwa seorang mukmin tidak seharusnya langsung tenggelam dalam kepanikan ketika menghadapi musibah.

Sabar bukan berarti pasif. Sabar adalah kemampuan menahan diri, menerima kenyataan dengan kesadaran iman, kemudian mencari jalan keluar dengan tetap berada dalam tuntunan Allah.

"Ketika mendapatkan musibah, terima dulu dengan sabar. Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas izin Allah," pesan Ustaz Sahdan dalam khutbahnya.

Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha

Salah satu bagian penting khutbah tersebut adalah penjelasan mengenai takdir.

Ustaz Sahdan mengingatkan bahwa berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat manusia berhenti berusaha.

Justru karena manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya, maka ia diperintahkan untuk terus melakukan ikhtiar.

"Apapun yang menimpa kita, baik berupa kesenangan maupun ketidaksukaan, itu adalah ketentuan Allah. Tapi bukan berarti manusia tidak berusaha," tuturnya.

Di sinilah keseimbangan iman menemukan maknanya.

Manusia menerima apa yang telah terjadi dengan sabar, tetapi tetap berusaha memperbaiki keadaan. Kesulitan tidak dijadikan alasan untuk menyerah, melainkan pemacu untuk mencari jalan yang lebih baik.

Shalat, Titik Pertemuan Hamba dengan Allah

Setelah mengingatkan tentang sabar, Ustaz Sahdan membawa jamaah kepada satu ibadah yang menjadi penyangga utama kehidupan seorang Muslim: shalat.

Menurutnya, shalat merupakan hubungan langsung seorang hamba dengan Allah. Ketika menghadapi persoalan, manusia membutuhkan tempat untuk mengadu, memohon kekuatan, dan menenangkan hati.

Tempat itu adalah hubungan spiritual dengan Allah.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga shalat karena kualitas ibadah tersebut memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan. Di dalamnya terdapat ketundukan, pengakuan atas kelemahan diri, sekaligus pengharapan kepada Zat Yang Maha Kuasa.

Karena itu, ketika kehidupan terasa berat, seorang Muslim tidak boleh menjauh dari shalat.

Justru ketika masalah datang, hubungan dengan Allah harus semakin kuat.

Setiap Manusia Pasti Menghadapi Ujian

Ustaz Sahdan kemudian mengingatkan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Allah menguji manusia dengan berbagai keadaan. Ada yang diuji melalui rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, persoalan kehidupan, maupun kehilangan sesuatu yang dicintai.

Sebaliknya, kesenangan pun merupakan ujian.

Kekayaan, kesehatan, kedudukan, kelapangan rezeki, dan berbagai kenikmatan dunia juga dapat menjadi ujian tentang bagaimana manusia menggunakan nikmat tersebut.

Karena itu, ukuran ujian tidak selalu berupa kesulitan.

Kadang manusia diuji melalui sesuatu yang sangat diinginkannya.

Di situlah syukur diperlukan.

Sementara ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang, kesabaran menjadi penyangga jiwa.

Sabar Mengubah Cara Manusia Memandang Kesulitan

Bagi Ustaz Sahdan, sabar bukan sekadar menunggu masalah berlalu.

Sabar merupakan cara seorang mukmin membangun kekuatan batin.

Kesulitan yang dihadapi dengan kesabaran dapat menjadi pengalaman yang membuat seseorang lebih matang. Persoalan dapat mengajarkan manusia untuk lebih dekat kepada Allah, lebih menghargai nikmat, serta lebih peka terhadap kesulitan orang lain.

Ia mengajak jamaah agar tidak mudah berputus asa ketika menghadapi persoalan.

Sebab, apa yang tampak berat pada hari ini belum tentu menjadi akhir dari perjalanan.

Dengan kesabaran, doa, shalat, dan ikhtiar, jalan keluar dapat ditemukan dengan pertolongan Allah.

Takwa Tidak Mengenal Waktu dan Tempat

Dalam khutbah bagian kedua, Ustaz Sahdan kembali mengingatkan pentingnya takwa.

Takwa, katanya, bukan sikap yang hanya muncul ketika berada di masjid atau ketika mengikuti pengajian.

Takwa harus menyertai manusia di mana pun ia berada.

Di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat, seorang Muslim tetap harus menjaga hubungannya dengan Allah.

Dengan demikian, agama tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi menjelma menjadi akhlak dan perilaku.

Dosa Tidak Harus Menjadi Akhir Perjalanan

Ustaz Sahdan juga mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan.

Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, ketika seseorang menyadari telah melakukan dosa, ia tidak seharusnya larut dalam kesalahan tersebut.

Pintu taubat tetap terbuka.

Taubat, menurutnya, bukan hanya mengucapkan penyesalan, tetapi juga berhenti dari kesalahan dan melakukan perbaikan.

Kesalahan masa lalu semestinya menjadi pelajaran, bukan alasan untuk terus mengulang perbuatan yang sama.

"Setelah bertaubat, jangan tetap berada di situ. Lakukan perbaikan," pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.

Memilih Lingkungan yang Menjaga Akhlak

Pesan lain yang ditekankan Ustaz Sahdan adalah pentingnya lingkungan pergaulan.

Manusia dapat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan membangun pergaulan bersama orang-orang yang memiliki akhlak baik.

Setelah seseorang meninggalkan kebiasaan buruk, ia tidak seharusnya kembali ke lingkungan yang justru mendorongnya mengulangi kesalahan.

Perubahan membutuhkan lingkungan yang mendukung.

"Kalau kamu bergaul, bergaullah dengan orang-orang yang berakhlak mulia," ujarnya.

Jumat yang Sederhana, tetapi Sarat Makna

Khutbah Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan siang itu berlangsung dalam suasana sederhana.

Di luar, udara Denpasar terasa panas. Namun di dalam musholla, kesejukan terasa melalui suasana ibadah dan kebersamaan jamaah.

Usai shalat, kesederhanaan kembali menemukan maknanya. Nasi bungkus dalam hidangan Jumat Berkah mungkin tidak dapat dibandingkan dengan jamuan mewah. Namun ketika diberikan dengan ikhlas dan dinikmati dalam suasana persaudaraan, makanan sederhana itu terasa memiliki nilai yang jauh lebih dalam.

Keramahan takmir, parkir yang tertib, ruang ibadah dua lantai yang nyaman, serta hidangan Jumat Berkah menjadi bagian kecil dari wajah keberagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, khutbah Ustaz Sahdan membawa jamaah pada satu pesan sederhana namun mendasar: manusia tidak pernah lepas dari ujian.

Ada saatnya bersyukur. Ada saatnya bersabar. Ada saatnya memperbaiki diri. Dan dalam seluruh keadaan itu, hubungan dengan Allah tidak boleh terputus.

Sebab kehidupan bukan tentang bagaimana manusia menghindari seluruh persoalan, melainkan bagaimana ia menghadapi setiap persoalan dengan iman, kesabaran, ikhtiar, shalat, taubat, dan akhlak yang baik.

Dari sebuah musholla yang sederhana, pesan itu terasa begitu dekat: ketika dunia menghadirkan panas dan berbagai ujian, seorang mukmin selalu memiliki jalan untuk kembali kepada kesejukan rahmat Allah.

 (RAYD)  Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'