DIGITALISASI DAN HARGA SEBUAH KESIAPAN: ANTARA AKSES, KUALITAS, DAN KETERTINGGALAN
DIGITALISASI DAN HARGA SEBUAH KESIAPAN: ANTARA AKSES, KUALITAS, DAN KETERTINGGALAN
SUARAUMAT.ID — Di tengah gelombang digitalisasi yang kian menguat, dunia pendidikan berhadapan dengan sebuah kepastian yang tak dapat ditunda: perubahan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan yang menuntut kesiapan. Namun, perubahan tidak pernah datang dalam ruang hampa. Ia membawa peluang sekaligus beban—menguji sejauh mana manusia mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang bergerak cepat.
Dalam lanjutan wawancara bersama Radio Megantara Bali, Dr. Dadang menegaskan satu hal yang kerap terabaikan dalam euforia teknologi: nilai-nilai kemanusiaan dan karakter tidak boleh tersisih oleh kecanggihan digital. Justru di tengah dunia yang semakin virtual, fondasi moral harus semakin diperkuat.
Namun, ketika berbicara tentang kesiapan, realitas tidak sesederhana wacana.
Dunia digital, sebagaimana dunia ekonomi, memiliki strata yang tak terelakkan: ada yang murah, ada yang menengah, dan ada yang mahal. Dalam banyak kasus, kualitas berjalan seiring dengan harga—meski tidak selalu mutlak demikian.
“Biasanya yang berkualitas itu yang mahal, yang lebih murah kualitasnya relatif lebih rendah,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tidak menutup ruang optimisme. Dalam lanskap digital yang terus berkembang, hadir berbagai mekanisme yang memungkinkan akses lebih luas—mulai dari uji coba gratis hingga promosi layanan. Digitalisasi, pada akhirnya, tidak hanya bergerak menuju kecanggihan, tetapi juga menuju keterjangkauan.
Ia menggambarkan transformasi ini melalui ilustrasi sederhana namun kuat: evolusi komunikasi. Dahulu, satu pesan singkat memiliki biaya yang tidak kecil. Kini, komunikasi berlangsung tanpa batas biaya melalui jaringan internet.
Dari situ tampak satu pola yang tak terbantahkan: teknologi selalu bergerak menuju inklusivitas.
Digitalisasi, dalam hakikatnya, memiliki kecenderungan yang sama:
mempermurah yang mahal, menyederhanakan yang rumit, dan mendekatkan yang jauh. Apa yang dahulu eksklusif, perlahan berubah menjadi kebutuhan yang dapat dijangkau oleh banyak orang.
Namun, proses menuju keterjangkauan itu tidak terjadi seketika. Pada fase awal, biaya dan adaptasi kerap menjadi penghalang. Dan di titik inilah dunia pendidikan diuji.
Lembaga pendidikan tidak lagi cukup menjadi penonton. Ia harus hadir sebagai pelaku—mengambil bagian dalam arus perubahan, bukan sekadar mengikutinya dari belakang. Adaptasi, inovasi, dan keberanian menjadi syarat utama untuk tetap relevan.
Dalam nada yang tegas, Dr. Dadang mengingatkan:
ketertinggalan bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata bagi mereka yang menolak bertransformasi.
“Kalau tidak mengambil bagian dalam digitalisasi, mereka akan ketinggalan kereta.”
Ungkapan ini bukan sekadar metafora retoris. Ia adalah gambaran konkret tentang dunia yang bergerak tanpa jeda. Zaman tidak menunggu keraguan. Ia hanya memberi ruang bagi mereka yang siap melangkah.
Di titik ini, makna kesiapan menjadi lebih dalam. Ia tidak berhenti pada kepemilikan perangkat atau akses teknologi. Kesiapan adalah soal mentalitas—tentang keterbukaan, keberanian, dan kesediaan untuk berubah.
Pendidikan, pada akhirnya, bukan hanya proses transfer pengetahuan. Ia adalah proses pembentukan manusia yang mampu membaca zaman dan menyesuaikan diri dengannya. Dan dalam era digital, kemampuan adaptasi menjadi penentu utama keberlangsungan.
Namun di atas semua itu, ada satu kesadaran yang tidak boleh luntur:
manusia tetap menjadi pusat dari segala kemajuan teknologi.
Teknologi, seberapa pun canggihnya, tidak memiliki arah tanpa manusia yang mengendalikannya. Ia membutuhkan nilai, membutuhkan etika, membutuhkan akhlak sebagai kompas.
Di sanalah keseimbangan itu diuji—antara akses dan kualitas, antara kemajuan dan ketertinggalan, antara teknologi dan kemanusiaan.
Sebuah persimpangan yang akan menentukan arah peradaban: apakah digitalisasi menjadi jembatan menuju kemajuan, atau justru jurang yang memperlebar ketimpangan.(RAYD)



