Dosen Itu Tewas di Tengah Gurun, Menuju Rumah Tuhan: Seperti Hidangan Mandhi yang membakar hati
Dosen Itu Tewas di Tengah Gurun, Menuju Rumah Tuhan: Seperti Hidangan Mandhi yang Membakar Hati
Namanya SM. Seorang dosen dari sebuah universitas Islam di Madura. Di mata dunia, mungkin ia hanya sebutir beras dalam sekian karung manusia. Namun, di matanya sendiri, ia seorang musafir yang sedang mencari jalan pulang ke rumah Tuhan. Ia mengerti bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual, tapi ziarah penuh cinta—seperti sepiring nasi mandhi yang tak sekadar mengenyangkan, melainkan menyatukan rempah-rempah rasa dan hati.
Ia hanya membawa visa ziarah multiple, bukan visa haji resmi. Dalam logika dunia, ini seperti mencoba memasuki dapur istana hanya dengan tiket pasar malam. Namun, apakah Tuhan, Sang Pemilik Langit dan Bumi, akan menolak seorang tamu hanya karena tak membawa undangan resmi? Bukankah cinta kepada-Nya lebih harum daripada rempah za’atar dan kapulaga yang menguar dari panci besar mandhi?
SM dan beberapa saudaranya menumpang taksi gelap yang menyusuri gurun Jumum, seperti rempah yang menembus panas oven tandur. Matahari memanaskan pasir, menciptakan aroma getir layaknya daging kambing yang terlalu lama dibakar. Sopir taksi gelisah; drone militer Saudi mengitari langit, seperti rempah pedas yang menusuk lidah. Takut ditangkap, ia menurunkan mereka di tengah padang yang hanya berisi debu dan angin.
Di sinilah, takdir bertemu dengan SM. Tubuhnya lemah oleh dehidrasi, tapi semangatnya tetap menyala seperti arang di dasar oven. Ia bukan lagi dosen. Bukan turis. Bukan jamaah resmi. Ia hanyalah manusia yang ingin memeluk Tuhan dengan cinta yang lebih hangat dari minyak samin pada nasi kebuli. Ia rebah, lalu senyap. Tubuhnya ditemukan oleh patroli drone, teknologi manusia yang tak sanggup membaca getaran hati.
Kemenag Pamekasan bungkam. Kepala kantornya memilih diam, seolah kisah ini harus disembunyikan seperti bumbu rahasia masakan yang tak boleh dibocorkan. Namun Kepala Desa Blumbungan mengonfirmasi: SM adalah warganya. Kabar kematiannya sudah tiba lebih cepat dari jasadnya.
Arab Saudi kini bukan hanya penjaga dua tanah suci, tapi juga pengatur sistem keamanan spiritual yang ketat. Tahun ini, lebih dari 269.000 orang dicegat karena mencoba masuk Makkah tanpa izin. Namun apakah syarat cinta kepada Tuhan kini harus diverifikasi seperti memesan kebab di restoran? Bukankah keikhlasan tak pernah membutuhkan barcode?
SM mungkin wafat di padang pasir, tapi di langit, mungkin Tuhan menyambutnya seperti menyambut tamu kehormatan di meja makan penuh hidangan istimewa. Nasi mandhi, kebuli, hummus, tabbouleh, semua terhidang tanpa reservasi. Karena Tuhan tahu, siapa yang datang dengan cinta dan siapa yang hanya datang karena mampu.
Kini, SM tak perlu barcode lagi. Ia sudah tiba di hadapan-Nya. Tanpa izin, tanpa sensor, hanya dengan air mata dan cinta yang tak pernah tercatat dalam sistem manusia.
#CintaSejatiMengalirTanpaBarcode
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar ,diberi bumbu oleh Chef Raden Alit



