Detail Artikel

Dr. Dadang Hermawan: Pendidikan Tinggi Kunci Bali yang Damai, Cerdas, dan Sejahtera

Dr. Dadang Hermawan: Pendidikan Tinggi Kunci Bali yang Damai, Cerdas, dan Sejahtera

SUARAUMAT.ID, Denpasar, 9 April 2026 — Di penghujung wawancara bersama Radio Megantara Bali, sebuah gagasan besar mengemuka dalam narasi yang tenang namun sarat makna. Dr. Dadang Hermawan, Rektor ITB STIKOM Bali, menegaskan satu hal yang kerap terabaikan di tengah gemerlap pembangunan: masa depan Bali tidak ditentukan oleh apa yang tampak, melainkan oleh kualitas manusianya.

Dalam refleksi yang mengalir jernih, ia mengaitkan cita-cita menghadirkan Bali yang damai, aman, cerdas, dan sejahtera dengan satu fondasi utama yang tak tergantikan—pendidikan.

“Kemakmuran suatu daerah sangat berkaitan dengan tingkat pendidikan masyarakatnya.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika, melainkan kesimpulan dari realitas global yang telah terbukti. Dalam pandangannya, pendidikan dan kesejahteraan adalah dua entitas yang berjalan seiring, saling menguatkan, dan tidak dapat dipisahkan.


Pendidikan dan Kesejahteraan: Relasi yang Linear

Dr. Dadang memaparkan bahwa negara-negara maju telah lebih dahulu membuktikan korelasi tersebut. Proporsi masyarakat berpendidikan tinggi—khususnya pada jenjang sarjana—telah mencapai 60 hingga 70 persen. Angka ini menjadi indikator kuat bagaimana pendidikan berperan sebagai mesin penggerak kemajuan.

Sebaliknya, Indonesia masih berada pada kisaran 20 hingga 30 persen. Sebuah angka yang, menurutnya, menunjukkan bahwa tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia masih terbentang luas.

“Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan masyarakatnya.”

Kalimat itu menjadi penegasan bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan arah peradaban.


Seruan untuk Generasi Muda Bali

Di tengah realitas tersebut, Dr. Dadang menyampaikan ajakan yang bersifat terbuka sekaligus mendalam. Ia mengundang generasi muda Bali—termasuk komunitas Muslim—untuk tidak berhenti pada pendidikan menengah.

“Mari kita berlomba-lomba meningkatkan kapasitas diri. Setelah lulus SMA, SMK, atau madrasah, lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.”

Ajakan ini tidak hanya berlandaskan kebutuhan zaman, tetapi juga berpijak pada kesadaran spiritual. Menuntut ilmu, dalam perspektifnya, bukan sekadar pilihan rasional, melainkan bagian dari ibadah yang tidak mengenal batas waktu.

“Mencari ilmu itu merupakan kewajiban sepanjang hayat.”

Di titik ini, pendidikan menemukan dimensi yang lebih luas—bukan hanya sebagai alat mobilitas sosial, tetapi sebagai jalan pembentukan manusia seutuhnya.


Membuka Akses, Menyediakan Jalan

Sebagai bentuk komitmen nyata, ITB STIKOM Bali tidak berhenti pada wacana. Berbagai jalur pendidikan telah disiapkan untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas dan inklusif.

Mulai dari pendidikan formal hingga jalur alternatif seperti:

  • Pendidikan nonformal dan informal

  • Program pelatihan keterampilan (LKP)

  • Program pengakuan pembelajaran lampau (RPL)

Seluruh inisiatif ini dirancang dengan satu tujuan utama: membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkembang, tanpa terhalang oleh latar belakang.

“Kami ingin memastikan setiap individu memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh eksklusif. Ia harus hadir sebagai jembatan, bukan sekat.


Membangun Bali dari Manusianya

Di akhir perbincangan, Dr. Dadang menempatkan pendidikan dalam kerangka yang lebih besar—sebagai fondasi pembangunan yang sesungguhnya.

Bali, dalam pandangannya, tidak cukup dibangun melalui infrastruktur atau sektor ekonomi semata. Ia harus dibangun dari dalam—dari kualitas manusia yang menggerakkannya.

Masyarakat yang terdidik akan melahirkan:

  • stabilitas sosial,

  • keamanan yang terjaga,

  • serta produktivitas yang berkelanjutan.

Dari sanalah kesejahteraan menemukan pijakannya yang kokoh.

“Jika kita ingin Bali yang damai dan maju, maka investasinya harus pada pendidikan manusia itu sendiri.”


Dari Denpasar, pesan itu mengalir dengan kesederhanaan yang justru menguatkan maknanya. Bahwa masa depan Bali tidak semata dibangun oleh beton dan infrastruktur, melainkan oleh ilmu, kesadaran, dan ketekunan untuk terus belajar.

Sebuah pengingat bahwa peradaban besar selalu lahir dari manusia yang terdidik—bukan sekadar terampil, tetapi juga sadar akan arah dan tujuan hidupnya.(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'