Detail Artikel

Doa Lintas Bahasa dalam Balutan Kearifan Lokal: Wajah Moderasi Beragama di Halalbihalal MUI Badung

Doa Lintas Bahasa dalam Balutan Kearifan Lokal: Wajah Moderasi Beragama di Halalbihalal MUI Badung

Mangupura — Rangkaian Halalbihalal dan pengukuhan kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung periode 2026–2031 mencapai puncak spiritualnya melalui pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Mohammad Anwar Hamid, S.Pd.I. Suasana yang semula penuh dinamika seremoni, seketika berubah menjadi khusyuk, ketika lantunan doa mengalir dalam balutan tiga bahasa: Bali halus, Indonesia, dan Arab.

Keunikan ini bukan sekadar estetika linguistik, melainkan representasi nyata dari praktik moderasi beragama yang hidup di tengah masyarakat Bali. Doa tidak hanya dipanjatkan sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai jembatan budaya yang menyatukan nilai-nilai lokal dan universal.

Dalam pembukaannya, KH. Mohammad Anwar Hamid menyapa para tamu undangan dengan bahasa Bali halus, sebuah bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal dan tradisi masyarakat setempat. Sapaan tersebut mencerminkan adab dan etika komunikasi yang tinggi, sekaligus menegaskan bahwa Islam hadir dengan wajah yang ramah dan kontekstual.

Lebih dari itu, ia juga mengartikulasikan makna Surah Al-Fatihah dalam bahasa Bali halus, menghadirkan pemahaman yang lebih dekat dan membumi bagi para hadirin. Langkah ini menjadi simbol bahwa ajaran Islam dapat diterjemahkan ke dalam bahasa budaya tanpa kehilangan esensi spiritualnya.

Memasuki inti doa, KH. Mohammad Anwar Hamid memadukan bahasa Arab sebagai bahasa liturgis, dengan bahasa Indonesia sebagai medium pemersatu nasional. Ia memanjatkan harapan agar para pemimpin bangsa, dari tingkat pusat hingga daerah, senantiasa diberikan kekuatan dan kesehatan lahir batin dalam menjalankan amanah.

“Ya Tuhan, jadikan para pemimpin kami mampu menjalankan tugas dengan adil, sama rata, sama rasa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” demikian salah satu penggalan doa yang menggema di ruang acara.

Doa tersebut juga menekankan pentingnya persatuan dan keberlanjutan harmoni sosial. Harapan agar nilai-nilai kebersamaan terus tumbuh hingga generasi mendatang menjadi penutup yang menyentuh, sekaligus mengikat seluruh hadirin dalam satu ikatan spiritual yang kuat.

Pembacaan doa ini menjadi cermin bahwa moderasi beragama bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang hidup dalam keseharian umat. Perpaduan bahasa, nilai, dan budaya menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya ekspresi keagamaan.

Di tengah tantangan global yang kerap menguji kohesi sosial, pendekatan seperti ini menjadi relevan dan mendesak. MUI Badung, melalui momentum ini, tidak hanya menegaskan perannya sebagai penjaga nilai keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak harmoni lintas budaya.

Dengan demikian, Halalbihalal ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga panggung pembelajaran kolektif tentang bagaimana agama dapat hadir secara inklusif, adaptif, dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.

Di sinilah letak kekuatan sejati moderasi beragama: ketika nilai ilahiah dan kearifan lokal berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang tidak hanya terasa, tetapi juga mengakar.

(AMBAR & RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'