Detail Artikel

Dr. Dadang Hermawan: Pendidikan Islam di Era Disrupsi Harus Adaptif, Namun Tetap Berakar pada Nilai

Dr. Dadang Hermawan: Pendidikan Islam di Era Disrupsi Harus Adaptif, Namun Tetap Berakar pada Nilai

Denpasar, 9 April 2026 — Di tengah derasnya arus perubahan global yang kian tak terbendung, dunia pendidikan tidak lagi berdiri di atas fondasi yang statis. Ia bergerak, bertransformasi, dan menuntut kesiapan baru. Dalam wawancara bersama Radio Megantara Bali, Dr. Dadang Hermawan, Rektor ITB STIKOM Bali sekaligus Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Bali, memaparkan pandangan reflektif sekaligus strategis tentang masa depan pendidikan Islam di tengah gelombang disrupsi digital.

Mengawali perbincangan, ia menyampaikan sebuah pesan sederhana yang justru menjadi inti dari seluruh perubahan itu sendiri:
“Segala sesuatu boleh berubah, tetapi semangat tidak boleh hilang.”

Kalimat tersebut bukan sekadar sapaan pembuka, melainkan penegasan sikap—bahwa di tengah ketidakpastian zaman, semangat adalah jangkar yang menjaga manusia tetap tegak.


Digitalisasi: Gelombang Besar yang Mengubah Peradaban

Dalam satu dekade terakhir, menurut Dr. Dadang, dunia telah memasuki fase transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Digitalisasi tidak lagi hadir sebagai pelengkap, melainkan telah menjelma menjadi struktur utama kehidupan modern.

Perubahan itu terasa nyata dalam keseharian:

  • Cara manusia berbelanja berpindah ke ruang digital

  • Proses belajar melampaui batas ruang kelas

  • Pola kerja menjadi fleksibel dan tidak terikat tempat

  • Bahkan praktik keagamaan mengalami penyesuaian dengan teknologi

“Kantor, kelas, bahkan perpustakaan kini berada dalam genggaman. Semua terhimpun dalam satu perangkat kecil,” ujarnya.

Di titik inilah, disrupsi menjadi sebuah keniscayaan. Ia tidak menunggu kesiapan, tidak pula memberi pilihan untuk menolak.


Pendidikan Islam di Persimpangan Zaman

Dalam lanskap perubahan yang begitu cepat, pendidikan Islam menghadapi sebuah persimpangan: antara mempertahankan tradisi atau beradaptasi dengan inovasi.

Namun bagi Dr. Dadang, dikotomi itu tidak relevan.
“Era ini harus disambut, bukan dihindari. Tetapi harus disambut dengan kesiapan.”

Adaptasi, menurutnya, bukan berarti meninggalkan jati diri. Justru sebaliknya, pendidikan Islam harus hadir sebagai kekuatan yang mampu mengintegrasikan nilai dengan teknologi. Di sinilah letak tantangan sekaligus peluangnya.


Antara Peluang yang Luas dan Ancaman yang Nyata

Digitalisasi membuka cakrawala baru dalam dunia pendidikan. Akses terhadap ilmu menjadi lebih luas, cepat, dan nyaris tanpa batas. Pembelajaran tidak lagi bergantung pada kehadiran fisik, melainkan pada kemauan dan kemandirian individu.

Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan risiko yang tidak kecil:

  • Penyalahgunaan teknologi

  • Penyebaran informasi yang tidak terverifikasi

  • Melemahnya kualitas interaksi sosial dan spiritual

“Digitalisasi adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi kekuatan besar, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak diarahkan,” tegasnya.


Literasi Digital: Kunci Menjaga Arah

Dalam menghadapi kompleksitas tersebut, Dr. Dadang menekankan pentingnya literasi digital yang tidak berhenti pada aspek teknis semata.

“Yang terpenting bukan hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi memahami bagaimana menggunakannya secara bijak.”

Di sinilah pendidikan Islam memegang peran strategis. Ia bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menjaga arah moral generasi muda.

Integrasi antara kecanggihan teknologi dan kekuatan akhlak menjadi fondasi utama agar kemajuan tidak berujung pada kehilangan arah.


Menjaga Akar, Menyongsong Masa Depan

Di akhir perbincangan, Dr. Dadang menyampaikan ajakan yang bersifat kolektif—sebuah seruan bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya umat Muslim di Bali, untuk tidak bersikap alergi terhadap perubahan.

Sebaliknya, perubahan harus dijadikan sebagai momentum untuk bertumbuh.

“Kita harus adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap kokoh dalam nilai.”

Pesan itu mengalir sebagai refleksi yang dalam: bahwa kemajuan bukan sekadar soal kecepatan mengikuti zaman, melainkan tentang kemampuan menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai.

Dari Denpasar, suara itu bergema sebagai pengingat—
bahwa pendidikan Islam tidak boleh sekadar menjadi penonton di tengah arus disrupsi. Ia harus tampil sebagai pelaku utama: membimbing, mengarahkan, dan memastikan bahwa setiap langkah kemajuan tetap berpijak pada nilai-nilai kebaikan.(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'